Kontemporer Ibadah Kurban

image

Oleh : Ustadz Abu Ibrahim Muhammad Ali A.M.

Ibadah kurban termasuk syi’ar Islam dan mengagungkan syi’ar Islam termasuk ketakwaan. Allah ta’ala berfirman,

ﺫَﻟِﻚَ ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻌَﻈِّﻢْ ﺷَﻌَﺎﺋِﺮَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻓَﺈِﻧَّﻬَﺎ ﻣِﻦْ ﺗَﻘْﻮَﻯ ﺍﻟْﻘُﻠُﻮﺏ

Demikianlah, barangsiapa yang mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. al-Hajj [22]: 33)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat memperhatikan masalah kurban. Oleh karenanya, beliau menyembelih domba-domba pilihan, domba yang besar, gemuk, bertanduk, berbadan bagus, dan yang benar-benar tampak kejantanannya. Beliau pun menyembelih hewan kurbannya dengan tangannya sendiri [1].

Dalam makalah ini dibahas beberapa masalah penting yang sering muncul, dengan harapan ibadah kurban kita menjadi lebih baik.

MENGUSAP DARAH SEMBELIHAN KE BADAN BINATANG

Ada sebuah kebiasaan yang sering dilakukan oleh para penyembelih binatang kurban, yaitu setelah menyembelih leher binatang dengan pisau, lalu pisau yang berlumuran darah itu diusapkan ke badan hewan yang telah disembelih.

Jika yang dilakukan itu hanya kebiasaan semata, atau dilakukan dengan maksud membersihkan darah bekas sembelihan yang ada pada pisau, maka tidak ada masalah. Akan tetapi, jika ada suatu keyakinan yang mendasari perbuatan ini, dan menganggap perbuatan ini lebih baik daripada ditinggalkan, atau meyakini ini termasuk sunnah, maka perbuatan ini menjadi bid’ah dalam agama.

Lajnah Daimah ditanya hukum mengusapkan darah ke badan hewan dengan keyakinan bahwa ini adalah perbuatan para sahabat Nabi Ibrahim Alaihissallam, maka Lajah menjawab : “Mengusapkan darah ke badan hewan sembelihan, kami tidak mengetahui seorang pun dari kalangan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang melakukannya. Ini adalah termasuk bid’ah sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Barangsiapa mengamalkan suatu amalan yang tidak ada dalilnya maka perbuatan itu tertolak’. Dan dalam suatu riwayat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa berbuat bid’ah dalam agama ini yang tidak termasuk darinya, maka amalan itu tertolak’. (HR. al-Bukhari dan Muslim).” [2]

HUKUM MEWAKILKAN KURBAN

Pemilik binatang kurban menyembelih sendiri sembelihannya jika ia mampu, itulah salah satu yang disunnahkan dalam berkurban sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berkurban.

Anas bin Malik radhiyallahu anhu menerangkan :

ضَحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ ذَجَحَهُمَا بِيَدِهِ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelih dua ekor domba yang bagus lagi bertanduk. Beliau menyembelih sendiri dengan tangannya.” (HR. al-Bukhari, 5139 dan Muslim, 3635)

Akan tetapi, jika ada keperluan maka boleh mewakilkan kepada orang lain [3]. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mewakilkan sembelihannya kepada sahabatnya. Dalam sebuah hadits yang panjang tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggiring unta-untanya menuju Makkah untuk disembelih.

Jabir bin Abdullah radhiyallahu anhuma mengatakan :

فَنَحَرَ ثَلاَثًا وَسَتَّيْنَ بِيَدِهِ ثُمَّ أَعْطَى عَلِيَّا فَنَحَرَمَا غَبَرَ

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelih dengan tangannya sendiri 63 ekor (dari 100 ekor untanya), kemudian menyerahkan sisanya kepada Ali radhiyallahu anhu untuk disembelih.” (HR Muslim, 2137)

Demikianlah, bagi pemilik hewan kurban jika punya udzur seperti sakit, lemah karena tua, tidak mengetahui cara menyembelih, orang buta, dan kaum wanita, maka boleh mewakilkannya kepada orang lain, bahkan lebih utama.

SAPI ATAU KAMBING YANG LEBIH UTAMA?

Urutan yang paling afdhal (utama) dalam berkurban masih diperselisihkan oleh para Ulama. Sebagian mengatakan kambing lebih utama kemudian sapi urutan kedua dan unta urutan ketiga, pendapat ini adalah pendapat Imam Malik, dilandasi oleh kebanyakan kurbannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah dengan kambing/domba.

Sementara itu, pendapat yang lain mengatakan bahwa unta lebih utama jika mampu, lalu urutan kedua sapi, dan urutan ketiga kambing. Ini adalah pendapat yang lebih kuat dan ini adalah pendapat Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi’i. Pendapat ini dilandasi beberapa dalil, di antaranya [4] :

1). Urutan binatang kurban dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang keutamaan berpagi-pagi mendatangi shalat Jum’at dimulai dengan unta, lalu sapi, kemudian kambing.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

من اغتسل يوم الجمعةغسل الجنابة ثم راح فكأنماقرب بدنةومن راح في الساعةالثانية فكأنماقرب بقرة ومن راح في الساعةالثالثةفكأ نماقرب كبثاأقرن …

Barangsiapa mandi pada hari jum’at, kemudian pergi (shalat jum’at) pada saat pertama maka seakan-akan ia berkurban unta, barangsiapa pergi pada saat kedua maka seakan-akan ia berkurban seekor sapi, barangsiapa pergi pada saat ketiga maka seakan-akan ia berkurban seekor kambing…” (HR. al-Bukhari, 832 dan Muslim, 1403)

2). Binatang onta lebih besar, lebih mahal dan lebih banyak dagingnya sehingga lebih bermanfaat buat kaum muslimin.

3). Adapun kondisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkurban dengan kambing/domba, maka ini dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meringankan umatnya karena tidak semua orang mempunyai unta, tetapi banyak manusia memiliki kambing.

ARISAN KURBAN

Jika seseorang mengikuti arisan kurban maka ketika mendapat bagian arisannya dia segera berkurban dan mengangsur sisa biaya kurbannya sampai lunas. Jika demikian maka berarti sama dengan berhutang untuk kurban. Adapun kemungkinan baginya mendapat bagian yang paling akhir sehingga sama dengan menabung, maka ini adalah kemungkinan yang sangat kecil.

Dalam islam, tidak pernah ada anjuran berhutang untuk menjalankan perintah agama baik untuk perkara yang sunnah maupun yang wajib; sama halnya dengan hal itu adalah berhutang untuk haji

Syaikh Ibnu Utsaimin ketika ditanya tentang orang yang berhutang untuk suatu kewajiban seperti ibadah haji, beliau menjawab,

“Sebaiknya dia tidak melakukan hal itu, karena manusia tidak wajib menunaikan haji jika memiliki tanggungan hutang, bagaimanakah jika berhutang untuk pergi haji (lebih tidak wajib lagi). Maka aku tidak menyarankan berhutang untuk haji, karena haji tidak wajib jika kondisinya seperti ini (belum mampu); dan oleh karenanya, sebaiknya dia menerima rukhshah (keringanan) dari Allah dan keluasan rahmat-Nya, dan tidak boleh membebani diri dengan berhutang padahal dia belum tentu bisa melunasinya. Bisa saja dia mati sehingg tidak dapat melunasi tanggungan hutangnya.” (Majmu’ Fatawa Syaikh Ibnu Utsaimin, 21/93)

DAGING KURBAN UNTUK ORANG KAFIR

Lajnah Da’imah ketika ditanya masalah ini menjawab [5]: Boleh memberikan daging kurban untuk orang kafir mu’ahad (orang kafir yang mengikat perjanjian damai dengan kaum muslimin -red) dan tawanan yang masih kafir, baik karena mereka miskin, kerabat, tetangga, atau sekedar melunakkan hati mereka, karena ibadah kurban itu intinya adalah menyembelihnya untuk mendekatkan diri kepada Allah dan ibadah kepada-Nya.

Adapun dagingnya, maka yang paling afdhal adalah dimakan pemiliknya sepertiga, diberikan kepada kerabat, tetangga dan sahabatnya sepertiga, kemudian disedekahkan buat fakir miskin sepertiga.

Seandainya pembagiannya tidak rata, atau sebagian yang lain merasa cukup (sehingga yang lain tidak mendapatkan daging kurban) maka tidak mengapa; di dalam permasalahan ini ada keluasan. Akan tetapi, daging kurban tidak boleh diberikan kepada orang kafir harbi (yang memerangi Islam) karena yang wajib (bagi orang Islam) adalah menghinakan dan melemahkan mereka, bukan menolongnya atau menguatkan mereka dengan pemberian (sedekah); demikian pula hukumnya sama dalam sedekah yang bersifat sunnah, sebagaimana keumuman firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ﴿٨﴾إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَىٰ إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ ۚ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap mereka yang tidak memerangimu karena agama (mu) dan yang tidak mengusirmu dari tempatmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. Allah hanya melarang kamu untuk menjadikan mereka yang memerangimu, mengusirmu dari tempatmu, dan membantu orang lain mengusirmu sebagai kawanmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka adalah orang-orang yang zalim.” (QS. al-Mumtahanah [60]: 8-9)

Dan juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh Asma binti Abi Bakar radhiyallahu anhuma untuk selalu menyambung (silaturahmi) dengan ibunya dengan memberinya harta, padahal ibunya masih musyrik saat masih dalam perjanjian damai [6].

BERKURBAN DI TEMPAT LAIN/NEGERI LAIN YANG LEBIH MEMBUTUHKAN

Para Ulama berbeda pendapat dalam masalah ini :

Sebagian membolehkan [7] dengan catatan jika tempat lain lebih membutuhkan; seperti ulama madzhab Hanafi, ulama madzhab Maliki, dan sebagaimana madzhab Hanbali dan Syafi’i membolehkannya, tetapi dengan syarat tidak boleh melampaui jarak musafir. [8]

Alasan pendapat ini, berkurban adalah menghidupkan sunnah, syi’ar Islam, dan memberikan keluasan kepada kaum muslimin serta membantu mereka dalam hal makanan. Jika di suatu negeri sudah banyak yang berkurban, sedangkan di negeri lain sedang membutuhkan maka termasuk hikmah adalah mengirimkan hewan kurban ke negeri lain supaya mereka merasakan juga hewan kurban, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melarang sahabatnya menyimpan daging kurban lebih dari 3 hari untuk membantu kaum muslimin yang kelaparan. Larangan ini kemudian dihapus, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa berkurban maka jangan tersisa lagi (dagingnya) pada hari ketiga di rumahnya sedikit pun”. Lalu tatkala tahun berikutnya manusia bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kita melakukan seperti tahun kemarin?” Beliau menjawab, “(Sekarang) makanlah, berikan kepada manusia, dan simpanlah, karena pada tahun yang lalu manusia dalam kesulitan (ekonomi), dan aku ingin kalian membantu mereka (dengan daging kurban).” (HR. al-Bukhari, 5567 dab Muslim, 1972)

Sebagian lain melarang, seperti Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dab Syaikh Shalih al-Fauzan. Alasan pendapat ini, berkurban adalah syari’at yang telah ditentukan tata caranya, bukan hanya sekedar membagi daging semata (sebagaimana Al-Qur’an surat al-Hajj [22]: 37). Berkurban di negeri lain menyelisihi sunnah, pemiliknya tidak dapat melaksanakan sunnah makan sebagian dagingnya, dan syi’ar Islam berupa kurban akan hilang di negara-negara yang penduduknya kaya. [9]

Menyatukan pendapat. Hendaknya seorang muslim berkurban di tempat tinggalnya, inilah yang lebih utama karena itulah yang biasa dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dab para sahabatnya. Akan tetapi, dibolehkan (Wallahu a’lam) berkurban di tempat (negeri) lain dengan syarat jika tempat lain itu lebih membutuhkan, dan di negeti asalnya tetap dilaksanakan ibadah kurban, sehingga syi’ar Islam tetap hidup. Adapun masalah perintah bagi pemilik hewan kurban untuk makan sebagian dagingnya, maka perintah ini hukumnya bukab wajib melainkan sunnah.

KURBAN ONLINE

Kurban online” adalah berkurban dengan cara mentransfer sejumlah uang sesuai dengan harga binatang kurban yang telah disepakati kepada lembaga sosial atau yang semisalnya, lalu lembaga tersebut membelikan hewan kurban, menyembelih pada waktunya dan membagikan dagingnya. Kurban semacam ini tidak jauh berbeda dengan kurban di negeri lain yang lebih membutuhkan.

Kita katakan : Hukum asalnya berkurban dilakukan dengan tangannya sendiri di negerinya sendiri, sebagian daging kurbannya dia makan, dan sebagian lainnya diberikan kepada kaum muslimin dan tidak berkurban secara online. Akan tetapi, dibolehkan kurban dengan cara online ketika ada kebutuhan yang mendesak, selagi lembaga tersebut benar-benar terpercaya, dan melaksanakan ibadah kurban sesuai aturan. Wallahu a’lam.

KURBAN DENGAN UTANG

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum berkurban dengan utang :

Pendapat pertama, membolehkan berkurban dengan cara berutang, bahkan menganjurkannya; seperti Abu Hatim, beliau pernah berutang untuk menyembelih binatang kurban dan ketika beliau ditanya, apakah ia berutang untuk binatang kurban; beliau menjawab :

إنَّ سَمِعْتُ اللّٰهَ يَقُوْ لُ: لَكُمْ فِيْهَاخَيْرٌ

“Ya, karena aku mendengar Allah berfirman, ‘Kamu akan memperoleh kebaikan yang banyak di dalamnya.‘ (QS. al-Hajj [22]: 36).” [10]

Imam Ahmad termasuk yang menyarankan berutang untuk menghidupkan sunnah, seperti aqiqah. Ketika beliau ditanya salah satu putranya tentang seorang ayah yang mempunyai anak dan belum diaqiqahi karena tidak mampu, maka beliau menjawab :

“(Dalil) yang paling kuat yang pernah aku dengar tentang aqiqah dalam hadits Hasan dari Samurah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Setiap anak yang dilahirkan tergadai dengan aqiqahnya.’ Maka aku berharap jika dia berutang (untuk aqiqah), Allah akan menggantinya sebab dia telah menghidupkan salah satu Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengikuti apa yang dibawa (Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam).” (Tuhfatul Maudud, hlm. 50-51)

Pendapat kedua, melarang berkurban dengan berutang; seperti yang difatwakan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, beliau mengatakan, “Jika seseorang punya utang maka selayaknya mendahulukan pelunasan utangnya daripada berkurban.” (asy-Syarh al-Mumti’, 7/455)

Pendapat yang kuat adalah yang kedua, yaitu dilarang berutang untuk berkurban. Hal ini dikuatkan oleh beberapa hal, di antaranya :

1). Utang harus diselesaikan lebih dahulu, karena kewajibannya mendahului.

2). Membayar utang telah disepakati oleh para ulama hukumnya wajib, sedangkan berkurban diperselisihkan antara wajib atau sunnahnya.

3). Tidak ada satu pun dalil al-Qur’an atau Sunnah yang memerintahkan berutang dalam menjalankan syari’at, bahkan kewajiban syari’at yang berkaitan dengan harta “gugur kewajibannya” (menjadi tidak wajib) jika tidak mampu, seperti zakat, haji, dan selainnya.

4). Berutang memang dibolehkan dalam Islam, tetapi tidak berutang jelas lebih baik karena lebih jauh dari ancaman bagi orang yang mati meninggalkan utang; di antara ancamannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ

Jiwa seorang mukmin bergantung pada utangnya hingga dia bayarkan.” (HR. at-Tirmidzi, 4/249. Dishahihkan oleh al-Albani dalam al-Misykat 2/158)

Catatan :

Akan tetapi, bagi yang berutang dan ia menduga kuat bisa membayarnya karena ada yang diharapkan, seperti gaji tetap dan semisalnya, maka hal itu diperbolehkan. Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah dalam penjelasan lain mengatakan : “Adapun berutang untuk aqiqah maka perlu diperinci. Jika ada yang diharapkan untuk melunasinya seperti pegawai (yang punya gaji), tatkala bertepatan dengan waktu aqiqah tidak punya uang, kemudian berutang kepada orang lain sampai mendapatkan gaji, maka tidak mengapa. Adapun jika tidak ada yang diharapkan pemasukannya maka tidak sepatutnya berutang.” (Liqa’ al-Bab al-Maftuh, 8/36)

DAGING KURBAN DIBAGIKAN SETELAH DIMASAK, BOLEHKAH?

Lajnah Da’imah pernah ditanya tentang kurban dan pembagiannya, maka jawabnya [11] : “Berkurban hukumnya sunnah kifayah, dan ulama ada yang mengatakan wajib ‘ain. Adapun masalah pembagiannya dimasak atau tidak dimasak, maka ada keluasan didalamnya, yang penting (pemiliknya memakan sebagiannya, dihadiahkan sebagiannya dan disedekahkan sebagiannya).”

KURBAN UNTUK ORANG MATI

Berkurban untuk orang mati ada 3 (tiga) kondisi [12] :

Kondisi pertama, berkurban untuk dirinya sendiri dan mengikutsertakan orang yang mati mendapat pahalanya, seperti seseorang yang menyembelih kurban untuk dirinya dan untuk keluarganya dan di antara keluarganya ada yang telah mati; ini telah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berkurban beliau mengucap :

اللّٰهُمَّ هَذَا عَنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ

Ya Allah kurban ini dari Muhammad dan keluarga Muhammad.

Dan sungguh di antara keluarga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ada yang sudah mati.

Kondisi kedua, berkurban untuk sang mayat secara tersendiri. Para ahli fiqih dari kalangan madzhab Hanbali menegaskan ini termasuk kebajikan; pahalanya akan sampai dan bermanfaat buat sang mayat, dan ini dikiaskan kepada masalah sedekah untuk mayat (sebagaimana dalam hadits yang shahih).

Para ulama tidak berpendapat bolehnya berkurban untuk sang mayat kecuali jika sebelumnya telah diwasiatkan. Akan tetapi termasuk kesalahan yang dilakukan banyak orang ialah berkurban untuk mayat tetapi mereka tidak berkurban untuk diri sendiri dab keluarganya yang masih hidup; dan akhirnya mereka meninggalkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mereka mengharamkan diri mereka untuk mendapatkan pahala kurban. Ini termasuk kebodohan. Mereka tidak mengetahui bahwa berkurban itu dianjurkan untuk dirinya dan keluarganya sehingga ini sudah mencangkup (keluarga) yang masih hidup dan telah mati, dan fadhilah Allah subhanahu wa ta’ala sangat besar.

Kondisi ketiga, berkurban untuk mayat sebab melaksanakan wasiatnya demikian, maka ini harus dilaksanakan sesuai dengan wasiatnya tanpa ditambah dan dikurangi.

Wallahu a’lam bishawab.

[Majalah Al-Furqon Edisi 04 Tahun Ketigabelas Dzulqadah 1434 H, halaman 38-43. Diterbitkan oleh Lajnah Dakwah Ma’had Al-Furqon al-Islami]

Disalin ulang oleh Esha Ardhie
Artikel elmuntaqa.wordpress.com

Catatan :

[1]. Lihat HR. al-Bukhari 1/391, Muslim no. 3635, Ahmad 2/327, Abu Dawud no. 2793, dan lainnya.

[2]. Fatwa ini ditandatangani oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz sebagai ketua, Abdurrazzaq Afifi sebagai wakilnya dan Abdullah bin Qu’ud serta Abdullah bin Ghadiyan keduanya sebagai anggota (Fatwa no. 6667).

[3]. Lihat Fiqhus Sunnah, as-Sayyid Sabiq, cet. Maktabah ar-Rusyd, 1422 H.

[4]. Lihat Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, Syaikh Abdul Aziz bin Baz 6/385, dan asy-syarhul Mumti’ Syarh Zadil Mustaqani’, karya Muhammad bin Shalih al-Utsaimin 7/458.

[5]. Fatwa Lajnah Da’imah lil Buhuts al-Imiyyah wal Ifta’ no. 1997, ditandatangani oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz sebagai ketua dan Abdullah bin Qu’ud serta Abdullah bin Ghadiyan keduanya sebagai anggota.

[6]. HR. al-Bukhari 4/126 no. 3183.

[7]. Ini dikuatkan oleh Syaikh Abdullah bin Jibrin, lihat al-Islam Su’al wa Jawab no. 82242.

[8]. Lihat al-Fiqhul Islami wa Adillatuha, Dr. Wahbah az-Zuhaili 4/273.

[9]. Lihat Fatawa Syaikh Ibnu Utsaimin dalam rekaman kaset Ahkamul Hajj bagian A, dan Majalah ad-Da’wah no. 1878.

[10]. Tafsir al-Qur’anul Azhim karya Ibnu Katsir 5/427, cet. Dar at-Tayyibah, 1425 H.

[11]. Fatwa Lajnah Da’imah 11/394, fatwa no. 9563. Ditandatangani oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz sebagai ketua, Abdurrazzaq Afifi sebagai wakilnya serta Abdullah bin Ghadiyan sebagai anggota.

[12]. Diterjemahkan dari Risalatul Udhhiyah, Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, hlm. 51.

Apakah Istri Wajib Bisa Masak?

image

Oleh : Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal

Apakah istri wajib bisa masak?

Menurut saya, istri mestinya bisa masak. Apalagi penilaian orang-orang terhadap istri yang bisa masak itu dianggap baik daripada yang tidak. Istri yang bisa masak dinilai pula sebagai wanita yang benar-benar menyenangkan suami.

Kalau demikian, wanita tersebut termasuk dalam hadits berikut.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,

قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ

Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci.

(HR. An-Nasai no. 3231 dan Ahmad 2: 251. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih).

Apakah itu berarti memasak itu wajib bagi istri?

Ini kembali ke masalah apakah mengurus pekerjaan rumah itu wajib bagi istri ataukah tidak. Menurut jumhur atau mayoritas ulama pekerjaan tersebut tidaklah wajib.

Namun pendapat yang lebih baik apakah wajib ataukah tidak, ini dilihat dari urf atau kebiasaan masyarakat. Pendapat ini dianut oleh Abul ‘Abbas Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

Apa maksudnya?

Jika masyarakat kota mungkin wajar punya pembantu. Pembantulah yang mengurus urusan rumah, mulai dari memasak, mencuci, menyetrika bahkan sampai mengurus anak. Contohnya pula di sini, di Saudi Arabia, suatu hal yang wajar jikalau kaum muslimin di sana rata-rata memiliki pembantu rumah tangga di rumahnya. Kalau memang urf atau kebiasaannya seperti itu, maka suami bisa dituntut menyediakan pembantu.

Sedangkan bagi wanita yang hidup di desa menganggap lumrah dan wajar mengerjakan itu semua seorang diri kecuali memang berat barulah dicarikan pembantu. Namun asalnya wanita pedesaan menganggap semua itu memang sudah jadi kewajibannya sebagai seorang istri. Ketika bangun pagi sudah menyajikan sarapan dan menghidangkan teh, lanjut mencuci, dan menyetrika di siang hari. Mereka pun tahu harus momong dan mengasuh anak-anak. Namun suami tetap dituntut peran sertanya oleh wanita desa untuk meringankan bebannya.

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

ثُمَّ مِنْ هَؤُلَاءِ مَنْ قَالَ: تَجِبُ الْخِدْمَةُ الْيَسِيرَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ قَالَ: تَجِبُ الْخِدْمَةُ بِالْمَعْرُوفِ، وَهَذَا هُوَ الصَّوَابُ، فَعَلَيْهَا أَنْ تَخْدُمَهُ الْخِدْمَةَ الْمَعْرُوفَةَ مِنْ مِثْلِهَا لِمِثْلِهِ، وَيَتَنَوَّعُ ذَلِكَ بِتَنَوُّعِ الْأَحْوَالِ: فَخِدْمَةُ الْبَدْوِيَّةِ لَيْسَتْ كَخِدْمَةِ الْقَرَوِيَّةِ، وَخِدْمَةُ الْقَوِيَّةِ لَيْسَتْ كَخِدْمَةِ الضَّعِيفَةِ. الفتاوى الكبرى .

“Ada ulama yang menyatakan bahwa wajib bagi istri mengurus pekerjaan rumah yang ringan. Sebagian ulama menyatakan bahwa yang wajib adalah yang dianggap oleh urf (kebiasaan masyarakat). Pendapat yang terakhir inilah yang lebih tepat. Hendaklah wanita mengurus pekerjaan rumah sesuai dengan yang berlaku di masyarakatnya, itulah yang ia tunaikan pada suami. Ini semua akan berbeda-beda tergantung kondisi. Orang badui dibanding orang kota tentu berbeda dalam mengurus rumah. Begitu pula istri yang kuat dengan istri yang lemah kondisinya berbeda pula dalam hal mengurus rumah.” (Disebutkan dalam Fatawa Al Kubro)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dalam Fatawa Nur ‘alad Darb berkata,

فعليهن مثل ما عليهم بالمعروف، ولهن ما لهم بالمعروف، وبناءً على ذلك فإننا قد نقول في وقت من الأوقات إنه يلزمها أن تخدم زوجها في الطبخ وغسيل الأواني وغسيل ثيابه وثيابها وثياب أولادها وحضانة ولدها والقيام بمصالحه، وقد نقول في وقت آخر إنه لا يلزمها أن تطبخ ولا يلزمها أن تغسل ثيابها ولا ثياب زوجها ولا ثياب أولادها حسب ما يجري به العرف المتبع المعتاد

“Istri punya kewajiban untuk mengurus rumahnya sebagaimana yang berlaku di masyarakatnya. Berdasarkan hal itu, kami akan berkata berbeda untuk setiap zaman. Mungkin satu waktu, mengurus rumah dengan memasak, membersihkan perkakas, mencuci pakaian suami, pakaiannya dan pakaian anak-anak itu wajib. Begitu pula dalam hal mengurus anak-anak dan mengurus hal-hal yang maslahat di rumah jadi harus. Namun hal ini bisa jadi berbeda di zaman yang berbeda. Di suatu zaman bisa jadi memasak bukan jadi kewajiban, begitu pula dalam hal mencuci pakaian di rumah untuk suami dan anak-anak. Jadi apa yang berlaku di masyarakat, itulah yang diikuti.”

Perlu diingatkan bahwa tetap mengurus rumah tangga bagi istri itu lebih utama daripada ia keluar rumah. Allah berfirman,

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

Dan tinggallah kalian di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berdandan sebagaimana dandan ala jahiliah terdahulu.” (QS. Al Ahzab: 33).

Ibnu Katsir menafsirkan ayat di atas bahwa janganlah wanita keluar rumah kecuali ada hajat seperti ingin menunaikan shalat di masjid selama memenuhi syarat-syaratnya. (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6: 182).

Semoga manfaat. Hanya Allah yang memberi taufik.

Sumber : rumaysho.com
Artikel elmuntaqa.wordpress.com

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.