Menjadi Orang Yang Mulia

Menjadi Mulia

متى تكون إنسان رائع
KAPAN ANDA AKAN MENJADI MANUSIA YANG MULIA

عندما تبدأ يومك بالصلاة والدعاء فأنت إنسان رائع.
Ketika anda memulai harimu dengan shalat dan berdoa maka anda telah menjadi manusia yang mulia..

عندما تبدأ يومك بابتسامة صادقة فأنت إنسان رائع.
Ketika anda memulai harimu dengan menebar senyum (sesama muslim) maka anda telah menjadi manusia yang mulia..

عندما تفشى السلام لكل من تلتقي به فأنت إنسان رائع.
Ketika anda menyebarkan salam kepada setiap orang yang bertemu dengan anda maka anda telah menjadi manusia yang mulia..

عندما تتعامل مع الآخرين بكل احترام فأنت إنسان رائع
Ketika anda menghormati dan menghargai orang lain ketika anda bergaul maka anda telah menjadi manusia yang mulia

عندما تعلم بأن الكلمة التي تنطق بها إما أن تكون لك أو عليك فتفكر قبل أن تنطق بكلمات قد تكون ضدك فأنت إنسان رائع.
Ketika anda mengetahui bahwasannya ucapan yang keluar dari mulut anda bisa menjadi kebaikan atau keburukan untuk anda sendiri sehingga anda berfikir untuk berbicara maka anda telah menjadi orang yang mulia..

عندما تعلم بأن الفرصة قد لا تتكرر مرة أخرى وتحسن استغلالها عندما تأتي فأنت إنسان رائع.
Ketika anda mengetahui bahwasannya kesempatan itu tidak akan datang dua kali sehingga anda gunakan kesempatan tersebut dengan hal yang bermanfaat maka anda telah menjadi orang yang mulia..

عندما تعطي رأيك بكل صدق عندما يطلب منك فِأنت إنسان رائع.
Ketika anda memberikan pendapat yang jujur dan jalan keluar yang baik ketika anda dimintai saran dan pendapat maka anda telah menjadi orang yang mulia..

عندما تعتني بمظهرك دون تكلف ولا تعيب أو تستهزئ بمظهر الآخرين فأنت إنسان رائع.
Ketika anda berpenampilan sederhana dan menarik tanpa memaksakan diri dan tanpa merendahkan dan menghina penampilan orang lain maka anda telah menjadi orang yang mulia..

عندما تحترم دورك وتحترم الأنظمة فأنت إنسان رائع.
Ketika engkau memuliakan orang lain dan menghormati peraturan yang berlaku maka anda telah menjadi orang yang mulia..

عندما لا نتردد في تقديم المساعدة للآخرين في حال فرحهم وفي حال حزنهم وتقف إلى جانبهم فأنت إنسان رائع
Ketika anda senantiasa ringan tangan membantu orang lain baik mereka dalam keadaan bahagia maupun sedih dan anda selalu ada disisi mereka maka anda telah menjadi orang yang mulia..

Maka jadilah manusia yang bermanfaat untuk diri anda dan orang lain..

أخوكم في الله : سليمان أبو شيخــة

Sumber : abusyeikha.blogspot.com

Setan Keluar Ketika Maghrib

image

Pertanyaan :

Benarkah setan keluar ketika datang malam? Mohon jelaskan.

Jawaban :

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Terdapat hadis dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا كَانَ جُنْحُ اللَّيْلِ – أَوْ أَمْسَيْتُمْ – فَكُفُّوا صِبْيَانَكُمْ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْتَشِرُ حِينَئِذٍ، فَإِذَا ذَهَبَ سَاعَةٌ مِنَ اللَّيْلِ فَخَلُّوهُمْ، وَأَغْلِقُوا الْأَبْوَابَ، وَاذْكُرُوا اسْمَ اللهِ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَفْتَحُ بَابًا مُغْلَقًا، وَأَوْكُوا قِرَبَكُمْ، وَاذْكُرُوا اسْمَ اللهِ، وَخَمِّرُوا آنِيَتَكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللهِ، وَلَوْ أَنْ تَعْرُضُوا عَلَيْهَا شَيْئًا، وَأَطْفِئُوا مَصَابِيحَكُمْ

“Bila hari telah senja, tahan anak-anak kalian. Karena ketika itu setan berkeliaran. Dan bila sudah masuk sebagian waktu malam, silahkan biarkanlah mereka. Tutuplah pintu dan sebut nama Allah, karena setan tidak dapat membuka pintu yang tertutup (dengan menyebut nama Allah). Tutup semua kendi kalian dengan menyebut nama Allah dan tutuplah bejana kalian dengan menyebut nama Allah, sekalipun dengan membentangkan sesuatu di atasnya, dan padamkan lentera kalian (ketika hendak tidur).” (HR. Bukhari 5623 dan Muslim 3756)

Makna 

>> Bila hari telah senja: gelapnya malam mulai datang. Yaitu di saat waktu maghrib

>> Tahan anak-anak kalian: tahan mereka agar tidak keluar rumah. Jika mereka ikut ke masjid, pastikan mereka berada di dalam masjid.

>> Karena ketika itu setan berkeliaran: jenis setan (jin nakal). Dan ini ghaib. Sementara kita hanya bisa meyakini berita yang disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hadis di atas, mengajarkan berbagai macam adab untuk kebaikan dunia dan akhirat manusia. Di antaranya, melarang anak kecil bermain di luar rumah, menjelang malam tiba. Karena dikhawatirkan mereka akan diganggu jin-jin yang nakal.

Allahu a’lam

Sumber : konsultasisyariah.com
Artikel elmuntaqa.wordpress.com

Kisah: Sikap Wara’ Abu Bakr

image

Oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A.

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Siapa yang tidak kenal dengan Abu Bakar ash-Shiddiq radliallahu ‘anhu? Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia sangat terkenal karena banyak memiliki keutamaan dan sifat-sifat mulia dalam Islam. Sampai-sampai shahabat ‘Umar bin al-Khattab Radhiyallahu ‘anhu memuji beliau dengan mengatakan:

لو وزن إيمان أبي بكر بإيمان أهل الأرض لرجحت كفة أبي بكر

“Seandainya keimanan Abu Bakar radliallahu ‘anhu ditimbang dengan keimanan penduduk bumi (selain para Nabi dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam) maka sungguh keimanan beliau radliallahu ‘anhu  lebih berat dibandingkan keimanan penduduk bumi”. (HR. Ishaq bin Rahuyah dalam Musnadnya, no. 1266 dan al-Baihaqi dalam Syu’abul iman, no. 36 dengan sanad yang shahih)

Kisah berikut ini mengambarkan tingginya keutamaan Abu Bakar radliallahu ‘anhu  dan besarnya kehati-hatian beliau dalam masalah halal dan haram:

Dari ‘Aisyah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa ayah beliau, Abu Bakar ash-Shiddiq radliallahu ‘anhu memiliki seorang budak yang setiap hari membayar setoran kepada Abu Bakar radliallahu ‘anhu (berupa harta atau makanan) dan beliau makan sehari-hari dari setoran tersebut.

Suatu hari, budak tersebut membawa sesuatu (makanan), maka Abu Bakar radliallahu ‘anhu memakannya. Lalu budak itu berkata kepada beliau: “Apakah anda mengetahui apa yang anda makan ini?”. Abu Bakar radliallahu ‘anhu balik bertanya: “Makanan ini (dari mana)?”. Budak itu menceritakan: “Dulu di jaman Jahiliyah, aku pernah melakukan praktek perdukunan untuk seseorang (yang datang kepadaku), padahal aku tidak bisa melakukannya, dan sungguh aku hanya menipu orang tersebut. Kemudian aku bertemu orang tersebut, lalu dia memberikan (hadiah) kepadaku makanan yang anda makanan ini”. Setelah mendengar pengakuan budaknya itu Abu Bakar segera memasukkan jari tangan beliau ke dalam mulut, lalu beliau memuntahkan semua makanan dalam perut beliau”. (HR. Bukhari no. 3629)

Kisah ini menggambarkan tingginya ketakwaan dan keimanan Abu Bakar ash-Shiddiq. Beliau sangat berhati-hati dalam menjaga anggota badan beliau dari mengkonsunmsi makanan yang tidak halal, dan inilah aplikasi dari sifat wara’ yang sebenarnya. (Lihat bahjatun Nadzirin, 1/649)

Beberapa pelajaran berharga yang dapat kita petik dari kisah di atas:

Pertama, keutamaan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu bukan hanya terletak pada amal perbuatan anggota badan beliau, tapi karena sempurnanya keimanan dan ketakwaan dalam hati beliau. Imam Abu Bakar bin ‘Ayyaasy (seorang ulama generasi tabi’in) mengatakan: “Tidaklah Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu mengungguli kalian dalam kebaikan dengan hanya semata-mata karena banyak berpuasa dan shalat, akan tetapi karena sesuatu kesempurnaan iman dan takwa yang ada di dalam hati beliau”. (Miftah Daris Sa’adah, Ibnul Qoyim, 1/82)

Kedua, berhati-hati dalam masalah halal dan haram, mencerminkan ketakwaan seorang hamba. Karena dengan sifat ini, kebaikan agama seseorang akan selalu terjaga dengan izin Allah ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ، وَعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ

“Barangsiapa yang menjaga diri dari hal-hal yang samar (belum jelas status halal atau haramnya) maka sungguh dia telah menjaga kesucian agama dan kehormatannya. Dan barangsiapa yang terjerumus ke dalam hal-hal yang samar tersebut maka berarti dia telah terjerumus ke dalam perkara yang haram (dilarang dalam Islam)…”. (HR. Muslim, no 1599)

Ketiga, termasuk bentuk aplikasi sifat wara’ adalah tidak memakan makanan dan menerima pemberian dari seseorang yang diketahui dengan yakin bahwa hartanya bersumber dari penghasilan yang haram, kecuali jika dia punya sumber penghasilan lain yang halal (hartanya bercampur dengan barang haram). (Lihat Bahjatun Nazhirin, 1/649)

Keempat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّهُ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ، لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ؛ النَّارُ أَوْلَى بِهِ

“Tidak akan masuk surga daging yang tumbuh dari (makanan) yang haram dan neraka lebih layak baginya”. (HR Ahmad, 3/321, Daarimi, no. 2776, dan dishahihkan Al-Albani)

Kelima, haramnya dan tercelanya praktek perdukunan dalam segala bentuknya. Serta larangan mendatangi apalagi mempercayai para dukun dan tukang ramal. Karena hal ini termasuk dosa yang sangat besar bahkan bisa membawa kepada kekafiran. Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ، لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal (orang yang mengaku mengetahui ilmu gaib, termasuk dukun dan tukang sihir), kemudian bertanya tentang sesuatu hal kepadanya, maka tidak akan diterima shalat orang tersebut selama empat puluh malam (hari)”. (HR. Muslim, no. 2230)

Dalam hadits lainnya, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَتَى كَاهِنًا، أَوْ عَرَّافًا، فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ، فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

“Barangsiapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal kemudian membenarkan ucapannya, maka sungguh dia telah kafir terhadap agama yang diturunkan kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam”. (HR Ahmad, 2/429 dan Hakim, 1/49, dan dishahihkan Al-Albani)

Keenam, maksud praktek perdukunan dalam kisah ini adalah meramalkan kejadian yang akan datang tanpa adanya bukti-bukti yang membenarkan. Ini termasuk perbuatan yang membawa kepada kekafiran, karena perkara yang gaib tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah ta’ala. Allah berfirman,

قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ

“Katakanlah:”Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bilamana mereka akan dibangkitkan” (QS an-Naml: 65).

Ketujuh, upah/harga dari pekerjaan yang dilarang dalam agama adalah haram dan tidak boleh dimakan. Dari Abu Mas’ud Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu yang mengatakan,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ ثَمَنِ الكَلْبِ، وَمَهْرِ البَغِيِّ، وَحُلْوَانِ الكَاهِنِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang hasil (penjualan) anjing, upah (dari) pelacuran dan upah/hadiah (dari praktek) perdukunan. (HR. Bukhari, no. 2122 dan Muslim, no 1567)

Sumber : Konsultasisyriah.com
Artikel elmuntaqa.wordpress.com

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.