Kisah

Kisah Nabi Adam ‘Alaihissalaam, Bapak Umat Manusia (1)

Gambar

Allah Ta’ala berfirman :

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لا تَعْلَمُونَ

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. [QS Al-Baqarah : 30]

Allah Azza wa Jalla memberitahukan bahwa Dia akan menciptakan makhluk bernama Adam dan segenap keturunannya yang mana generasinya akan menggantikannya satu dengan yang lain, sebagaimana firmanNya yang lain :

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلائِفَ الأرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ

Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. [QS Al-An’aam : 165]

Allah mengkhabarkan kepada para malaikat dengan cara yang sangat istimewa sebagaimana bila Dia mengkhabarkan sesuatu yang amat besar dan para malaikat bertanya kepadaNya dengan maksud meminta penjelasan dengan cara yang hikmah, bukan dengan frontal dan kritik terhadap Adam dan keturunannya. Qatadah berkata mengenai firmanNya, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah,” yang dimaksud adalah para malaikat telah mengetahui bahwa hal itu akan terjadi sebagaimana yang telah mereka lihat sendiri pada penciptaan jin dan syetan sebelum Adam.

Ibnu Umar berkata, Jin diciptakan 2000 tahun sebelum Adam, kemudian mereka menumpahkan darah antar sesamanya, kemudian Allah mengutus bala tentara malaikat dan mengusir mereka ke pulau-pulau yang dikelilingi laut [HR Ibnu Abi Hatim (At-Tafsir no. 321), para perawinya tsiqah hanya saja didalamnya ada Al-A’masy yang merupakan perawi tsiqah yudallis].

Firman Allah, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui,” maksudnya Aku lebih mengetahui maslahat menciptakan mereka, apa yang tidak kalian ketahui, karena akan ada dari manusia yang Aku ciptakan nanti dari golongan Nabi, Rasul, orang-orang shalih dan para syuhada.

Allah Ta’ala berfirman :

وَعَلَّمَ آدَمَ الأسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!” [QS Al-Baqarah : 31]

Ibnu Abbas berkata, yaitu nama-nama yang dengannya manusia mengenalnya seperti hewan, bumi, laut, gunung, unta, keledai dan lain sebagainya [HR Ibnu Jarir (At-Tafsir 1/202); Ibnu Abi Hatim (At-Tafsir no. 336)]. Mujahid berkata, Adam diajarkan nama-nama seluruh hewan, jenis-jenis burung dan segala sesuatu. Demikianlah ini juga menjadi pendapat Sa’id bin Jubair, Qatadah dan yang lainnya.

Penghormatan Untuk Adam ‘Alaihissalam dan Iblis Tidak Mematuhi Perintah Allah untuk Sujud Pada Adam

Allah Ta’ala berfirman :

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلائِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ فَسَجَدُوا إِلا إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. [QS Al-Baqarah : 34]

Ini merupakan penghormatan yang besar dari Allah Ta’ala kepada Adam ‘Alaihissalam ketika Dia menciptakan dengan tanganNya, dan meniupkan ruh, maka didalam hal ini terkandung 4 penghormatan :

  1. Diciptakan Adam dengan tanganNya yang Maha Mulia.

  2. Ditiupkan ruh kepadanya.

  3. Diperintahkan para malaikat untuk sujud kepadanya.

  4. Diajarkan nama-nama dan ilmu pengetahuan.

Akan tetapi, Iblis adalah satu-satunya yang menolak bersujud kepada Adam, oleh karena itu Allah memasukkannya dalam golongan orang-orang kafir.

Allah Ta’ala berfirman menerangkan mengapa Iblis menolak bersujud kepada Adam :

وَلَقَدْ خَلَقْنَاكُمْ ثُمَّ صَوَّرْنَاكُمْ ثُمَّ قُلْنَا لِلْمَلائِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ فَسَجَدُوا إِلا إِبْلِيسَ لَمْ يَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: “Bersujudlah kamu kepada Adam”; maka mereka pun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud. Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis: “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. [QS Al-A’raaf : 11-12]

Al-Hasan Al-Bashri berkata, Iblis telah melakukan perbandingan, dia adalah makhluk pertama yang melakukan perbandingan (qiyas). Ibnu Sirin berkata, yang pertama kali melakukan perbandingan adalah Iblis. Sementara matahari dan bulan tidaklah disembah melainkan karena adanya perbandingan, ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir. Maknanya dari kedua riwayat ini adalah Iblis melihat dirinya dengan perbandingan antara dirinya dengan Adam, dia melihat dirinya lebih mulia dari Adam hingga dia menolak bersujud kepadanya sementara para malaikat semuanya sujud pada Adam. Dan akhirnya, Iblis pun terkena murka Allah, ia dikeluarkan dari surga dan ia tetap dalam keadaan seperti itu hingga hari kiamat nanti. Allah Ta’ala berfirman :

قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا لَكَ أَلا تَكُونَ مَعَ السَّاجِدِينَ قَالَ لَمْ أَكُنْ لأسْجُدَ لِبَشَرٍ خَلَقْتَهُ مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ قَالَ فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ وَإِنَّ عَلَيْكَ اللَّعْنَةَ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ

“Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu?” Berkata Iblis: “Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk”. Allah berfirman: “Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk, dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat”. [QS Al-Hijr 32-35].

Iblis telah keluar dari ketaatan kepada Allah dengan sengaja, membangkang dan penuh kesombongan dari mengerjakan perintahNya karena dia memang memiliki tabiat yang buruk karena dia tercipta dari api, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dari ‘Aisyah, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Para malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari bara api, dan Adam diciptakan dari sebagaimana yang disifatkan atas kalian.” [HR Muslim no. 2996; Ahmad no. 24668].

Terdapat silang pendapat, apakah Iblis itu dari golongan malaikat atau golongan jin? Al-Hasan berkata, Sekali-kali Iblis bukanlah termasuk dari golongan malaikat [HR Ibnu Jarir (At-Tafsir 1/226); Abu Asy-Syaikh (Al-Uzhmah no. 1145), sanadnya shahih]. Syahr bin Hausyab berkata, Iblis termasuk golongan jin, ia ditawan oleh para malaikat ketika terjadi kerusakan di bumi oleh para jin, lalu ia dibawa ke langit dan diperintahkan untuk bersujud kepada Adam. Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas dan para sahabat, juga Sa’id bin Al-Musayyib berkata, Iblis adalah pimpinan para malaikat. [HR Ibnu Jarir (At-Tafsir 1/225), sanadnya hasan].

Ibnu Abbas berkata, namanya adalah Azazil (dan dalam riwayat yang lain, ia berkata namanya adalah Al-Harits) [HR Ibnu Jarir (At-Tafsir 1/224), sanadnya dha’if]. An-Naqasy berkata, kunyahnya adalah Abu Kurdus [HR Ibnu Jarir (At-Tafsir 1/266), sanadnya dha’if]. Ibnu Abbas berkata, Iblis masuk ke dalam golongan dari para malaikat yang disebut jin, mereka adalah para penjaga surga, mereka termasuk makhluk yang paling mulia dan yang paling banyak ilmu dan ibadahnya. Iblis memiliki 4 sayap lalu Allah merubahnya menjadi syetan yang terkutuk [Lihat Tafsir Ibnu Katsir 1/110-115; 5/164-165]. Allahu a’lam.

Penciptaan Hawa dan Mengenai Pohon yang Dilarang untuk Didekati

Setelah Iblis diturunkan atau diusir dari surga ke bumi karena membangkang perintah Allah Ta’ala, maka Adam pun tinggal mendiami surga. Allah Ta’ala berfirman kepada Adam :

وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلا تَقْرَبَا هَذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ

Dan Kami berfirman: “Hai Adam diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang lalim. [QS Al-Baqarah : 35]

Konteks ayat ini menunjukkan bahwa Hawa tercipta sebelum Adam mendiami surga. Sebab dalam firmanNya yang lain :

وَيَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ فَكُلا مِنْ حَيْثُ شِئْتُمَا وَلا تَقْرَبَا هَذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ

(Dan Allah berfirman): “Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan istrimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang lalim”. [QS Al-A’raaf : 19].

Muhammad bin Ishaq meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwasanya Hawa diciptakan dari tulang rusuk yang lebih pendek dan lunak, berkumpul daging di tempatnya [HR Ibnu Jarir (At-Tarikh 1/69-70), sanadnya terputus antara Ibnu Ishaq dan Ibnu Abbas]. Penguat hadits ini adalah firman Allah :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. [QS An-Nisa’ : 1]

Lalu sabda Nabi Shallallahu alaihi wasallam dari sahabat Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu-, beliau bersabda, “Sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok dan sesuatu yang bengkok tepat berada di atasnya, jika engkau bengkokkan maka ia akan patah tapi jika kau biarkan maka ia akan tetap bengkok.” [HR Bukhari no. 3331; Muslim no. 1468, dan ini lafazh Bukhari].

Firman Allah Ta’ala, “dan janganlah kamu dekati pohon ini,” para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai pohon yang dimaksud. Ada yang mengatakan pohon itu adalah pohon anggur. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Sa’id bin Jubair, Asy-Sya’bi, Ja’dah bin Hubairah, Muhammad bin Qais dan As-Suddi dalam riwayat dari Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud dan beberapa orang sahabat, berkata, Kaum Yahudi berpendapat pohon yang dimaksud adalah gandum. Wahb bin Munabbih berkata, bijinya lebih lembut dari keju dan lebih manis dari madu. Sufyan Ats-Tsauri berkata, dari Hushain, dari Abu Malik bahwa yang dimaksud adalah pohon kurma. Ibnu Juraij berkata, dari Mujahid, bahwa itu adalah pohon tin, ini juga pendapat Qatadah. Abul Aliyah berkata, itu adalah sebuah pohon yang jika memakannya maka yang memakannya akan terlihat lebih muda. Allahu a’lam.

Nabi Adam dan Hawa Dikeluarkan Dari Surga

Abul Qasim Ar-Raghib dan Al-Qadhi Al-Mawardi dalam tafsirnya berkata, ada perbedaan pendapat perihal surga yang ditempati keduanya :

  1. Surga Khuldi (di dalamnya terdapat pohon Khuldi).
  2. Surga yang memang disiapkan khusus bagi Adam dan Hawa sebagai ujian untuk keduanya, bukan sebagai surga yang Allah jadikan tempat pembalasan. Orang-orang yang memegang pendapat kedua ini terbagi lagi menjadi dua kelompok :

  3. Tempat surga tersebut di langit karena Adam dan Hawa diturunkan dari sana. Inilah pendapat Al-Hasan.

  4. Tempatnya di bumi, karena Allah menguji mereka untuk tidak makan buah dari pohon sementara buah dari pohon lain boleh dimakan, ini merupakan pendapat Ibnu Yahya. Hal itu terjadi setelah Allah memerintahkan iblis untuk bersujud kepada Adam. Allahu a’lam.

Allah Ta’ala berfirman :

فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطَانُ لِيُبْدِيَ لَهُمَا مَا وُورِيَ عَنْهُمَا مِنْ سَوْآتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ إِلا أَنْ تَكُونَا مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُونَا مِنَ الْخَالِدِينَ

Maka setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan setan berkata: “Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga)”. [QS Al-A’raaf : 20]

Syetan berkata kepada Adam dan Hawa, apa yang menghalangi kalian untuk makan buah dari pohon ini kecuali kalian akan menjadi malaikat dan kekal didalam surga. Kemudian Iblis bersumpah didepan keduanya, sesungguhnya aku menjadi penasihat bagimu. Sebagaimana difirmankan dalam ayat yang lain :

فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَى شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لا يَبْلَى

Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: “Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?” [QS Thaha : 120]

Ini adalah tipu daya yang nyata dari syetan dan iblis. Terdapat hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya di surga itu terdapat satu pohon yang mana jika seseorang berjalan di bawah naungannya maka dia tidak akan terputus selama 100 tahun, yaitu pohon Khuldi.” [HR Ahmad no. 7634].

Hawa memakan buah dari pohon Khuldi sebelum Adam. Hujjah dari hal ini adalah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim, dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu alaihi wasallam, “Andaikan bukan karena Bani Israil maka daging tidak akan berubah (berbau busuk), dan andaikan bukan karena Hawa maka tidak ada wanita di dunia ini yang berkhianat kepada suaminya.” [HR Bukhari no. 3330; Muslim no. 1470]. Didalam kitab Taurat menyebutkan bahwa yang menunjukkan Hawa memakan buah Khuldi adalah seekor ular. Hawa pun memakan atas bujukan dan perintahnya, kemudian memberikannya pada Adam, maka pada saat mata keduanya terbuka (tersadar), keduanya baru menyadari bahwa mereka tidak mengenakan apa-apa lagi, kemudian mereka menjadikan daun-daun Tin sebagai penutup tubuh mereka. Inilah yang dikatakan Wahb bin Munabbih, bahwa pakaian Adam dan Hawa adalah cahaya yang menutupi kemaluannya. Ini adalah kabar Israiliyat yang terkandung kemungkaran dan bertentangan dengan firman Allah bahwa keduanya sudah memiliki pakaian, sebagaimana firmanNya :

يَا بَنِي آدَمَ لا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْآتِهِمَا

Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya. [QS Al-A’raaf : 27]

Allah Ta’ala berfirman :

وَنَادَاهُمَا رَبُّهُمَا أَلَمْ أَنْهَكُمَا عَنْ تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ وَأَقُلْ لَكُمَا إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُبِينٌ قَالا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: “Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?” Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi”. [QS Al-A’raaf : 22-23]. Setelah Allah menyampaikan hujjahNya bahwa syetan yang membujuk Adam dan Hawa tidak lain adalah musuh mereka sendiri, ketika itu pulalah mereka sadar mereka telah terpedaya oleh bujuk rayunya yang menyebabkan mereka mendapat murka Allah Ta’ala karena melanggar larangannya. Seketika itu pula Adam dan Hawa bertaubat, mengaku bersalah serta tunduk dan mengiba kepada Allah Yang Maha Pengampun. Hal ini juga akan berlanjut kepada keturunan mereka di bumi untuk bertaubat setelah melakukan kesalahan melanggar larangan-laranganNya.

Kemudian Allah Ta’ala berfirman :

قَالَ اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ وَلَكُمْ فِي الأرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَى حِينٍ

Turunlah kamu sekalian, sebahagian kamu menjadi musuh bagi sebahagian yang lain. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan”. [QS Al-A’raaf : 24]. Konteks pembicaraan yang terjadi dalam ayat ini adalah Allah Ta’ala mengajak bicara kepada Adam, Hawa dan Iblis. Dalam sebuah riwayat dikatakan ada ular juga disitu. Kemudian mereka semua dikeluarkan dari surga dalam keadaan bermusuhan dan terpisah. Ini merupakan perintah dan ketentuan bagi Adam dan Iblis dan apa saja yang terjadi di antara mereka berdua berupa permusuhan yang terus menerus.

Imam Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dengan sanadnya hingga Ibnu Abbas, dia berkata, Adam diturunkan ke bumi di antara Makkah dan Tha’if [Tafsir Ibnu Abi Hatim no. 394, 8316]. Al-Hasan berkata, Adam diturunkan di India sementara Hawa di Jeddah, Iblis di Dimistan, jauh dari Bashrah, sementara ular diturunkan di Ashbahan. As-Suddi berkata, Adam diturunkan di India bersamaan dengannya Hajar Aswad, selain itu sedikit daun surga dan ditanam di India sehingga tumbuhlah tanaman yang baik disana [Tafsir Ibnu Abi Hatim no. 397, sanadnya hasan]. Abdurrazzaq meriwayatkan dari sahabat Abu Musa Al-Asy’ari, ketika Allah menurunkan Adam, Dia mengajarkan Adam membuat segala sesuatu dan membekalinya buah-buahan dari surga, maka buah-buahan kalian ini berasal dari surga hanya saja ada beberapa buah yang berubah [HR Abdurrazzaq no. 42].

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sebaik-baik hari adalah hari ketika terbit matahari pada hari Jum’at karena pada hari itu diciptakan Adam, pada hari itu pula ia dimasukkan ke dalam surga dan dikeluarkan darinya.” [HR Muslim no. 1373]. Dan dalam riwayat lain, “Pada hari itu pula hari datangnya kiamat.” [HR Abu Daud no. 1046; An-Nasa’i no. 1430; Ahmad no. 9930. Dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani].

Imam Abu Abdillah Al-Hakim meriwayatkan dengan sanadnya hingga Ibnu Abbas, ia berkata, “Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Allah, maka Allah pun menerima taubatnya.” Adam berkata, ‘Wahai Tuhanku, apakah Engkau menciptakanku dengan tanganMu?’ Allah berfirman, ‘Ya,’ Adam bertanya, ‘Engkau tiupkan aku dari ruhMu?’ Allah berfirman, ‘Ya,’ Adam bertanya, ‘Kemudian aku bersin lalu Engkau mengucapkan Yarhamukallah (semoga Allah merahmatimu), dan rahmatMu telah mendahului murkaMu?’ Allah berfirman, ‘Ya,’ Adam bertanya, ‘Engkau menulis (mentakdirkan) bahwa aku melakukan perbuatan ini?’ Allah berfirman, ‘Ya,’ dan Adam pun bertanya kembali, ‘Jika aku bertaubat maka Engkau akan mengembalikanku ke surga lagi?’ Allah berfirman, ‘Ya,’ [HR Al-Hakim (Al-Mustadrak 2/594 no. 4002; Al-Hakim menshahihkan sanadnya namun Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya, Adz-Dzahabi menyetujuinya, begitu pula Syaikh Al-Albani dalam At-Tawassul hal. 115)].

Nabi Adam Menjadi Khalifah Allah di Muka Bumi

Dengan demikian, Maha Benarlah Allah dengan segala firmanNya :

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأرْضِ خَلِيفَةًIngatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. [QS Al-Baqarah : 30]. Allah Ta’ala dengan segala tindakanNya yang selalu mempunyai hikmah bagi setiap makhlukNya telah mentakdirkan dan menggariskan Nabi Adam Alaihissalam dan Hawa memakan buah dari pohon terlarang di surga yang dengannya mereka diturunkan dari surga ke bumi, tindakanNya ini tidak lain bukanlah pengusiran bagi Nabi Adam dan Hawa (seperti yang disangka sebagian orang) melainkan ini adalah sebuah rencana besarNya untuk menjadikan Adam dan keturunannya sebagai khalifah di muka bumi, dimana mereka akan berjuang disana, mematuhi perintah-perintahNya, menjauhi larangan-laranganNya, beramal shalih, atau kebalikannya berbuat kufur/maksiat kepada Allah Ta’ala, serta memperbanyak keturunan hingga batas hari yang telah ditentukan (hari kiamat), dan sebagian dari mereka akan menjadi penghuni surga seperti bapak mereka, Adam Alaihissalam, atau menjadi penghuni neraka seperti Iblis dan syetan.

Imam Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwasanya Allah berfirman, “Wahai Adam, sesungguhnya Aku memiliki tempat beribadah di sekitar ‘Arsy, maka bertolaklah ke tempat tersebut (di bumi) dan bangunlah untukKu sebuah rumah yang akan kau kelilingi sebagaimana ‘ArsyKu dikelilingi para malaikatKu.” Kemudian Allah Ta’ala mengutus malaikat yang memberitahukan tempat yang dimaksud kepada Adam dan juga mengajarkan cara-cara manasik.

Diriwayatkan pula bahwa makanan pertama yang dimakan oleh Adam di bumi adalah yang dibawa oleh Jibril dengan tujuh rupa biji-bijian dari gandum. Adam bertanya, “Apakah ini?” Jibril menjawab, “Ini dari pohon terlarang yang kau dilarang untuk memakannya,” Adam bertanya, “Lalu apa yang harus aku lakukan dengannya?” Jibril menjawab, “Tanamlah disini,” Maka Adam pun menanamnya, setiap biji yang ditanam tumbuh, Adam menuainya dan digiling menjadi gandum lalu menjadi roti maka ia pun memakannya setelah kerja kerasnya. Pakaian pertamanya dari bulu domba, ia mengulitinya dan kemudian memintalnya lalu menjahitnya untuk pakaiannya dan Hawa [Tarikh Ath-Thabari 1/80-81].

Para ulama berbeda pendapat apakah Hawa melahirkan anak mereka di surga atau setelah mereka diturunkan di bumi. Diriwayatkan bahwa keduanya tidak memiliki anak kecuali setelah diturunkan ke bumi. Tetapi ada pula yang berpendapat kalau Adam dan Hawa sempat memiliki anak di surga yaitu Qabil dan saudari perempuannya. Diriwayatkan juga kisah bahwa Hawa selalu mengandung dua anak, laki-laki dan perempuan, maka diperintahkan oleh Allah setiap anak laki-laki menikahi saudari perempuannya dari saudara laki-lakinya, tidak dihalalkan menikahi saudari yang lahir bersamanya. Allahu a’lamu bishawab.

Sumber : Al-Bidayah wa An-Nihayah karya Al-Hafizh Ibnu Katsir, Juz 1

Penerbit : Pustaka Azzam

Catatan dari saya :

Hadits-hadits yang menyebutkan secara detil pohon “khuldi” hanya ada pada riwayat yang ada perawi bernama Abu Adh-Dhahhak didalamnya. Riwayat-riwayat itu adalah :

  1. حَدَّثَنَا شُعْبَةُ ، عَنْ أَبِي الضَّحَّاكِ ، قَالَ : سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ ، يُحَدِّثُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : ” إِنَّ فِي الْجَنَّةِ شَجَرَةٌ يَسِيرُ الرَّاكِبُ فِي ظِلِّهَا مِائَةَ عَامٍ مَا يَقْطَعُهَا ، وَهِيَ شَجَرَةُ الْخُلْدِ “
    Hadits ini terdapat pada musnad Ath-Thayalisi no. 2661
  2. حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ ، قََالَ : حَدَّثَنَا شُعْبَةُ ، عَنْ أَبِي الضَّحَّاكِ ، قََالَ : سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ , يَقُولُ : قََالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” إِنَّ فِي الْجَنَّةِ شَجَرَةً ، يَسِيرُ الرَّاكِبُ فِي ظِلِّهَا مِائَةَ عَامٍ لَا يَقْطَعُهَا شَجَرَةَ الْخُلْدِ
    Hadits ini terdapat pada musnad Ahmad no. 9739

  3. أَخْبَرَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ بْنُ عَبْدِ الْوَارِثِ ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ ، عَنْ أَبِي الضَّحَّاكِ ، قَالَ : سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : ” إِنَّ فِي الْجَنَّةِ شَجَرَةً يَسِيرُ الرَّاكِبُ فِي ظِلِّهَا مِائَةَ عَامٍ لَا يَقْطَعُهَا ، هِيَ شَجَرَةُ الْخُلْدِ “
    Hadits ini terdapat pada Sunan Ad-Darimi no. 2751

  4. حَدَّثَنَا ابْنُ بَشَّارٍ ، قَالَ : ثنا عَبْدُ الرَّحْمَنِ , وَحَدَّثَنَا ابْنُ الْمُثَنَّى ، قَالَ : ثنا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ ، قَالا جَمِيعًا : ثنا شُعْبَةُ ، قَالَ : سَمِعْتُ أَبَا الضَّحَّاكِ , يُحَدِّثُ ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ , عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : ” إِنَّ فِي الْجَنَّةِ لَشَجَرَةً يَسِيرُ الرَّاكِبُ فِي ظِلِّهَا مِائَةَ عَامٍ لا يَقْطَعُهَا , شَجَرَةُ الْخُلْدِ “
    Hadits ini terdapat pada tafsir Ath-Thabari 7/168

Mengenai status Abu Adh-Dhahhak sendiri, dikatakan oleh Abu Haatim bahwa ia tidaklah diketahui ada yang meriwayatkan darinya kecuali hanya Syu’bah [Tahdziibut Tahdzib no. 11648].

Dan berikut ini adalah riwayat-riwayat dari Abu Hurairah dari perawi yang lebih tsiqah dari Abu Adh-Dhahhak, mereka semua hanya menyebutkan pohon tanpa disebutkan “khuldi” :

  1. حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
    عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ إِنَّ فِي الْجَنَّةِ لَشَجَرَةً يَسِيرُ الرَّاكِبُ فِي ظِلِّهَا مِائَةَ سَنَةٍ
    [Diriwayatkan Tirmidzi no. 2446, Tirmidzi berkata hasan shahih]
  2. حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ عَنْ حَمَّادٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ زِيَادٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ
    سَمِعْتُ أَبَا الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ فِي الْجَنَّةِ شَجَرَةً يَسِيرُ الرَّاكِبُ فِي ظِلِّهَا مِائَةَ عَامٍ لَا يَقْطَعُهَا
    [Diriwayatkan Ahmad no. 9685, sanadnya shahih]

Kemudian, riwayat dari Anas bin Malik, juga tanpa tambahan “khuldi” :

حَدَّثَنَا رَوْحُ بْنُ عَبْدِ الْمُؤْمِنِ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ حَدَّثَنَا سَعِيدٌ عَنْ قَتَادَةَ حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ فِي الْجَنَّةِ لَشَجَرَةً يَسِيرُ الرَّاكِبُ فِي ظِلِّهَا مِائَةَ عَامٍ لَا يَقْطَعُهَا
[Diriwayatkan Al-Bukhari no. 3012]

Akhirnya bisa diambil kesimpulan bahwa tambahan pohon khuldi yg terdapat pada riwayat yg dikutip pada artikel hanya berasal dari Abu Adh-Dhahhak yg mana ia tafarrud dan menyelisihi perawi2 lain yg jauh lebih tsiqah darinya. Dan tambahan ini syaadz.

Allahu a’lam

Sumber : muhandisun.wordpress.com
Artikel elmuntaqa.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s