Hadits

Kartu Sakti Bernama Tauhid

tauhid

حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ إِسْحَاقَ الطَّالْقَانِيُّ، حَدَّثَنَا ابْنُ مُبَارَكٍ، عَنْ لَيْثِ بْنِ سَعْدٍ، حَدَّثَنِي عَامِرُ بْنُ يَحْيَى، عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِيِّ، قَالَ: سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ العاص، يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَسْتَخْلِصُ رَجُلًا مِنْ أُمَّتِي عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَيَنْشُرُ عَلَيْهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ سِجِلًّا، كُلُّ سِجِلٍّ مَدَّ الْبَصَرِ، ثُمَّ يَقُولُ لَهُ: أَتُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا؟ أَظَلَمَتْكَ كَتَبَتِي الْحَافِظُونَ؟ قَالَ: لَا، يَا رَبِّ، فَيَقُولُ: أَلَكَ عُذْرٌ، أَوْ حَسَنَةٌ؟ فَيُبْهَتُ الرَّجُلُ، فَيَقُولُ: لَا، يَا رَبِّ، فَيَقُولُ: بَلَى، إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَةً وَاحِدَةً، لَا ظُلْمَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ، فَتُخْرَجُ لَهُ بِطَاقَةٌ، فِيهَا أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، فَيَقُولُ: أَحْضِرُوهُ، فَيَقُولُ: يَا رَبِّ، مَا هَذِهِ الْبِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ السِّجِلَّاتِ؟ ! فَيُقَالُ: إِنَّكَ لَا تُظْلَمُ، قَالَ: فَتُوضَعُ السِّجِلَّاتُ فِي كَفَّةٍ، قَالَ: فَطَاشَتْ السِّجِلَّاتُ، وَثَقُلَتْ الْبِطَاقَةُ، وَلَا يَثْقُلُ شَيْءٌ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ”

Telah menceritakan kepada kami Ibraahiim bin Ishaaq Ath-Thaalaqaaniy: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Mubaarak, dari Laits bin Sa’d: Telah menceritakan kepadaku ‘Aamir bin Yahyaa, dari Abu ‘Abdirrahmaan Al-Hubuliy, ia berkata: Aku mendengar ‘Abdullah bin ‘Amru bin Al-‘Aash berkata: Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

“Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla akan membebaskan seseorang dari umatku di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat. Lalu dibukakan kepadanya sembilan puluh sembilan catatan amal. Setiap catatan sejauh mata memandang.

Allah berfirman: ‘Apakah ada yang engkau ingkari dari semua hal ini?. Apakah pencatatan-Ku (malaikat) itu telah mendhalimimu?’. Orang itu berkata : ‘Tidak, wahai Tuhanku’.

Allah berfirman: ‘Apakah engkau mempunyai ‘udzur/alasan atau mempunyai kebaikan?’. Orang itu pun tercengang dan berkata: ‘Tidak wahai Rabb’.

Allah berfirman: ‘Bahkan engkau di sisi kami mempunyai satu kebaikan’. Tidak ada kedhaliman terhadapmu pada hari ini’.

Lalu dikeluarkanlah padanya sebuah kartu (bithaqah) yang tertulis : Asyhadu an Laa ilaaha illallaah wa anna Muhammadan ‘abduhu wa Rasuuluh (aku bersaksi bahwasannya tidak ada tuhan yang berhak diibadahi selain Allah, dan aku bersaksi bahwasannya Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya).

Allah berfirman: ‘Perlihatkan kepadanya’. Orang itu berkata: ‘Wahai Rabb, apalah artinya kartu ini dengan seluruh catatan amal kejelekan ini?’. Dikatakan: ‘Sesungguhnya engkau tidak akan didhalimi”.

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Lalu diletakkanlah catatan-catatan amal kejelekan itu di satu daun timbangan. Ternyata catatan-catatan itu ringan dan kartu itulah yang jauh lebih berat. Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat daripada nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

[HR. Ibnu Majah no. 4300, Tirmidzi no. 2639 dan Ahmad 2: 213. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini qowiy yaitu kuat dan perowinya tsiqoh termasuk perowi kitab shahih selain Ibrahim bin Ishaq Ath Thoqoni. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih]

Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin berkata, “Amalan tidaklah berlipat-lipat karena bentuk dan banyaknya amalan tersebut. Amalan bisa berlipat-lipat karena sesuatu di dalam hati. Bentuk amal bisa jadi satu (sama dengan yang dikerjakan orang lain), akan tetapi bisa jadi ada perbedaan satu amal dan amal lainnya yang perbedaannya antara langit dan bumi.

Hadits bithaqah di atas menjelaskan bahwa orang tersebut selamat (dari neraka) meskipun hanya mempunyai satu kebaikan saja, yaitu kalimat tauhid.

Hal tersebut sesuai dengan keumuman nash Firman Allah ta’ala:

إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” [QS. An-Nisaa’: 48]

Syaikh Sulaiman At Tamimi rahimahullah berkata, “Siapa saja yang mengucapkan kalimat laa ilaha illallah dengan penuh ikhlas dan yakin, serta ia mengamalkan konsekuensi dari kalimat tersebut, juga ia istiqomah di dalamnya, dialah yang termasuk orang-orang yang tidak memiliki rasa takut dan rasa sedih (terhadap apa yang ditinggalkan di dunia dan dihadapi nanti di akhirat, -pen).” [Taisirul ‘Azizil Hamid, 1: 240]

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ وَاصِلٍ، عَنْ الْمَعْرُورِ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا ذَرٍّ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” أَتَانِي جِبْرِيلُ، فَبَشَّرَنِي أَنَّهُ مَنْ مَاتَ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ، قُلْتُ: وَإِنْ سَرَقَ، وَإِنْ زَنَى، قَالَ: وَإِنْ سَرَقَ، وَإِنْ زَنَى “

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyaar: Telah menceritakan kepada kami Ghundar: Telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Waashil, dari Al-Ma’ruur, ia berkata: Aku pernah mendengar Abu Dzarr, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jibriil mendatangiku, lalu memberikan kabar gembira kepadaku bahwasannya siapa saja yang meninggal dalam keadaan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, niscaya masuk surga”. Aku (Abu Dzarr) berkata: “Meskipun ia mencuri dan berzina ?”. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Meskipun ia mencuri dan berzina.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 7487]

Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu anhu dia berkata:

مَنْ لَقِيَ اللَّهَ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ لَقِيَهُ يُشْرِكُ بِهِ دَخَلَ النَّارَ

“Barangsiapa yang menemui Allah (meninggal) dalam keadaan tidak berbuat kesyirikan kepada Allah dengan sesuatu apapun maka dia pasti akan masuk surga, dan barangsiapa yang menemui Allah dalam keadaan berbuat kesyirikan kepada-Nya dengan sesuatu apapun maka dia pasti akan masuk neraka.” [HR. Muslim no. 93]

Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

أنّ اللهَ تعَالى يخرِجُ مِن النّارِ مَن لَم يعمَل خَيراً قَط ، بِمَحضِ رحمَتهِ ، وهذَا انتِفَاعٌ بِغَيرِ عمَلِهِم

“Bahwasannya Allah ta’ala akan mengeluarkan dari neraka orang yang tidak pernah beramal kebaikan sedikitpun, dengan kemurnian rahmat-Nya. Dan ini bermanfaat tanpa adanya amal yang mereka lakukan.” [Jaami’ur-Rasaail – Al-Majmuu’atul-Khaamishah hal. 203. Lihat pula yang semisalnya dalam Majmuu’ Al-Fataawaa, 16/47]

Ibnul-Qayyim rahimahullah berkata:

وأما قوله في النار: {أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ} فقد قال في الجنة: {أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ} ولا ينافى إعداد النار للكافرين أن يدخلها الفساق والظلمة ولا ينافى إعداد الجنة للمتقين أن يدخلها من في قلبه أدنى مثقال ذرة من إيمان ولم يعمل خيرا قط.

“Adapun firman-Nya tentang neraka: ‘disediakan untuk orang-orang kafir’ (QS. Aali ‘Imraan: 131), Dan Allah ta’ala pun berfirman tentang surga : ‘disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa’ (QS. Aali ‘Imraan: 133). Hal itu tidaklah menafikkan neraka bagi orang-orang kafir, juga disediakan untuk orang-orang fasik dan dhalim (dari kalangan kaum muslimin) untuk memasukinya. Dan juga tidaklah menafikkan surga bagi orang-orang yang bertaqwa, juga disediakan untuk orang yang di dalam hatinya terdapat keimanan yang lebih ringan dari dzarrah dan tidak pernah melakukan kebaikan sedikitpun, untuk memasukinya.” [Al-Jawaabul-Kaafiy, hal. 23]

Namun demikian, janganlah sekali-kali kita meremehkan dosa (sekecil apapun) yang kita perbuat. Meskipun nantinya akan masuk surga orang yang mati dalam kedaan bertauhid (mungkin nginep dulu di neraka), perlu diingat bahwa siksaan neraka amatlah dahsyat.

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ، حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، حَدَّثَنَا ابْنُ الْهَادِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ خَبَّابٍ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَذُكِرَ عِنْدَهُ عَمُّهُ، فَقَالَ: ” لَعَلَّهُ تَنْفَعُهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَيُجْعَلُ فِي ضَحْضَاحٍ مِنَ النَّارِ يَبْلُغُ كَعْبَيْهِ يَغْلِي مِنْهُ دِمَاغُهُ “

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yuusuf : Telah menceritakan kepada kami Al-Laits : telah menceritakan kepada kami Ibnul-Haad, dari ‘Abdullah bin Khabbaab, dari Abu Sa’iid Al-Khudriy radliyallaahu ‘anhu, bahwasannya ia mendengar Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang menyebut tentang paman beliau di sisinya, beliau bersabda: “Semoga syafa’atku bermanfaat baginya pada hari kiamat. Karena itu dia ditempatkan di neraka yang paling dangkal. Api neraka mencapai mata kakinya, yang dengan itu otaknya mendidih.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 3885]

Sebagai penutup, marilah kita renungkan untaian nasihat berikut.

Imam Masruq berkata, “Cukuplah seseorang dikatakan berilmu jika ia takut kepada Allah. Dan cukuplah seseorang dikatakan bodoh jika ia merasa bangga dengan amalnya. [Jaamii’ul ‘uluum wal hikam]

Imam Ibnu ‘Aun rahimahullah berkata:

لا تثق بكثرة العمل فإنك لا تدري أقبل منك أم لا؟ ولا تأمن ذنوبك فإنك لا تدري هل كفرت عنك أم لا؟ لأن عملك مغيب عنك كله لا تدري ما الله صانع فيه، أيجعله في سجين أم يجعله في عليين

“Jangan kau percaya diri dengan banyaknya amal, karena engkau tidak tahu apakah amalmu diterima atau tidak. Jangan kau merasa aman terhadap dosa, karena engkau tidak tahu dosamu diampuni atau tidak. Semua amalmu tak ada yang dapat kau ketahui apa yang Allah perbuat terhadapnya, apakah Allah meletakkannya di neraka atau meletakkannya di surga?” [Min Akhbaaris Salaf, hlm. 305]

Oleh : Esha Ardhie
Artikel elmuntaqa.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s