Kisah

Kisah Nabi Adam ‘Alaihissalaam, Habil dan Qabil, Pembunuhan Pertama (2)

Allah Ta’ala berfirman :

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الآخَرِ قَالَ لأقْتُلَنَّكَ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!” Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa”.

لَئِنْ بَسَطْتَ إِلَيَّ يَدَكَ لِتَقْتُلَنِي مَا أَنَا بِبَاسِطٍ يَدِيَ إِلَيْكَ لأقْتُلَكَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ

“Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam.”

إِنِّي أُرِيدُ أَنْ تَبُوءَ بِإِثْمِي وَإِثْمِكَ فَتَكُونَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ وَذَلِكَ جَزَاءُ الظَّالِمِينَ

“Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh) ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zhalim.”

فَطَوَّعَتْ لَهُ نَفْسُهُ قَتْلَ أَخِيهِ فَقَتَلَهُ فَأَصْبَحَ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi.

فَبَعَثَ اللَّهُ غُرَابًا يَبْحَثُ فِي الأرْضِ لِيُرِيَهُ كَيْفَ يُوَارِي سَوْأَةَ أَخِيهِ قَالَ يَا وَيْلَتَا أَعَجَزْتُ أَنْ أَكُونَ مِثْلَ هَذَا الْغُرَابِ فَأُوَارِيَ سَوْأَةَ أَخِي فَأَصْبَحَ مِنَ النَّادِمِينَ

Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayit saudaranya. Berkata Qabil: “Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayit saudaraku ini?” Karena itu jadilah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal. [QS Al-Maa’idah : 27-31]

Al-Imam Ibnu Jarir meriwayatkan dengan sanadnya, As-Suddi menyebutkan dari beberapa orang sahabat diantaranya Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas bahwa Nabi Adam memiliki anak laki-laki yang diselingi anak perempuan setiap kehamilan Hawa. Ketika Habil ingin menikahi saudari Qabil dan dia lebih tua dari Habil sementara saudari Qabil adalah seorang wanita rupawan, maka Qabil ingin bertukar dengan saudaranya itu, sedangkan Nabi Adam memerintahkan Habil untuk menikahi saudari Qabil. Nabi Adam pun memerintahkan keduanya untuk berkurban sementara beliau menunaikan ibadah haji ke tanah Makkah, beliau mengamanahkan Habil kepada Qabil untuk dijaga dan Qabil pun menerimanya.

Diriwayatkan ketika itu Habil mempersiapkan kurbannya yaitu hewan ternak yang gemuk dan sehat, dia adalah pemilik kambing. Sedangkan Qabil mempersembahkan seikat tanaman yang buruk. Kemudian tiba-tiba kurban Habil mati terbakar hingga yang tersisa adalah kurban Qabil, ia pun murka, seraya berkata, “Aku akan membunuhmu hingga kau tidak akan menikahi saudariku!” Habil berkata, “Sesungguhnya Allah hanya menerima kurban dari orang yang bertaqwa.” [Tafsir Ath-Thabari 6/188]

Perkataan Habil kepada Qabil, “Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam,” ini menunjukkan akhlak yang baik, juga rasa takut kepada Allah dan keengganan melawan saudaranya dengan perbuatan jahat pula. Rasulullah bersabda, “Jika 2 orang muslim berhadapan dengan menghunus pedang, maka yang membunuh dan yang terbunuh masuk neraka.” Para sahabat berkata, “Ya Rasulullah, jika yang membunuh maka kami paham masuk neraka, tetapi yang terbunuh?” Beliau bersabda, “Sesungguhnya yang terbunuh pun sangat ingin membunuh saudaranya.” [HR Bukhari no. 31; Muslim no. 2888]

Perkataan Habil kepada Qabil, “Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh) ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zhalim,” maksudnya adalah Habil tidak ingin balas melawan Qabil walau ia pun mempunyai kekuatan untuk itu. Qabil telah bertekad kuat dalam tekadnya untuk menanggung dosa saudaranya dan dosanya sendiri, yaitu dosa membunuhnya ditambah dengan dosa-dosa yang telah dilakukan Qabil terdahulu. Ini adalah yang diriwayatkan dari Mujahid, As-Suddi, Ibnu Jarir dan lainnya.

Diriwayatkan bahwa Habil dibunuh Qabil dengan cara dipukul kepalanya dengan besi hingga tewas. Ada pula yang meriwayatkan bahwa Qabil membunuhnya dengan tombak yang ia lemparkan ke kepala Habil ketika ia sedang tidur. Dan yang lain mengatakan Qabil mencekik Habil dengan cekikan yang sangat kuat dan menggigitnya sebagaimana yang dilakukan hewan buas hingga Habil tewas seketika. Allahu a’lam. Redaksi Al-Qur’an tidak menceritakan bagaimana detil pembunuhan oleh karena itu hendaknya kita batasi pada apa yang difirmankan oleh Allah Ta’ala saja. Ahli kitab meriwayatkan bahwa pembunuhan terjadi di Gunung Qasiyun yang terletak di sebelah utara Damaskus, disebut juga sebagai gua darah. Menurut mereka di tempat inilah Qabil membunuh saudaranya, Habil, Allahu a’lam, ini adalah kabar israiliyat.

Al-Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah bersabda, “Janganlah membunuh jiwa secara zhalim karena akan mengakibatkan anak Adam yang pertama menanggung hukumannya karena dialah yang pertama kali mencontohkan pembunuhan.” [HR Bukhari no. 3335; Muslim no. 1677; Tirmidzi no. 2673; An-Nasa’i no. 3985; Ibnu Majah no. 2616; Ahmad no. 3623]. Demikian pula yang diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-’Ash dan Ibrahim An-Nakha’i bahwa keduanya berkata demikian.

Firman Allah, “Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayit saudaranya. Berkata Qabil: “Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayit saudaraku ini?” Karena itu jadilah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal,” Diriwayatkan bahwa ketika Qabil selesai membunuh Habil, ia membawa mayat saudaranya di pundaknya selama setahun, ada yang menyebutkan selama seratus tahun. Ia kebingungan apa yang harus dilakukan atas mayat saudaranya tersebut dan terus seperti itu hingga Allah Ta’ala mengutus 2 ekor gagak.

As-Suddi berkata dari beberapa orang sahabat Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, ada 2 ekor gagak yang bertengkar kemudian salah satunya membunuh yang lain, gagak yang membunuh kemudian menggali lubang dan mengubur gagak yang mati. Qabil melihat mereka dan ia berkata, “Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayit saudaraku ini?“, kemudian Qabil pun melakukan apa yang dilakukan oleh gagak tersebut, menimbun dan mengubur mayat saudaranya. Dengan demikian, perbuatan zhalim yang pertama kali terjadi di muka bumi pun tercatat dalam sejarah umat manusia sebagai buah atas rasa dengki seorang anak kepada saudaranya karena kurban saudaranya yang ia adalah kurban yang bagus dan sehat, diterima oleh Allah Ta’ala.

Mujahid menyebutkan bahwa Qabil dipercepat hukumannya pada hari dia membunuh saudaranya, dia menengadahkan wajahnya ke arah langit sebagai bentuk hukuman dengki atas saudaranya berikut penyesalannya. Al-Imam Abu Daud meriwayatkan dari sahabat Abu Bakrah, bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Tidak ada dosa yang lebih pantas untuk disegerakan hukumannya bagi pelakunya di dunia bersama dengan adzab yang disimpan di akhirat selain dari kezhaliman dan memutus tali silaturahim.” [HR Abu Daud no. 4902; Tirmidzi no. 2511; Ibnu Majah no. 4211; Ahmad no. 19861; dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Daud].

Beberapa Hal Setelah Pembunuhan Habil

Al-Imam Ibnu Jarir menyebutkan dalam Tarikhnya, sesungguhnya Hawa melahirkan anak untuk Adam sebanyak 40 orang, pada 20 kali kehamilan, pada setiap kelahiran terdapat laki-laki dan perempuan, sebagaimana yang telah disebutkan oleh Ibnu Ishaq. Kemudian manusia tersebar dan semakin banyak populasinya di muka bumi, sebagaimana firman Allah Ta’ala :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. [QS An-Nisa’ : 1]

Al-Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanadnya dari Samurah bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Ketika Hawa mengandung, Iblis mengelilinginya hingga tak seorang pun anaknya yang hidup. Iblis lalu membisikkan, ‘Namakanlah anakmu Abdul Harits, niscaya ia akan hidup.’ Mereka pun menamakannya Abdul Harits dan ia pun hidup. Padahal, itu merupakan bagian dari bisikan dan perintah setan.” [HR Ahmad no. 19258; Tafsir Ath-Thabari 9/147. Didalam sanadnya ada Umar bin Ibrahim Abu Hafsh Al-Bashri, ia shaduq tetapi riwayatnya dha’if jika meriwayatkan dari Qatadah, dan di dalam hadits ini ia meriwayatkan dari Qatadah. Ahmad berkata, ia meriwayatkan hal-hal mungkar dari Qatadah, lihat Tahdzibut Tahdzib no. 6695].

Ibnu Katsir mengomentari hadits ini : Riwayat tersebut didapatkan dari kabar-kabar Israiliyat. Allah telah menciptakan Adam dan Hawa dan keduanya telah menjadi sumber manusia, maksudnya adalah agar berkembang biak dari keduanya keturunan manusia, baik lelaki maupun perempuan. Maka bagaimana pula anak mereka tidak dapat hidup sebagaimana dijelaskan hadits diatas jika anaknya adalah anak yang dipelihara oleh Allah? Maka periwayatan hadits tersebut secara marfu’ kepada Nabi adalah keliru, dan yang benar adalah periwayatannya secara mauquf. Secara zhahir, hadits ini kemungkinan didapat dari Ka’ab Al-Ahbar. Allahu a’lam.

Disebutkan dalam Taurat yang ada pada ahli kitab, bahwa setelah kematian Habil, Adam menggauli Hawa, kemudian setelah beberapa lama ia melahirkan seorang anak. Anak itu diberi nama Syits. Hawa berkata, “Karena dia adalah ganti bagiku setelah Habil yang dibunuh oleh Qabil.” Kemudian Syits memiliki anak yang bernama Anusy. Ahli kitab berkata, ‘Umur Adam ketika Hawa melahirkan Syits adalah 130 tahun, dan setelah itu ia hidup selama 800 tahun. Umur Syits ketika Anusy dilahirkan adalah 165 tahun dan hidup setelah itu selama 807 tahun, kemudian Hawa melahirkan bagi Adam anak laki-laki dan perempuan selain Anusy. Kemudian Anusy dikaruniai anak yang bernama Qanin yang mana pada saat itu ia telah berumur 90 tahun dan setelah itu ia hidup 815 tahun. Ketika umur Qanin 70 tahun, ia dikaruniai Mahla’il dan berturut-turut disebutkan keturunannya hingga Khanukh atau yang kita kenal dengan Nabi Idris Alaihissalam. Demikianlah yang telah disebutkan ahli kitab dari sumber yang mereka punya yang mana sumber tersebut telah terdistorsi oleh tangan-tangan kotor dan jahil yang memusuhi syari’at Allah Ta’ala yang dibawa oleh para utusanNya.

Allahu a’lamu bishawab.

Sumber :

1. Al-Bidayah wa An-Nihayah karya Al-Hafizh Ibnu Katsir, juz 1, tahqiq : Dr. Abdullah bin Abdul Muhsin At-Turki. Penerbit Pustaka Azzam

2. Tafsir Ibnu Katsir, QS Al-Maa’idah ayat 27-31.

Sumber Tulisan >> http://muhandisun.wordpress.com/2013/01/14/kisah-nabi-adam-alaihissalaam-habil-dan-qabil-pembunuhan-pertama-2/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s