Jejak Salafush Shalih

Satu Hadits Cukup Membuatnya Taubat

taubat agung

Ini adalah salah satu kisah pertaubatan di kalangan salaf yang saya kagumi.

Taubatnya Al-Qa’nabiy, mantan pecandu khamr. Perlu rekan-rekan ketahui bahwa Al-Qa’nabiy ini adalah seorang imam di jamannya, cahaya yang membuat cahaya-cahaya lain di dunia redup. Ia adalah ‘Abdullah bin Maslamah bin Qa’nab Al-Qa’nabiy Al-Haaritsiy, Abu ‘Abdirrahmaan Al-Madaniy Al-Bashriy.

Adz-Dzahabiy menyebutnya dengan : imam yang tsabt (kokoh dalam hadits), lagi teladan, seorang Syaikhul-Islaam [Siyaru A’laamin-Nubalaa’, 10/257]. Ia adalah salah satu ashhaab (murid) Al-Imaam Maalik yang paling besar, sebagaimana dikatakan oleh ‘Aliy bin Al-Madiiniy. [As-Siyar, 10/261]

Bagaimana pertaubatannya itu? Berikut kisah ringkasnya:

عن بعض ولد القعنبي، بالبصرة، قال: كان  أبي  يشرب النبيذ، ويصحب الأحداث، فدعاهم يوما وقد قعد على الباب ينتظرهم، فمر شعبة على حماره، والناس خلفه يهرعون، فقال: من هذا؟ قيل: شعبة، قال: وأيش شعبة؟ قالوا: محدث، فقام إليه وعليه إزار أحمر، فقال له: حدثني. فقال له: ما أنت من أصحاب الحديث فأحدثك؟ فأشهر سكينه، وقال: تحدثني أو أجرحك؟ فقال له: حَدَّثَنَا مَنْصُورٌ، عَنْ رِبْعِيٍّ، عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ “.

فَرَمَى سِكِّينَهُ، وَرَجَعَ إِلَى مَنْزِلِهِ، فَقَامَ إِلَى جَمِيعِ مَا كَانَ عِنْدَهُ مِنَ الشَّرَابِ فَهَرَاقَهُ، وَقَالَ لأُمِّهِ: السَّاعَةَ أَصْحَابِي يَجِيئُونَ، فَأَدْخِلِيهِمْ وَقَدِّمِي الطَّعَامَ إِلَيْهِمْ، فَإِذَا أَكَلُوا، فَخَبِّرِيهِمْ بِمَا صَنَعْتُ بِالشَّرَابِ حَتَّى يَنْصَرِفُوا، وَمَضَى مِنْ وَقْتِهِ إِلَى الْمَدِينَةِ، فَلَزِمَ مَالِكَ بْنَ أَنَسٍ، فَأَثَرَ عَنْهُ، ثُمَّ رَجَعَ إِلَى الْبَصْرَةِ وَقَدْ مَاتَ شُعْبَةُ، فَمَا سَمِعَ مِنْهُ غَيْرَ هَذَا الْحَدِيثِ

Dari sebagian anak-anak Al-Qa’nabiy di Bashrah, ia berkata : Dulu ayahku seorang peminum nabiidz (sejenis khamr) dan berteman dengan anak-anak muda. Suatu hari, ia mengundang mereka (untuk minum-minum). Saat ia duduk di depan pintu menunggu kedatangan mereka, lewatlah Syu’bah dengan menaiki keledainya yang diikuti oleh orang-orang yang tergopoh-gopoh lari mengikutinya. (Dengan keheranan) Al-Qa’nabiy berkata: “Siapakah orang ini?”. Dikatakan kepadanya: “Syu’bah!”. Ia berkata: “Siapa itu Syu’bah?”. Orang-orang berkata: “Dia seorang ahli hadits (muhaddits)!”.

Lalu Al-Qa’nabiy berdiri menghampiri Syu’bah yang waktu itu mengenakan pakaian berwarna merah. Al-Qa’nabiy berkata kepadanya: “Sampaikanlah hadits kepadaku”. Syu’bah berkata: “Engkau bukanlah seorang ahli hadits yang membuatku harus menyampaikan hadits kepadamu”.

(Karena marah), Al-Qa’nabiy pun menghunus pisaunya (mengancam Syu’bah) seraya berkata: “Engkau sampaikan hadits kepadaku, atau engkau akan aku lukai dengan pisau ini?”. Syu’bah berkata: “Telah menceritakan kepadaku Manshuur, dari Rib’iy, dari Abu Mas’uud, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Apabila engkau tidak malu, maka silakan engkau lakukan apa yang engkau suka’.[1]

(Setelah mendengarnya) Al-Qa’nabiy melempar pisaunya lalu pulang ke rumahnya. Lalu ia berjalan menuju persediaan bejana-bejana nabiidz yang ia miliki di rumah dan menumpahkannya. Ia berkata kepada ibunya : “Saat teman-temanku datang nanti, persilakan masuk ke rumah dan sediakan makanan untuk mereka. Jika mereka telah selesai makan, maka khabarkanlah tentang apa yang aku lakukan terhadap minumanku tadi hingga mereka pulang”.

Tak lama kemudian setelah kejadian itu, ia pergi ke Madiinah menimba ilmu di hadapan Maalik bin Anas rahimahullah. Maalik sangat berpengaruh pada dirinya. Kemudian ia kembali ke Bashrah yang saat itu Syu’bah telah meninggal. Al-Qa’nabiy tidak mendengar hadits dari Syu’bah kecuali hadits ini (yang ia dengar ketika masih menjadi pemabuk dan sekaligus membuatnya bertaubat dari perbuatannya tersebut).

[Diriwayatkan oleh Ibnul-Jauziy dalam Al-Muntadham 16/248, Ibnu Qudaamah dalam At-Tawwaabuun hal. 220-221, dan Ibnul-Abaar Al-Qadlaa’iy dalam Mu’jamu Ashhaabi Al-Qaadliy Abi ‘Aliy Ash-Shadafiy no. 82]

Catatan :

[1] HR. Abu Daawud no. 4797, ‘Abdullah bin Ahmad dalam Zawaaidu Musnad Ahmad (no. 21840), Ibnu Hibbaan no. 607, Ath-Thabaraaniy dalam Al-Kabiir 17/235-236 no. 651, Al-Qadlaa’iy dalam Musnad Asy-Syihaab no. 1153 & 1155, dan yang lainnya.

Sumber : abul-jauzaa.blogspot.com
Artikel elmuntaqa.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s