Al-Qur'an dan Tafsir

Kesyirikan yang Pertama di Muka Bumi

Syirik

Tahukah anda, siapakah kaum yang pertama kali melakukan kesyirikan di muka bumi ini? Mereka adalah kaum Nuh ‘Alaihissalaam. Iblis dan bala tentaranya membuat tipu daya kepada mereka agar mereka menyembah orang-orang shalih yang telah wafat sebelum mereka. Tentangnya, Allah Ta’ala berfirman :

قَالَ نُوحٌ رَبِّ إِنَّهُمْ عَصَوْنِي وَاتَّبَعُوا مَنْ لَمْ يَزِدْهُ مَالُهُ وَوَلَدُهُ إِلا خَسَارًا. وَمَكَرُوا مَكْرًا كُبَّارًا. وَقَالُوا لا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلا سُوَاعًا وَلا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا

Nuh berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka telah mendurhakai-ku, dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka, dan melakukan tipu-daya yang amat besar”. Dan kaumnya berkata, “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwaa’, yaghuts, ya’uq dan nasr.” [QS Nuh : 21-23]

Wadd, suwaa’, yaghuts, ya’uq dan nasr adalah nama-nama orang-orang shalih dari kaum Nuh yang telah wafat. Iblis dan syetan membisikkan kepada kaum Nuh agar membuatkan gambar-gambar mereka agar mudah dikenang dan agar lebih khusyuk mendekatkan diri dalam beribadah kepada Allah. Tahun demi tahun berlalu, seiring dengan hilangnya ilmu, kaum Nuh terjerumus ghuluw pada orang-orang shalih tersebut, akhirnya iblis dan syetan membisikkan pada anak keturunan kaum Nuh agar membuatkan patung-patung orang-orang shalih tersebut sebagai tuhan dalam peribadahan. Dan terciptalah kesyirikan yang pertama kali di muka bumi ini.

Al-Imaam ‘Abdurrazzaaq Ash-Shan’aaniy meriwayatkan:

عَنْ مَعْمَرٍ , عَنْ قَتَادَةَ , فِي قَوْلِهِ تَعَالَى : لا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلا سُوَاعًا وَلا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا سورة نوح آية 23 قَالَ : ” كَانَتْ آلِهَةً يَعْبُدُهَا قَوْمُ نُوحٍ , ثُمَّ كَانَتِ الْعَرَبُ تَعْبُدُهَا بَعْدُ فَكَانَ وَدًا لِكَليْبٍ بِدَوْمَةَ الْجَنْدَلِ , وَكَانَ سُوَاعٌ لِهُذَيْلٍ , وَكَانَ يَغُوثُ لِبَنِي غُطَيْفٍ مِنْ مُرَادِ بِالْجَوْفِ , وَكَانَ يَعُوقُ لِهَمْدَانَ , وَكَانَ نَسْرٌ لِذِي الْكَلاعِ مِنْ حِمْيَرٍ “

Dari Ma’mar, dari Qataadah, mengenai firman Allah QS. Nuh: 23, (Qataadah berkata) “Mereka adalah tuhan-tuhan yang disembah oleh kaum Nuh, kemudian diikuti oleh orang-orang ‘Arab setelahnya. Wadd di Bani Kalb di Daumatul Jandal, suwaa’ di Hudzail, yaghuuts di Bani Guthaif dari Murad Al-Juf, ya’uuq di Hamdaan, nasr di Dzil Kalaa’i dari Himyar.”

[Tafsiir ‘Abdurrazzaaq no. 3253]. Diriwayatkan juga oleh Imaam Al-Bukhaariy dalam Shahiihnya no. 4636 dari Ibnu ‘Abbaas -radhiyallahu ‘anhuma]

Oleh karena itulah Nabi Nuh ‘Alaihissalaam diutus Allah sebagai Rasul pertama, untuk memberantas kesyirikan yang sekarang merajalela di muka bumi, dan utamanya untuk menegakkan kalimat tauhid dan mengembalikan penyembahan kepada Allah Jalla wa ‘Alaa’ sebagai satu-satunya Tuhan yang disembah di muka bumi ini sebagaimana kaum-kaum sebelum kaum Nuh.

Al-Haafizh Abu Bakr Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan:

حدثنا يحيى بن سعيد عن سفيان عن أبيه عن عكرمة، قال : “كان بين آدم و نوح عشرة قرون، كلها على الإسلام

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’iid, dari Sufyaan, dari Ayahnya, dari ‘Ikrimah, ia berkata, “Diantara Adam dan Nuh terbentang kurun waktu 10 abad, semua berada diatas Islam.” [Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 12/20 no. 34510] – sanadnya shahih hingga ‘Ikrimah.

Al-Haafizh Ibnu Abi Haatim meriwayatkan:

حَدَّثَنَا أَبِي ، ثنا الرَّبِيعُ بْنُ نَافِعٍ الْحَلَبِيُّ بِطَرَسُوسَ ، ثنا مُعَاوِيَةُ بْنُ سَلامٍ ، عَنْ أَخِيهِ زَيْدِ بْنِ سَلامٍ ، أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا سَلامٍ ، قَالَ : حَدَّثَنِي أَبُو أُمَامَةَ الْبَاهِلِيُّ ، ” أَنَّ رَجُلا ، قَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَنَبِيٌّ كَانَ آدَمُ ؟ قَالَ : نَعَمْ مُكَلَّمٌ ، قَالَ : كَمْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ نُوحٍ ؟ قَالَ : عَشَرَةُ قُرُونٍ ، قَالَ : كَمْ كَانَ بَيْنَ نُوحٍ وَإِبْرَاهِيمَ ؟ قَالَ : عَشَرَةُ قُرُونٍ “

Telah menceritakan kepada kami Ayahku, telah menceritakan kepada kami Ar-Rabii’ bin Naafi’ Al-Halabiy di Tharsus, telah menceritakan kepada kami Mu’aawiyah bin Salaam, dari saudaranya yaitu Zaid bin Salaam, bahwa ia mendengar Abu Salaam berkata, telah menceritakan kepadaku Abu Umamah Al-Baahiliy, bahwa ada seorang laki-laki bertanya (kepada Rasulullah), “Wahai Rasulullah, apakah Adam seorang Nabi?” Rasulullah menjawab, “Ya, (seperti) yang kau katakan.” Laki-laki itu bertanya, “Berapa jarak antara beliau dan Nuh?” Rasul bersabda, “10 abad.” Laki-laki itu bertanya, “Berapa jarak antara Nuh dan Ibraahiim? Rasul bersabda, “10 abad.” [Tafsiir Ibnu Abi Haatim no. 15183] – sanadnya shahih.

Allah Ta’ala berfirman:

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ وَالْمَلائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. [QS Ali ‘Imraan: 18]

Allahu a’lam.

Sumber : muhandisun.wordpress.com – Artikel elmuntaqa.wordpress.com

Kisah Nabi Nuh ‘Alaihissalaam selengkapnya bisa dibaca disini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s