Hadits

20 Hadits Pilihan Dari Shahih al-Bukhari

20 Hadits Pilihan dari Shahih Bukhari

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Mukadimah Ke-1: Keutamaan Ulama Hadits

[1] al-Buwaithi berkata: Aku mendengar Syafi’i mengatakan, “Hendaklah kalian berpegang kepada para ulama hadits, sesungguhnya mereka adalah manusia yang paling banyak kebenarannya.” (lihat Tarajim al-A’immah al-Kibar, hal. 63)

[2] Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Apabila aku melihat salah seorang As-habul Hadits seolah-olah aku sedang melihat salah seorang Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga Allah memberikan balasan terbaik untuk mereka. Mereka telah menjaga dalil (hadits) untuk kita. Oleh sebab itu kita sangat berhutang budi kepada mereka.” (lihat Tarajim al-A’immah al-Kibar, hal. 63 dan Manaqib al-A’immah al-Arba’ah, hal. 118)

[3] Ahmad bin Sinan al-Qaththan rahimahullah berkata, “Tidaklah ada di dunia ini seorang ahli bid’ah kecuali dia pasti membenci ahli hadits. Maka apabila seorang membuat ajaran bid’ah niscaya akan dicabut manisnya hadits dari dalam hatinya.” (lihat Da’a’im Minhaj Nubuwwah, hal. 124)

[4] Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Para malaikat adalah para penjaga langit sedangkan ashabul hadits adalah para penjaga bumi.” (lihat Manaqib al-Imam al-A’zham Abi ‘Abdillah Sufyan bin Sa’id ats-Tsauri, hal. 31)

[5] Muhammad bin Abi Hatim rahimahullah mengatakan: Aku mendengar Yahya bin Ja’far al-Baikandi berkata, “Seandainya aku mampu menambah umur Muhammad bin Isma’il (Imam Bukhari) dari jatah umurku niscaya akan aku lakukan. Karena kematianku adalah kematian seorang lelaki biasa. Adapun kematiannya berarti lenyapnya ilmu [agama].” (lihat Tarajim al-A’immah al-Kibar, hal. 118)

Mukadimah Ke-2: Kemuliaan Ilmu Hadits

[6] Abu Salamah al-Khuza’i rahimahullah berkata: Adalah Malik bin Anas, apabila beliau ingin berangkat untuk mengajarkan hadits maka beliau pun berwudhu sebagaimana wudhu untuk sholat. Beliau mengenakan pakaiannya yang terbaik dan memakai peci. Dan beliau pun menyisir jenggotnya. Tatkala hal itu ditanyakan kepadanya, beliau menjawab, “Aku ingin memuliakan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (lihat Manaqib al-A’immah al-Arba’ah oleh Imam Ibnu Abdil Hadi rahimahullah, hal. 87-88)

[7] Waki’ rahimahullah berkata, “Tidaklah Allah diibadahi dengan sesuatu yang lebih utama daripada [ilmu] hadits.” (lihat Tajrid al-Ittiba’ fi Bayan Asbab Tafadhul al-A’mal, hal. 27)

[8] Bisyr bin al-Harits rahimahullah berkata, “Tidaklah aku mengetahui di atas muka bumi ini suatu amalan yang lebih utama daripada menuntut ilmu dan mempelajari hadits yaitu bagi orang yang bertakwa kepada Allah dan lurus niatnya.” (lihat Tajrid al-Ittiba’ fi Bayan Asbab Tafadhul al-A’mal, hal. 27)

[9] Ja’far ash-Shadiq rahimahullah berkata, “Meriwayatkan hadits dan menyebarkannya di tengah-tengah umat manusia itu jauh lebih utama daripada ibadah yang dilakukan oleh seribu ahli ibadah.” (lihat Jami’ Bayan al-’Ilmi wa Fadhlihi, hal. 131)

[10] Mak-hul asy-Syami rahimahullah berkata, “al-Qur’an lebih membutuhkan kepada as-Sunnah, daripada kebutuhan as-Sunnah terhadap al-Qur’an.” (lihat Nasha’ih Manhajiyah li Thalib ‘Ilmi as-Sunnah an-Nabawiyah, hal. 15)

[11] asy-Syarif Hatim bin ‘Arif al-’Auni hafizhahullah mengatakan, “Oleh sebab itu benarlah jika dikatakan bahwa orang yang sedang mempelajari as-Sunnah (hadits) sebagai orang yang sedang mempelajari al-Qur’an. Dan tidaklah salah jika dikatakan kepada orang yang membaca as-Sunnah, bahwa dia sedang membaca tafsir al-Qur’an!!” (lihat Nasha’ih Manhajiyah li Thalib ‘Ilmi as-Sunnah an-Nabawiyah, hal. 15)

[12] Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi umat manusia daripada hadits.” (lihat Manaqib al-Imam al-A’zham Abi ‘Abdillah Sufyan bin Sa’id ats-Tsauri, hal. 32)

Mukadimah Ke-3: Ikhlas Dalam Belajar Hadits

[13] Imam Ibnu Baththal rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang mempelajari hadits demi memalingkan wajah-wajah manusia kepada dirinya maka di akherat Allah akan memalingkan wajahnya menuju neraka.” (lihat Syarh Shahih al-Bukhari karya Ibnu Baththal, 1/136)

[14] Waki’ bin al-Jarrah rahimahullah berkata, “Barangsiapa menimba ilmu hadits sebagaimana datangnya (apa adanya, pen) maka dia adalah pembela Sunnah. Dan barangsiapa yang menimba ilmu hadits untuk memperkuat pendapatnya semata maka dia adalah pembela bid’ah.” (lihat Mukadimah Tahqiq Kitab az-Zuhd, hal. 69)

[15] Hisyam ad-Dastuwa’i rahimahullah berkata, “Demi Allah, aku tidak mampu untuk berkata bahwa suatu hari aku pernah berangkat untuk menuntut hadits dalam keadaan ikhlas karena mengharap wajah Allah ‘azza wa jalla.” (lihat Ta’thirul Anfas, hal. 254)

[16] Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Fitnah yang timbul oleh hadits lebih dahsyat daripada fitnah yang ditimbulkan dari emas dan perak.” (lihat Manaqib al-Imam al-A’zham Abi ‘Abdillah Sufyan bin Sa’id ats-Tsauri, hal. 33)

[17] Abdurrahman bin Mahdi rahimahullah berkata, “Fitnah yang timbul dari hadits lebih dahsyat daripada fitnah karena harta dan anak-anak.” (lihat Min A’lam as-Salaf [2/97])

[18] ar-Rabi’ berkata: Aku mendengar beliau -Imam Syafi’i- mengatakan, “Langit manakah yang akan menaungiku. Bumi manakah yang akan menjadi tempat berpijak bagiku. Jika aku meriwayatkan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian aku tidak berpendapat sebagaimana kandungan hadits tersebut.” (lihat Tarajim al-A’immah al-Kibar, hal. 56)

Mukadimah Ke-4: Belajar Hadits Secara Bertahap dan Terus Menerus

[19] Ma’mar mengatakan: Aku pernah mendengar az-Zuhri mengatakan, “Barangsiapa yang menuntut ilmu secara instan maka ia akan hilang dengan cepat. Sesungguhnya ilmu hanya akan diperoleh dengan menekuni satu atau dua hadits, sedikit demi sedikit.” (lihat al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an [1/70])

[20] Imam al-Qurthubi rahimahullah mengatakan, “Ulama hadits berpesan, tidak semestinya seorang penimba ilmu hadits mencukupkan diri mendengar dan mencatat hadits tanpa mengetahui dan memahami kandungannya. Sebab hal itu akan membuang tenaganya dalam keadaan dia tidak mendapatkan apa-apa. Hendaknya dia menghafalkan hadits secara bertahap. Sedikit demi sedikit seiring dengan perjalanan siang dan malam.” (lihat al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an [1/70])

[21] Suatu saat Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah dicela karena sedemikian sering mencari hadits. Beliau pun ditanya, “Sampai kapan kamu akan terus mendengar hadits?”. Beliau menjawab, “Sampai mati.” (lihat Nasha’ih Manhajiyah li Thalib ‘Ilmi as-Sunnah an-Nabawiyah, hal. 58)

[22] Tatkala begitu banyak orang yang menghadiri pelajaran hadits pada masa al-A’masy maka ada yang berkata kepada beliau, “Wahai Abu Muhammad, lihatlah mereka?! Betapa banyak jumlah mereka!!”. Maka beliau menjawab, “Janganlah kamu lihat kepada banyaknya jumlah mereka. Sepertiganya akan mati. Sepertiga lagi akan disibukkan dengan pekerjaan. Dan sepertiganya lagi, dari setiap seratus orang hanya akan ada satu orang yang berhasil -menjadi ulama-.” (lihat Nasha’ih Manhajiyah li Thalib ‘Ilmi as-Sunnah an-Nabawiyah, hal. 28)

[23] Waki’ rahimahullah berkata, “Apabila kamu ingin menghafalkan hadits, maka amalkanlah hadits itu.” (lihat mukadimah az-Zuhd karya Imam Waki’, hal. 91)

Hadits Ke-1: Urgensi Ikhlas

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

‘Utsman menuturkan kepada kami. Dia berkata: Jarir mengabarkan kepada kami dari Manshur dari Abu Wa’il dari Abu Musa –radhiyallahu’anhu– dia berkata:

Ada seorang lelaki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu dia mengatakan, “Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan perang di jalan Allah? Sebab ada diantara kami ini yang berperang karena kemarahan dan berperang demi kebanggaan.”

-maka beliau/nabi pun mengangkat kepalanya kepada orang itu-

Periwayat berkata: Tidaklah beliau/nabi mengangkat kepalanya kepada orang itu kecuali karena si penanya dalam posisi berdiri -sedangkan nabi duduk, pent- lalu beliau menjawab,

“Barangsiapa yang berperang untuk menjadikan kalimat Allah paling mulia maka dialah yang berada di jalan Allah ‘azza wa jalla.”

[lihat Shahih Bukhari bersama Fath al-Bari Jilid 1 hal. 269 cet. Dar al-Hadits]

Keterangan Ringkas:

al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengomentari kandungan hadits ini, “Di dalam hadits ini terdapat syahid/dalil pendukung bagi hadits al-a’maalu bin niyaat; amal itu dinilai berdasarkan niatnya…” [lihat Fath al-Bari Jilid 1 hal. 270]

Imam al-’Aini rahimahullah menjelaskan, “Di dalamnya terkandung pelajaran bahwa ikhlas merupakan syarat diterimanya ibadah.” [lihat ‘Umdat al-Qari, Jilid 2 hal. 297]

Imam Ibnu Rajab rahimahullah mengutip riwayat senada, beliau berkata:

an-Nasa’i mengeluarkan hadits dari Abu Umamah –radhiyallahu’anhu– dia berkata: Ada seorang lelaki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu dia berkata, “Bagaimana pendapat anda tentang seorang lelaki yang berperang untuk mencari pahala sekaligus mencari sebutan/popularitas, apa yang akan dia dapatkan?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Dia tidak mendapatkan pahala apa-apa.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak akan menerima -amalan- kecuali yang ikhlas dan untuk mencari wajah-Nya.”

[lihat Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 21 cet. Dar al-Hadits]

Hadits Ke-2: Amalan Yang Paling Dicintai Allah

Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan:

Abul Walid Hisyam bin Abdul Malik menuturkan kepada kami. Dia berkata: Syu’bah menuturkan kepada kami. Dia berkata: al-Walid bin al-’Aizar mengabarkan kepadaku. Dia berkata: Aku mendengar Abu ‘Amr asy-Syaibani. Dia berkata: Si pemilik rumah ini -beliau mengisyaratkan kepada rumah Abdullah -bin Mas’ud- – menuturkan kepada kami.

Dia -Ibnu Mas’ud- berkata: Aku pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Amal apakah yang paling dicintai Allah?” Beliau menjawab, “Sholat tepat pada waktunya.” Dia [Ibnu Mas’ud] berkata, “Lalu apa?” Beliau menjawab, “Kemudian berbakti kepada kedua orang tua.” Dia [Ibnu Mas’ud] berkata, “Lalu apa?” Beliau menjawab, “Jihad fi sabilillah.”

Dia [Ibnu Mas’ud] berkata, “Beliau menuturkan hal itu semuanya kepadaku, seandainya aku menambah pertanyaan niscaya beliau pun akan menjawabnya.”

[lihat Shahih al-Bukhari bersama Fath al-Bari Jilid 2 hal. 12 tahqiq Syaibatul Hamd]

Keterangan Ringkas:

al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan -sembari menukil pendapat ulama yang lain- bahwa yang dimaksud dengan jihad dalam hadits ini adalah jihad yang bukan fardhu ‘ain, sebab jihad yang semacam itu dipersyaratkan adanya izin dari kedua orang tua; sehingga berbakti kepada keduanya harus lebih dikedepankan di atasnya; yaitu jihad yang fardhu kifayah, pent [lihat Fath al-Bari Jilid 2 hal. 13 tahqiq Syaibatul Hamd]

Ibnu Bazizah rahimahullah berkata, “Berdasarkan pengkajian lebih dalam kiranya bisa disimpulkan bahwa sebenarnya jihad lebih didahulukan -keutamaannya- daripada seluruh amal badan. Karena di dalam jihad seorang rela mengorbankan nyawanya. Meskipun demikian, sesungguhnya bersabar dalam menunaikan sholat tepat pada waktunya secara kontinyu dan menjaga kesetiaan dalam berbakti kepada kedua orang tua merupakan suatu perkara yang wajib dan sifatnya terus-menerus [tidak temporer, pent]. Tidak ada yang bisa bersabar menghadapi pengawasan perintah Allah dalam hal itu kecuali orang-orang yang shiddiq, wallahu a’lam.” [lihat Fath al-Bari Jilid 2 hal. 1 tahqiq Syaibatul Hamd]

Syaikh Ibrahim bin ‘Amir ar-Ruhaili hafizhahullah menambahkan keterangan dari kesimpulan beliau terhadap kajian Imam Ibnu Rajab rahimahullah seputar amal yang paling utama. Beliau berkata, “Sesungguhnya amal yang paling utama adalah apa-apa yang diwajibkan Allah kepada segenap hamba-Nya, sementara iman kepada Allah dan rasul-Nya merupakan amal yang paling utama secara mutlak.” [lihat Tajrid al-Ittiba’, hal. 20]

Kemudian beliau mengatakan, “Adapun jawaban Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam hadits Ibnu Mas’ud bahwa amalan yang paling utama adalah sholat tepat pada waktunya; hal itu disebabkan sholat adalah amal anggota badan yang paling utama. Sementara dalam kesempatan lainnya terkadang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut iman kepada Allah dan rasul-Nya sebagai amal yang paling utama; hal itu disebabkan ia merupakan amal hati yang paling utama…” [lihat Tajrid al-Ittiba’, hal. 20]

Kemudian, Syaikh Ibrahim pun menukil kesimpulan yang diambil oleh Imam Ibnu Rajab. Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Dengan penetapan hasil pengkajian ini teranglah bahwasanya hadits-hadits itu menunjukkan bahwa amal yang paling utama ialah; dua kalimat syahadat bersama dengan konsekuensi-konsekuensinya yaitu rukun-rukun Islam setelahnya, atau sholat bersama dengan ikutan-ikutannya/penyempurna atasnya -juga- yang merupakan perkara yang sifatnya fardhu ‘ain dan termasuk penunaian atas hak-hak Allah ‘azza wa jalla. Kemudian yang paling utama setelah itu adalah perkara yang sifatnya wajib ‘ain dari hak-hak sesama hamba semisal berbakti kepada kedua orang tua. Kemudian setelah itu adalah amal-amal sunnah yang semakin mendekatkan diri kepada Allah, dan yang paling utama diantara itu [amal-amal sunnah] adalah jihad.” [lihat Tajrid al-Ittiba’, hal. 21]

Syaikh Ibrahim bin ‘Amir ar-Ruhaili hafizhahullah juga menambahkan kesimpulan bahwa amal-amal yang paling utama setelah amal-amal wajib ada tiga, yaitu; menuntut ilmu -yang sifatnya sunnah-, jihad, dan dzikir. Secara berurutan -berdasarkan penilitian para ulama – disimpulkan bahwa amal sunnah yang paling utama adalah; ilmu, setelah itu jihad, kemudian dzikir [silahkan baca lebih lengkap dalam Tajrid al-Ittiba’, hal. 25-31]

Hadits Ke-3: Malapetaka Akhir Zaman

Imam Bukhari rahimahullah menuturkan:

‘Umar bin Hafsh menuturkan kepada kami. Dia berkata: Ayahku menuturkan kepada kami. Dia berkata: al-A’masy menuturkan kepada kami. Dia berkata: Syaqiq menuturkan kepada kami. Dia berkata: Suatu saat Abdullah -bin Mas’ud- dan Abu Musa duduk-duduk bersama. Mereka berdua pun berbincang-bincang. Abu Musa pun berkata:

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya menjelang hari kiamat nanti akan ada hari-hari dimana ilmu itu diangkat, kebodohan turun/merebak dimana-mana, dan banyak terjadi al-harj.” Yang dimaksud al-harj adalah pembunuhan.

[lihat Shahih al-Bukhari bersama Fath al-Bari tahqiq Syaibatul Hamd Juz 13 hal. 16]

Hadits Ke-4: Marah Di Saat Memberikan Nasihat

Imam Bukhari rahimahullah menuturkan:

Muhammad bin Katsir menuturkan kepada kami. Dia berkata: Sufyan mengabarkan kepada saya. Dari Ibnu Abi Khalid. Dari Qais bin Abi Hazim. Dari Abu Mas’ud al-Anshari.

Dia berkata: Ada seorang lelaki berkata, “Wahai Rasulullah, hampir-hampir saja aku tidak mengikuti sholat jama’ah gara-gara si fulan apabila menjadi imam terlalu panjang -bacaannya-.”

Abu Mas’ud berkata: Tidaklah aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu marah dalam memberikan nasihat daripada hari itu. Maka beliau pun bersabda, “Wahai manusia, sesungguhnya kalian suka membuat lari. Barangsiapa yang menjadi imam sholat bagi orang-orang hendaklah dia ringankan. Karena sesungguhnya diantara mereka bisa jadi ada yang sakit, orang yang lemah, atau orang yang sedang diburu keperluan.”

[lihat Shahih al-Bukhari bersama Fath al-Bari tahqiq Syaibatul Hamd Juz 1 hal. 224]

Keterangan Ringkas:

Hadits ini memberikan beberapa pelajaran kepada kita, diantaranya:

  1. Bolehnya terlambat datang sholat berjama’ah apabila diketahui bahwasanya kebiasaan imam membaca bacaan yang terlalu panjang/lama
  2. Bolehnya menyebut orang dengan ungkapan si fulan atau semacamnya -tidak menyebut namanya secara terang-terangan- ketika mengadukan suatu permasalahan
  3. Bolehnya marah terhadap hal-hal yang diingkari dalam urusan-urusan agama
  4. Bolehnya mengingkari orang yang melakukan hal-hal yang terlarang meskipun itu hanya berderajat makruh dan bukan haram
  5. Adanya hukuman pelajaran bagi orang yang terlalu lama ketika menjadi imam sholat jama’ah apabila makmum tidak ridha dengan perbuatan sang imam, dan bahwasanya hukuman pelajaran itu pun boleh hanya dengan ucapan/kata-kata
  6. Perintah untuk meringankan sholat apabila diantara jama’ah ada yang tidak kuat/tidak betah sholat lama karena sakit atau ada kebutuhan/kesibukan lain

[lihat ‘Umdah al-Qari’ karya Imam al-‘Aini Juz 2 hal. 160-161]

Hadits Ke-5: Keutamaan Sholat Pada Waktunya

Imam Bukhari rahimahullah menuturkan:

Abul Walid Hisyam bin Abdul Malik menuturkan kepada kami. Dia berkata: Syu’bah menuturkan kepada kami. Dia berkata: al-Walid bin al-’Aizar mengabarkan kepadaku. Dia berkata: Aku mendengar Abu ‘Amr asy-Syaibani berkata: Sang pemilik rumah ini -dia mengisyaratkan kepada rumah Abdullah -bin Mas’ud- menuturkan kepadaku:

Aku pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Amal manakah yang lebih dicintai Allah?” Beliau menjawab, “Sholat pada waktunya.” Dia -Ibnu Mas’ud- berkata, “Lalu apa?” Beliau menjawab, “Berbakti kepada kedua orang tua.” Dia -Ibnu Mas’ud- bertanya lagi, “Lalu apa?” Beliau menjawab, “Berjihad di jalan Allah.”

Dia -Ibnu Mas’ud- berkata, “Beliau menuturkan hal itu kepadaku. Seandainya aku meminta tambahan keterangan kepada beliau niscaya beliau akan menambahkan jawaban untukku.”

[lihat Shahih al-Bukhari bersama Fath al-Bari tahqiq Syaibatul Hamd Juz 1 hal. 12]

Hadits Ke-6: Bersemangat Mencari Hadits

Imam Bukhari rahimahullah menuturkan:

Abdul Aziz bin Abdullah menuturkan kepada kami. Dia berkata: Sulaiman menuturkan kepadaku. Dari Amr bin Abi Amr. Dari Sa’id bin Abi Sa’id al-Maqburi. Dari Abu Hurairah. Beliau berkata: Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berbahagia dengan syafa’at anda pada hari kiamat kelak?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sungguh aku telah mengira, wahai Abu Hurairah, bahwasanya tidak ada seorang pun yang akan menanyakan masalah hadits ini sebelum engkau. Orang yang paling berbahagia dengan syafa’atku pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan laa ilaha illallah dengan ikhlas dari hati atau jiwanya.”

[lihat Shahih al-Bukhari bersama Fath al-Bari tahqiq Syaibatul Hamd Juz. 1 hal. 233]

Keterangan Ringkas:

Diantara faidah hadits di atas adalah menunjukkan keutamaan yang ada pada diri Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Hadits ini juga menunjukkan besarnya keutamaan bersemangat dalam menimba ilmu syari’at. Demikian makna keterangan al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah

[lihat Fath al-Bari tahqiq Syaibatul Hamd Juz. 1 hal. 233]

Di dalam hadits di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan ‘barangsiapa yang mengucapkan laa ilaha illallah’. Kata-kata ini mengandung makna bahwa orang musyrik/kafir tidak termasuk di dalamnya. Adapun kata-kata ‘dengan ikhlas’, maka di dalamnya terkandung faidah bahwa orang munafik tidak termasuk kategori orang yang akan meraih janji dan keutamaan yang disebutkan di dalam hadits ini.

[lihat Fath al-Bari tahqiq Syaibatul Hamd Juz. 1 hal. 234]

Imam Ibnu Baththal rahimahullah berkata:

Diantara pelajaran yang bisa dipetik dari hadits ini adalah bahwasanya orang-orang yang akan memperoleh syafa’at adalah kaum yang ikhlas/bertauhid saja. Mereka adalah orang-orang yang membenarkan keesaan Allah dan beriman kepada para rasul-Nya, sebagaimana ditunjukkan oleh sabda beliau ‘alaihis salam, ‘ikhlas dari hati atau jiwanya’.

[lihat Syarh Shahih al-Bukhari li Ibni Baththal Juz. 1 hal. 176]

Hadits Ke-7: Diam dan Mendengarkan Ilmu Dengan Seksama

Imam Bukhari rahimahullah menuturkan:

Hajjaj menuturkan kepada kami. Dia berkata: Syu’bah menuturkan kepada kami. Dia berkata:  Ali bin Mudrik mengabarkan kepadaku dari Abu Zur’ah, dari Jarir. Beliau menceritakan:

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bekata kepadanya pada saat Haji Wada’, “Perintahkan agar orang-orang itu diam.” Kemudian beliau bersabda, “Janganlah kalian kembali menjadi kafir setelahku; yaitu tatkala sebagian dari kalian justru memenggal leher sebagian yang lain.”

[lihat Shahih al-Bukhari bersama Fath al-Bari tahqiq Syaibatul Hamd Juz 1. hal. 262]

Keterangan Ringkas:

Sufyan ats-Tsauri rahimahullah dan para ulama lain mengatakan:

Tahapan awal dari ilmu adalah mendengarkan, kemudian diam, lalu menghafalkan, lalu mengamalkan, kemudian menyebarkannya.

[lihat Fath al-Bari tahqiq Syaibatul Hamd Juz 1. hal. 262]

Hadits Ke-8: Cinta Rasul

Imam Bukhari rahimahullah menuturkan:

Abul Yaman menuturkan kepada kami. Dia berkata: Syu’aib menuturkan kepada kami. Dia berkata: Abuz Zinad menuturkan kepada kami. Dari al-A’raj, dari Abu Hurairah –radhiyallahu’anhu-, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya. Tidaklah beriman salah seorang dari kalian sampai aku menjadi orang yang paling dicintainya, lebih daripada kecintaannya kepada ayah dan anaknya sendiri.”

[lihat Sahih al-Bukhari, bersama Fath al-Bari tahqiq Syaibatul Hamdi, 1/74-75]

Hadits Ke-9: Mencintai Kaum Anshor

Imam Bukhari rahimahullah menuturkan:

Abul Walid menuturkan kepada kami. Dia berkata: Syu’bah menuturkan kepada kami. Dia berkata: Abdullah bin Abdullah bin Jabr mengabarkan kepadaku. Dia berkata: Aku mendengar Anas –radhiyallahu’anhu– [meriwayatkan] dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Beliau bersabda, “Tanda keimanan adalah mencintai kaum Anshor, sedangkan tanda kemunafikan adalah membenci kaum Anshor.”

[lihat Sahih al-Bukhari bersama Fath al-Bari tahqiq Syaibatul Hamdi, Juz 1 hal. 80]

Hadits Ke-10: Meninggalkan Fitnah

Imam Bukhari rahimahullah menuturkan:

Abdullah bin Maslamah menuturkan kepada kami. Dari Malik. Dari Abdurrahman bin Abdullah bin Abdurrahman bin Abi Sha’sha’ah. Dari ayahnya. Dari Abu Sa’id al-Khudri –radhiyallahu’anhu-. Dia berkata:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hampir-hampir saja tiba saatnya, ketika itu sebaik-baik harta seorang muslim adalah kambing. Yang dia sertai kambing itu hingga ke puncak-puncak bukit dan menuju tempat-tempat turunnya hujan [lembah-lembah]. Dia berlari demi menyelamatkan agamanya dari fitnah-fitnah/kekacauan.”

[lihat Sahih al-Bukhari bersama Fath al-Bari tahqiq Syaibatul Hamdi, Juz 1 hal. 87]

Keterangan Ringkas:

Ibnul Jauzi rahimahullah berkata:

Barangsiapa yang sengaja mendekat-dekat kepada fitnah maka keselamatan akan justru menjauhi dirinya. Dan barangsiapa yang mendaku dirinya pasti bisa bersabar dalam menghadapi fitnah itu niscaya dia akan dibuat bersandar kepada dirinya sendiri.

[lihat Ma’alim fi at-Ta’aamul ma’a al-Fitan, hal. 66]

Wuhaib bin al-Warad rahimahullah berkata:

“Aku dapati uzlah/mengasingkan diri dari fitnah itu [juga] berlaku pada perkara lisan.”

[lihat al-‘Uzlah wa al-Infirad, hal. 98]

Hadits Ke-11: Kontinyu Dalam Beramal

Imam Bukhari rahimahullah menuturkan:

Muhammad bin Salam menuturkan kepada kami. Dia berkata: ‘Abdah mengabarkan kepada kami dari Hisyam, dari ayahnya, dari ‘Aisyah –radhiyallahu’anha– beliau berkata:

Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila memerintahkan mereka -orang-orang- maka beliau perintahkan mereka sebatas amal-amal yang mampu mereka kerjakan.

Lantas orang-orang itu berkata, “Sesungguhnya keadaan kami tidak seperti keadaan anda, wahai Rasulullah. Sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa anda yang telah berlalu maupun yang akan datang.”

Mendengar hal itu, beliau pun marah hingga tampak kemarahan itu pada rona wajahnya. Lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya orang yang paling bertakwa dan paling berilmu tentang Allah diantara kalian adalah aku.”

[lihat Sahih al-Bukhari bersama Fath al-Bari tahqiq Syaibatul Hamdi Juz 1 hal. 89]

Keterangan Ringkas:

al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

Mereka -para ulama- mengatakan, bahwa makna hadits ini adalah beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam– apabila memerintahkan suatu amalan kepada mereka maka yang beliau perintahkan adalah apa-apa yang mudah untuk mereka kerjakan, bukan amal-amal yang memberatkan. Hal itu karena beliau khawatir mereka tidak bisa terus-menerus/kontinyu dalam melakukannya. Beliau sendiri mengerjakan amal serupa dengan apa yang beliau perintahkan kepada mereka, yang padanya terkandung keringanan….

[lihat Fath al-Bari tahqiq Syaibatul Hamdi, Juz 1 hal. 90]

Diantara faidah dan pelajaran berharga yang bisa dipetik dari hadits di atas antara lain:

  1. Amal-amal salih akan bisa mengangkat kedudukan pelakunya menuju tingkatan yang mulia serta membawa dirinya semakin berpeluang dalam menghapuskan dosa-dosa
  2. Apabila seorang hamba bisa meraih puncak/akhir dari suatu bentuk ibadah dan bisa merasakan buah-buahnya maka hal itu lebih mendorong dirinya untuk terus-menerus dalam mengerjakannya, sehingga hal itu lebih mempertahankan nikmat yang ada dan akan semakin mendorongnya untuk mencari tambahan nikmat dengan cara mensyukuri apa yang telah dilakukannya
  3. Semestinya kita selalu berhenti pada apa-apa yang telah ditetapkan oleh syari’at, baik dalam perkara ‘azimah/hukum asal yang lebih utama maupun rukhshah/mengambil keringanan. Dengan disertai keyakinan bahwasanya mengambil hal-hal yang lebih lunak lagi selaras dengan syari’at itu lebih utama daripada mengambil sesuatu yang lebih berat dan menyelisihi syari’at.
  4. Hal yang lebih utama untuk dicari dalam hal ibadah adalah sederhana/simpel dan mulazamah/terus-menerus dan konsisten dalam beramal. Bukan sikap berlebih-lebihan yang pada akhirnya menyeret kepada sikap meninggalkan.
  5. Hadits di atas juga menunjukkan besarnya semangat para Sahabat dalam mengerjakan ibadah dan besarnya keinginan mereka meraih tambahan kebaikan
  6. Disyari’atkannya marah ketika terjadi suatu hal yang menyelisihi perintah/ajaran syari’at. Dan hendaknya melakukan pengingkaran terhadap kesalahan itu kepada orang yang cukup cerdas dan bisa menangkap pemahaman dengan baik di saat orang itu tidak berpikir jauh ke depan atau tidak merenungkan lebih dalam agar dia lebih tergerak untuk menyadari kekeliruannya.
  7. Bolehnya menceritakan kepada seseorang mengenai keutamaan yang dimiliki orang tersebut ketika hal itu memang dibutuhkan, selama tidak menimbulkan sikap berbangga-bangga atau menonjolkan kehebatan diri sendiri.
  8. Hadits di atas juga menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mencapai puncak kesempurnaan insan karena kesempurnaan sifat hikmah yang ada pada ilmu dan amal yang beliau miliki. Kesempurnaan ilmu beliau ditunjukkan dalam sabda beliau ‘aku adalah orang yang paling berilmu diantara kalian’, sedangkan kesempurnaan amalnya ditunjukkan dari sabda beliau ‘dan aku juga orang yang paling bertakwa kepada Allah diantara kalian’

[lihat Fath al-Bari tahqiq Syaibatul Hamdi, Juz 1 hal. 90-91]

Imam Ibnu Baththal rahimahullah menjelaskan:

Di dalam kesungguh-sungguhan beliau [nabi] dalam beramal dan sikap marah beliau terhadap ucapan mereka terkandung dalil yang menunjukkan bahwa seorang yang beramal tidak boleh bersandar/menggantungkan diri kepada amalnya dan hendaknya dia berada diantara perasaan harap dan takut.

[lihat Syarh Shahih al-Bukhari li Ibni Baththal, Juz 1 hal. 73]

al-Muhallab rahimahullah berkata:

Di dalam hadits ini terkandung fikih/ilmu, bahwasanya seorang yang salih wajib untuk memiliki ketakwaan dan rasa takut yang besar sebagaimana halnya yang seharusnya ada pada seorang yang melakukan dosa dan bertaubat.

Seorang yang salih tidak boleh merasa aman dengan bersandar kepada kesalihan dirinya. Demikian juga seorang pelaku dosa juga tidak boleh menjadi berputus asa karena dosa yang dilakukannya. Bahkan, semestinya setiap orang itu berada diantara takut dan harap.

[lihat Syarh Shahih al-Bukhari li Ibni Baththal, Juz 1 hal. 73]

Hadits Ke-12: Iman Adalah Amalan

Imam Bukhari rahimahullah menuturkan:

Ahmad bin Yunus dan Musa bin Isma’il menuturkan kepada kami. Mereka berdua berkata: Ibrahim bin Sa’ad mengabarkan kepada kami. Dia berkata: Ibnu Syihab mengabarkan kepada kami dari Sa’id bin al-Musayyab, dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.

Suatu ketika, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, “Amal manakah yang lebih utama?”. Beliau menjawab, “Iman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Lalu beliau ditanya lagi, “Kemudian apa?”. Beliau menjawab, “Jihad di jalan Allah.” Lalu beliau ditanya lagi, “Kemudian apa?”. Beliau menjawab, “Haji mabrur.”

[lihat Sahih al-Bukhari bersama Fath al-Bari tahqiq Syaibatul Hamdi Juz 1 hal. 97]

Keterangan Ringkas:

Imam Ibnu Baththal rahimahullah menjelaskan, berdasarkan hadits di atas bisa disimpulkan bahwa iman itu mencakup ucapan dan amalan/perbuatan. Hal ini didukung oleh jawaban Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya tentang amal yang paling utama, lalu beliau menjawab, “Yaitu iman kepada Allah dan Rasul-Nya.”

[lihat Syarh Sahih al-Bukhari li Ibni Baththal Juz 1 hal. 78]

Ibnu Baththal rahimahullah juga berkata:

Sesungguhnya beliau -Imam Bukhari- ingin memberikan bantahan kepada sekte Murji’ah yang menyatakan bahwa iman itu cukup dengan ucapan tanpa amalan/perbuatan. Beliau ingin menjelaskan sisi kekeliruan dan keburukan keyakinan/akidah serta penyimpangan mereka dari al-Kitab dan as-Sunnah serta madzhab para imam/ulama.

[lihat Syarh Sahih al-Bukhari li Ibni Baththal Juz 1 hal. 79]

Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

Adalah sebuah perkara yang telah disepakati di kalangan para sahabat dan tabi’in serta para ulama setelah mereka yang kami temui, mereka menyatakan bahwa iman itu mencakup ucapan, amalan, dan niat. Salah satu diantara ketiganya tidak cukup apabila tidak dibarengi dengan bagian yang lainnya.

[lihat Aqwal at-Tabi’in fi Masa’il at-Tauhid wa al-Iman, hal. 1122]

Hasan al-Bashri rahimahullah berkata:

Bukanlah iman itu dicapai semata-mata dengan menghiasi penampilan atau berangan-angan, akan tetapi iman adalah apa yang tertanam di dalam hati dan dibuktikan dengan amalan.

[lihat Aqwal at-Tabi’in fi Masa’il at-Tauhid wa al-Iman, hal. 1124]

Hadits Ke-13: Baiknya Keislaman Seorang Hamba

Imam Bukhari rahimahullah menuturkan:

Ishaq bin Manshur menuturkan kepada kami. Dia berkata: Abdurrazzaq mengabarkan kepada kami. Dia berkata: Ma’mar mengabarkan kepada kami dari Hammam dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Apabila salah seorang dari kalian bagus islamnya maka setiap kebaikan yang dia lakukan akan dicatat pahalanya sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat. Dan setiap keburukan yang dia lakukan hanya akan dicatat serupa dengannya.”

[lihat Sahih al-Bukhari bersama Fath al-Bari tahqiq Syaibatul Hamdi Juz 1. hal. 124]

Catatan: Di dalam teks matan Sahih Bukhari yang terdapat dalam Fath al-Bari tahqiq Syaibatul Hamdi tertulis ‘Hisyam’ bukan ‘Hammam’, padahal di dalam syarahnya ditulis Hammam -yaitu Hammam bin Munabbih- maka yang benar adalah Hammam bukan Hisyam, sebagaimana bisa dibandingkan dengan teks matan Sahih al-Bukhari yang ada dalam ‘Umdah al-Qari karya Imam al-’Aini [lihat Juz 1 hal. 397]. Demikian pula bisa dicek dalam matan Sahih Muslim yang ada dalam Syarh an-Nawawi [Jilid 2 hal. 212]. Wa billahit taufiq.

Hadits Ke-14: Sebuah Ujian dan Ketawadhu’an

Imam Bukhari rahimahullah menuturkan:

Khalid bin Makhlad menuturkan kepada kami. Dia berkata: Sulaiman mengabarkan kepada kami. Dia berkata: Abdullah bin Dinar mengabarkan kepada kami. Dari Ibnu ‘Umar, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda,

“Sesungguhnya diantara pohon-pohon itu ada sebuah pohon yang tidak berguguran daun-daunnya, dan sesungguhnya ia menjadi sebuah perumpamaan bagi seorang muslim. Katakanlah kepadaku; pohon apakah itu?”.

Dia -Ibnu ‘Umar- berkata, “Maka orang-orang pun berpikir mengenai pohon-pohon yang ada di lembah.” Abdullah -Ibnu ‘Umar- berkata, “Di dalam hatiku terpikir bahwa pohon yang beliau maksud itu adalah kurma. Akan tetapi aku malu mengutarakannya.”

Kemudian mereka -para sahabat- berkata, “Ceritakanlah kepada kami wahai Rasulullah; pohon apakah itu?”. Beliau menjawab, “Itu adalah pohon kurma.”

[lihat Sahih al-Bukhari bersama Fath al-Bari tahqiq Syaibatul Hamdi, Juz 1 hal. 178]

Keterangan Ringkas:

Diantara faidah dan pelajaran yang bisa diambil dari hadits di atas:

  1. Anjuran bagi seorang ‘alim atau guru untuk memberikan pertanyaan atau soal kepada murid-muridnya dalam rangka menguji pemahaman dan memotivasi mereka untuk merenungkan dan berpikir tentang materi yang disampaikan
  2. Hendaknya menghormati dan memuliakan orang-orang yang lebih tua/senior dan tidak banyak berbicara di sisi mereka
  3. Anjuran untuk merasa malu selama hal itu tidak menyebabkan hilangnya suatu kemaslahatan
  4. Bolehnya membuat tebak-tebakan atau teka-teki dengan disertai keterangan atau pemberian ‘kunci jawaban’ atasnya
  5. Bolehnya memberikan perumpamaan demi meningkatkan pemahaman para hadirin
  6. Bisa jadi seorang ‘alim senior terluput darinya sebagian perkara ilmu yang ternyata didapatkan oleh orang yang lebih rendah ilmunya, karena ilmu adalah anugerah dan karunia Allah yang diberikan kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya
  7. Hadits ini menunjukkan keutamaan atau keistimewaan pohon kurma. al-Bazzar meriwayatkan hadits dengan sanad sahih dari jalan Sufyan bin Husain dari Abu Bisyr, dari Mujahid dari Ibnu ‘Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan seorang muslim seperti pohon kurma. Apa saja yang datang kepadamu dari pohon itu niscaya memberikan manfaat.”

[lihat ‘Umdah al-Qari oleh Imam al-‘Aini Juz 2 hal. 22]

Allah ta’ala bahkan berfirman (yang artinya), “Tidakkah kamu melihat bagaimana Allah memberikan perumpamaan suatu kalimat yang baik seperti pohon yang baik; pokoknya kokoh tertanam sedangkan cabang-cabangnya menjulang di langit.” (QS. Ibrahim: 24)

Syaikh as-Sa’di rahimahullah menafsirkan:

Yang dimaksud ‘pohon yang baik’ itu adalah pohon kurma.

[lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 425]

Di dalam ayat tersebut, Allah memberikan perumpamaan kalimat laa ilaha illallah beserta cabang-cabangnya, laksana pohon kurma. Batang dan pokoknya tertancap kuat di dalam bumi, sedangkan ranting-rantingnya menjulang ke langit serta senantiasa membuahkan banyak manfaat. Demikianlah perumpamaan pohon keimanan dalam hati seorang mukmin; yang berupa ilmu dan keyakinan. Cabang-cabangnya berupa ucapan-ucapan yang baik/dzikir dan amal salih, akhlak yang bagus dan adab yang indah.

[lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 425]

Hadits Ke-15: Mendahulukan Sebelah Kanan

Imam Bukhari rahimahullah menuturkan:

Hafsh bin ‘Umar menuturkan kepada kami. Dia berkata: Syu’bah menuturkan kepada kami. Dia berkata: Asy’ats bin Sulaim mengabarkan kepadaku. Dia berkata: Aku mendengar ayahku -menuturkan- dari Masruq. Dari ‘Aisyah –radhiyallahu’anha-.

Beliau berkata, “Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam suka untuk mendahulukan bagian [tubuh] sebelah kanan pada saat mengenakan sandal, menyisir rambut, bersuci, dan dalam segala urusan beliau.”

[lihat Shahih al-Bukhari bersama Fath al-Bari tahqiq Syaibatul Hamdi, Juz 1 hal. 324]

Hadits Ke-16: Keutamaan Sholat Lima Waktu

Imam Bukhari rahimahullah menuturkan:

Ibrahim bin Hamzah menuturkan kepadaku. Dia berkata: Ibnu Abi Hazim dan ad-Darawardi menuturkan kepada kami. Dari Yazid, dari Muhammad bin Ibrahim. Dari Abu Salamah bin Abdurrahman. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.

Beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bagaimana pendapat kalian apabila di depan pintu rumah salah seorang dari kalian ada sebuah sungai yang dia mandi di sana lima kali setiap harinya; apakah menurut kalian dengan begitu itu masih menyisakan kotoran?”

Mereka menjawab, “Tidak tersisa sedikit pun kotoran pada tubuhnya kalau begitu.” Lalu beliau bersabda, “Maka demikian itulah perumpamaan perihal sholat lima waktu yang akan bisa menjadi sebab terhapusnya dosa-dosa.”

[lihat Shahih al-Bukhari bersama Fath al-Bari tahqiq Syaibatul Hamdi, Juz 2 hal. 14-15]

Hadits Ke-17: Sholat Yang Paling Berat Bagi Kaum Munafikin

Imam Bukhari rahimahullah menuturkan:

Umar bin Hafsh menuturkan kepada kami. Dia berkata: Ayahku menuturkan kepada kami. Dia berkata: al-A’masy menuturkan kepada kami. Dia berkata: Abu Shalih menuturkan kepadaku dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Beliau berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidak ada sholat yang lebih berat bagi orang-orang munafik daripada sholat fajar dan sholat isyak. Seandainya mereka mengetahui keutamaan yang ada pada keduanya -sholat subuh dan isyak berjama’ah, pent- niscaya mereka akan mendatanginya walaupun harus dengan merangkak.

Sungguh aku pernah bertekad untuk menyuruh mu’adzin mengumandangkan iqomah lantas aku perintahkan orang lain untuk mengimami orang-orang, kemudian kuambil obor untuk membakar orang-orang [lelaki] yang tidak berangkat sholat setelah itu.”

[lihat Shahih al-Bukhari bersama Fath al-Bari tahqiq Syaibatul Hamdi Juz 2 hal. 165]

Keterangan Ringkas:

Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhuma berkata:

Adalah kami -para sahabat- apabila mendapati seorang lelaki tidak hadir dalam sholat fajar dan ‘isyak -di masjid- maka kami pun berprasangka buruk kepadanya [jangan-jangan dia termasuk kaum munafikin, pent].

[lihat at-Targhib wa at-Tarhib, Jilid 1 hal. 209]

Imam Ibnu Daqiq al-’Ied rahimahullah berkata:

Dari hadits ini bisa disimpulkan, bahwasanya secara keseluruhan sholat itu adalah sesuatu yang berat bagi orang-orang munafik…

[lihat al-I’lam bi Fawa’id ‘Umdah al-Ahkam Juz 2 hal. 377]

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

Tidak akan diberi ancaman hukum bakar bagi pelaku dosa kecil. Itu artinya, [sengaja] meninggalkan sholat jama’ah adalah termasuk dosa besar.

[lihat at-Ta’liqat ar-Radhiyyah ‘ala ar-Raudhah an-Nadiyyah, Jilid 1 hal. 324]

Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata:

Pendapat yang paling benar -dan ini merupakan pendapat yang populer dalam madzhab Hanbali- menyatakan bahwa sholat jama’ah itu fardhu ‘ain pada sholat-sholat wajib bagi kaum lelaki yang sudah terkena beban syari’at/mukallaf.

[lihat al-Majmu’ah al-Kamilah, Juz 16 hal. 117]

Para ulama menyatakan:

Barangsiapa yang meninggalkan sholat jama’ah lalu sholat sendirian tanpa ada udzur maka sholatnya tetap sah akan tetapi dia berdosa karena telah meninggalkan kewajiban.

[lihat al-Fiqh al-Muyassar, hal. 77]

Yazid bin Aban ar-Raqasyi rahimahullah berkata:

Suatu saat aku terluput dari sholat berjama’ah. Maka orang yang menyatakan ungkapan turut berduka cita hanya Abu Ishaq al-Bukhari seorang diri. Seandainya aku ditinggal mati seorang anak lelaki, niscaya lebih dari sepuluh orang yang akan berta’ziyah kepadaku sekarang ini. Hal itu disebabkan bagi manusia musibah dalam urusan dunia itu lebih besar daripada musibah yang menimpa agama.

[lihat Kitab at-Tahajjud oleh Abdul Haq al-Isybili, hal. 55]

Hasan al-Bashri rahimahullah berkata:

Apabila salah seorang dari kalian terluput/ketinggalan sholat jama’ah hendaklah dia ber-istirja’ [mengucapkan innaa lillaahi dst.] karena sesungguhnya itu adalah musibah.

[lihat Kitab at-Tahajjud oleh Abdul Haq al-Isybili, hal. 56]

Abu Sulaiman ad-Darani rahimahullah berkata:

Tidaklah ada orang yang dengan sengaja meluputkan diri dari sholat jama’ah kecuali karena perbuatan dosa yang dia lakukan.

[lihat Mughni al-Muhtaj, Juz 1 hal. 350]

Yunus bin ‘Ubaid rahimahullah berkata:

Dua perkara jika hal itu baik pada diri seorang hamba maka baiklah urusannya yang lain, yaitu sholat dan lisannya.

[lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliya’, hal. 274]

Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata:

Termasuk bentuk pengagungan sholat yaitu hendaknya kamu datang sebelum iqomah.

[lihat Min A’lam as-Salaf [2/82]]

Hadits Ke-18: Orang-Orang Pilihan

Imam Bukhari rahimahullah menuturkan:

Muhammad bin Basyar menuturkan kepada kami. Dia berkata: Yahya menuturkan kepada kami, dari ‘Ubaidillah. Dia berkata: Khubaib bin Abdurrahman menuturkan kepadaku, dari Hafsh bin ‘Ashim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Beliau bersabda, “Tujuh golongan manusia yang akan diberikan naungan oleh Allah pada hari tidak ada naungan kecuali naungan dari-Nya. Seorang pemimpin yang adil. Seorang pemuda yang tumbuh dalam [ketekunan] ibadah kepada Rabbnya. Lelaki yang hatinya senantiasa berkait dengan masjid. Dua orang lelaki yang saling mencintai karena Allah; mereka berkumpul dan berpisah karena-Nya. Seorang lelaki yang diajak oleh perempuan berkedudukan dan cantik, lantas dia menjawab, ‘Aku takut kepada Allah’. Seorang lelaki yang menunaikan sedekah secara sembunyi-sembunyi, sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya. Dan seorang lelaki yang mengingat Allah kala bersendirian lalu berlinanglah air matanya.”

[lihat Shahih al-Bukhari bersama Fath al-Bari tahqiq Syaibatul Hamdi, Juz 2 hal. 168]

Keterangan Ringkas:

Hadits di atas mengandung pelajaran-pelajaran penting diantaranya:

  1. Keutamaan seorang pemimpin yang adil
  2. Keutamaan pemuda yang tumbuh dalam ketekunan beribadah kepada Rabbnya
  3. Keutamaan orang yang selamat dari kubangan dosa-dosa [besar] dan menyibukkan dirinya dengan ketaatan kepada Allah sepanjang umurnya
  4. Keutamaan orang yang suka menetapi masjid dalam rangka menunaikan dan menjaga sholat berjama’ah di dalamnya
  5. Keutamaan saling mencintai karena Allah, karena cinta dan benci karena Allah adalah termasuk bagian penting dalam keimanan
  6. Keutamaan orang yang merasa takut kepada Allah
  7. Keutamaan orang yang menyembunyikan sedekah-sedekahnya
  8. Keutamaan berdzikir kepada Allah di saat-saat sendirian atau sepi lalu diikuti dengan tetesan air mata karenanya

[lihat ‘Umdah al-Qari, Juz 5 hal. 263-264]

Hadits Ke-19: Keutamaan al-Fatihah Di Dalam Sholat

Imam Bukhari rahimahullah menuturkan:

‘Ali bin Abdullah menuturkan kepada kami. Dia berkata: Sufyan menuturkan kepada kami. Dia berkata: az-Zuhri menuturkan kepada kami dari Mahmud bin ar-Rabi’, dari ‘Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu’anhu.

Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak [sah] sholat orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab [surat al-Fatihah].”

[lihat Shahih al-Bukhari bersama Fath al-Bari tahqiq Syaibatul Hamdi, Juz 2 hal. 276]

Keterangan Ringkas:

Syaikh Abdullah al-Bassam rahimahullah mengatakan:

Hadits ini menunjukkan wajibnya membaca surat al-Fatihah dalam sholat, dan bahwasanya ia adalah salah satu rukun; sehingga sholat tidak sah tanpanya. Dan menurut pendapat yang benar ia wajib dibaca dalam setiap raka’at, berdasarkan hadits orang yang keliru sholatnya dimana Nabi bersabda, “Kemudian lakukanlah itu dalam semua sholatmu.” (HR. Bukhari [724] dan Muslim [397]).

[lihat Taudhih al-Ahkam [1/664]]

Imam al-Baghawi rahimahullah berkata:

Mayoritas ulama dari kalangan Sahabat maupun sesudah mereka berpendapat bahwasanya tidak sah sholat tanpa membaca Fatihatul Kitab (surat al-Fatihah) apabila orang itu bisa membacanya. Diantara mereka adalah ‘Umar, ‘Ali, Jabir, ‘Imran bin Hushain, dan para Sahabat yang lain. Inilah yang dianut oleh Ibnul Mubarak, asy-Syafi’i, Ahmad, dan Ishaq.

[lihat Syarh as-Sunnah [3/46] cet. al-Maktab al-Islami]

Hadits Ke-20: Iri Kepada Orang Yang Sudah Mati

Imam Bukhari rahimahullah menuturkan:

Isma’il menuturkan kepada kami. Dia berkata: Malik menuturkan kepada kami, dari Abu Zinad. Dari al-A’raj, dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

“Tidaklah terjadi hari kiamat hingga ada seorang lelaki melewati kuburan seseorang kemudian dia berkata, ‘Aduhai alangkah menyenangkan jika aku sekarang berada di tempatnya [mati]‘.”

[lihat Shahih al-Bukhari bersama Fath al-Bari tahqiq Syaibatul Hamdi Juz 13 hal. 80]

Demikianlah tulisan yang bisa kami susun dalam kesempatan ini semata-mata dengan taufik dan pertolongan dari Allah ta’ala. Semoga bisa menjadi ilmu yang bermanfaat bagi kami dan segenap umat Islam. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Sumber : Terjemahkitabsalaf.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s