Hadits

40 Hadits Seputar Menuntut Ilmu (21-30)

ilmu

Hadits no 21

Macam – Macam Manusia Dalam Menuntut Ilmu

عَنْ أَبِي مُوسَى ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : مَثَلُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ مِنَ الْهُدَى وَالْعِلْمِ ، كَمَثَلِ الْغَيْثِ الْكَثِيرِ أَصَابَ أَرْضًا فَكَانَ مِنْهَا نَقِيَّةٌ قَبِلَتِ الْمَاءَ ، فَأَنْبَتَتِ الْكَلأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ ، وَكَانَتْ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتِ الْمَاءَ ، فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا النَّاسَ فَشَرِبُوا وَسَقَوْا وَزَرَعُوا ، وَأَصَابَتْ مِنْهَا طَائِفَةً أُخْرَى إِنَّمَا هِيَ قِيعَانٌ لاَ تُمْسِكُ مَاءً وَلاَ تُنْبِتُ كَلأً ، فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِي دِينِ اللَّهِ وَنَفَعَهُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ فَعَلِمَ وَعَلَّمَ ، وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ الَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ

قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ : قَالَ إِسْحَاقُ : وَكَانَ مِنْهَا طَائِفَةٌ قَيَّلَتِ الْمَاءَ قَاعٌ يَعْلُوهُ الْمَاءُ وَالصَّفْصَفُ الْمُسْتَوِي مِنَ الأَرْضِ

Dari Abu Musa, dari Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam yang bersabda : “Perumpamaan petunjuk (hidayah) dan ilmu yang Allah mengutus ku dengan membawanya seperti perumpamaan hujan lebat yang turun ke bumi : (1) Ada tanah yang subur yang dapat menyerap air, sehingga dapat menumbuhkan banyak tumbuh – tumbuhan dan tanaman. (2) Ada tanah yang kering yang dapat meampung air, sehingga Allah memberikan manfaat kepada manusia dengan nya. Mereka bisa minum, mengambil air dan bercocok tanam dengan nya.  (3) Ada sebagian lagi membasahi tanah yang tandus dan gersang, yang tidak dapat menampung air dan juga tidak dapat menumbuhkan tanaman. Itulah perumpamaan orang yang mempelajari agama Allah. Ia bisa mengambil manfaat dari hidayah yang Allah utus aku dengan membawanya. Ia mengilmuinya lalu mengajarkan nya. Perumpamaan orang yang tidak peduli dengan nya, ia tidak menerima hidayah Allah yang aku diutus dengan membawanya.”

Abu Abdullah berkata : Ishaq berkata : “Ada jenis tanah yang dapat menyerap air, Qaa’un adalah jenis tanah seperti wadah yang dapat menampung air. Tanah Ash-Shafshaf adalah tanah yang datar.” [Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari rahimahullah dalam shahih nya, hadits no 79 dan Diriwayatkan oleh Imam Muslim rahimahullah dalam shahih nya, hadits no 2282]

Hadits no 22

Semangat yang Tinggi dalam menuntut ilmu dan Bersungguh – sungguh dalam mendapatkan nya.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، أَنَّهُ قَالَ : قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ؟ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” لَقَدْ ظَنَنْتُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ ، أَنْ لاَ يَسْأَلَنِي عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ أَحَدٌ أَوَّلُ مِنْكَ لِمَا رَأَيْتُ مِنْ حِرْصِكَ عَلَى الْحَدِيثِ ، أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، مَنْ قَالَ : لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ , خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ

Dari Abu Hurairah bahwasanya ia berkata : “Suatu ketika aku bertanya kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam : “Ya Rasulullah, siapakah yang paling beruntung mendapatkan syafaat mu dihari kiamat kelak?” Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam menjawab : “Wahai Abu Hurairah, aku sudah mengira bahwa engkau adalah orang yang pertama akan menanyakan hal tersebut karena aku melihat engkau memiliki semangat yang tinggi dalam mendapatkan hadits. Orang yang paling berbahagia dengan syafaatku dihari kiamat kelak adalah siapa saja yang mengucapkan kalimat : “Laa ilaaha ilallaah (Tidak ada Tuhan yang Berhak disembah selain Allah).” Dengan ikhlas dari lubuk hatinya atau dari jiwa nya.” [Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari rahimahullah dalam Shahih nya, hadits no 99 dan juga hadits no 6570]

Hadits no 23

Tetap Belajar Walaupun Sibuk Urusan Dunia

عَنْ عُمَرَ ، قَالَ : ” كُنْتُ أَنَا وَجَارٌ لِي مِنْ الأَنْصَارِ فِي بَنِي أُمَيَّةَ بْنِ زَيْدٍ وَهِيَ مِنْ عَوَالِي الْمَدِينَةِ ، وَكُنَّا نَتَنَاوَبُ النُّزُولَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْزِلُ يَوْمًا وَأَنْزِلُ يَوْمًا ، فَإِذَا نَزَلْتُ جِئْتُهُ بِخَبَرِ ذَلِكَ الْيَوْمِ مِنَ الْوَحْيِ وَغَيْرِهِ ، وَإِذَا نَزَلَ فَعَلَ مِثْلَ ذَلِكَ ، فَنَزَلَ صَاحِبِي الأَنْصَارِيُّ يَوْمَ نَوْبَتِهِ فَضَرَبَ بَابِي ضَرْبًا شَدِيدًا ، فَقَالَ : أَثَمَّ هُوَ ؟ فَفَزِعْتُ فَخَرَجْتُ إِلَيْهِ ، فَقَالَ : قَدْ حَدَثَ أَمْرٌ عَظِيمٌ ، قَالَ : فَدَخَلْتُ عَلَى حَفْصَةَ , فَإِذَا هِيَ تَبْكِي ، فَقُلْتُ : طَلَّقَكُنَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؟ قَالَتْ : لاَ أَدْرِي . ثُمَّ دَخَلْتُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقُلْتُ وَأَنَا قَائِمٌ : أَطَلَّقْتَ نِسَاءَكَ ؟ قَالَ : لاَ . فَقُلْتُ : اللَّهُ أَكْبَرُ

Dari Umar -Radhiyallahu’anhu-, ia berkata : “Dahulu aku dan tetangga ku seorang Anshar dari Bani Umayah bin Zaid –salah satu desa yang ada di Madinah- selalu bergantian mendatangi Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam. Hari ini dia dan besoknya aku. Apabila tiba giliran ku, maka aku menyampaikan kepada nya tentang wahyu yang turun pada hari itu ataupun yang lain. Apabila hari itu tiba giliran nya, maka ia melakukan seperti apa yang aku lakukan. Pada suatu hari tibalah giliran sahabat ku itu, kemudian ia kembali dan menggedor pintu rumahku dengan sangat keras dan berkata : “Adakah Umar disini?” Aku pun terkejut dan keluar menemuinya, lalu ia berkata : “Telah terjadi peristiwa yang sangat besar” Lalu aku mendatangi Hafshah ditempatnya dan ternyata ia sedang menangis. Aku bertanya : “Apakah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam telah menceraikan kalian?” Hafshah menjawab : “Saya tidak tahu” Kemudian aku datang menemui Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam dan aku bertanya pada beliau sambil berdiri. “Apakah engkau telah menceraikan isteri – isteri mu?” Beliau menjawab : “Tidak” Mendengar jawaban beliau, aku bertakbir, “Allahu Akbar” [Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari rahimahullah dalam shahih nya, hadits no 89]

Hadits no 24

Bergaul dengan para Ulama

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ : إِنَّ النَّاسَ يَقُولُونَ أَكْثَرَ أَبُو هُرَيْرَةَ ، وَلَوْلاَ آيَتَانِ فِي كِتَابِ اللَّهِ مَا حَدَّثْتُ حَدِيثًا ، ثُمَّ يَتْلُو : ” إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ إِلَى قَوْلِهِ الرَّحِيمُ [سورة البقرة آية 159 – 160 ] إِنَّ إِخْوَانَنَا مِنَ الْمُهَاجِرِينَ كَانَ يَشْغَلُهُمْ الصَّفْقُ بِالأَسْوَاقِ ، وَإِنَّ إِخْوَانَنَا مِنَ الأَنْصَارِ كَانَ يَشْغَلُهُمُ الْعَمَلُ فِي أَمْوَالِهِمْ ، وَإِنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ كَانَ يَلْزَمُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشِبَعِ بَطْنِهِ ، وَيَحْضُرُ مَا لاَ يَحْضُرُونَ ، وَيَحْفَظُ مَا لاَ يَحْفَظُونَ

Dari Abu Hurairah -Radhiyallahu’anhu-, ia berkata : “Sesungguhnya manusia mengatakan : “Abu Hurairah paling banyak menyampaikan hadits.” Kalaulah bukan karena dua ayat yang tercantum didalam Kitabullah, niscaya aku tidak akan menyampaikan satu hadits pun.”

Kemudian Abu Hurairah membaca firman Allah Subhanahu wa ta’ala : “Sesungguhnya orang – orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan – keterangan (yang jelas).” Sampai firman Allah “Maha Penyayang”.” [Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 159 – 160]

“Sesungguhnya saudara-saudara kita dari kalangan Muhajirin disibukkan dengan mengurusi perdagangan mereka dipasar, dan saudara-saudara kita dari kalangan Anshar disibukkan dengan mengolah harta mereka. Dan sementara itu, sesungguhnya Abu Hurairah senantiasa menyertai Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam karena merasa cukup dengan makanan seadanya. Sehingga dia bisa menghadiri majelis yang tidak dapat mereka (muhajirin dan anshar) hadiri, dan bisa menghafal apa yang tidak bisa mereka (muhajirin dan anshar) hafal.” [Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari rahimahullah dalam shahih nya, hadits no 118]

Hadits no 25

Larangan menyembunyikan ilmu

عن أنس بن مالك قال : سمعت رسول الله صلّى الله عليه وسلّم يقول : ” من سئل عن علم فكتمه , ألجم يوم القيامة بلجام من نار

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang ditanya tentang suatu ilmu, lalu dia menyembunyikan nya. Maka dia akan dicambuk pada hari kiamat dengan cambuk dari Api Neraka.” [Shahih dengan penguat : Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah rahimahullah no 264. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Sunan Ibnu Majah no 214]

Hadits no 26

Bolehnya menunda menyampaikan ilmu karena khawatir akan keselamatan jiwa nya

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ : ” حَفِظْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وِعَاءَيْنِ ، فَأَمَّا أَحَدُهُمَا فَبَثَثْتُهُ ، وَأَمَّا الآخَرُ فَلَوْ بَثَثْتُهُ قُطِعَ هَذَا الْبُلْعُومُ

Dari Abu Hurairah –Radhiyallahu’anhu-, ia berkata : “Aku telah menghafal dua buah kantong hadits dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam. Satu kantongnya telah aku sampaikan. Adapun satu kantong terakhir, jika aku sampaikan, niscaya leherku akan ditebas.” [Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari rahimahullah dalam shahih nya, hadits no 120]

Hadits no 27

Bolehnya mengkhususkan pelajaran untuk suatu kaum yang bisa memahami ilmu tersebut

عَنْ قَتَادَةَ ، قَالَ : حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنَ مَالِكٍ ، أَنّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَمُعاذٌ رَدِيفُهُ عَلَى الرَّحْلِ ، قَالَ : يَا مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ ، قَالَ : لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَسَعْدَيْكَ ، قَالَ : يَا مُعَاذُ ، قَالَ : لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَسَعْدَيْكَ ثَلاَثًا ، قَالَ : ” مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِ ، إِلاَّحَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ .” قَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلاَ أُخْبِرُ بِهِ النَّاسَ فَيَسْتَبْشِرُوا ؟ قَالَ : إِذًا يَتَّكِلُوا . وَأَخْبَرَ بِهَا مُعَاذٌ عِنْدَ مَوْتِهِ تَأَثُّمًا

Dari Qatadah, ia berkata : Anas bin Malik telah menceritakan kepada kami, bahwasanya Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda kepada Mu’adz yang saat itu dibonceng beliau diatas hewan tunggangan, beliau berkata : “Ya Mu’adz bin Jabal” Mu’adz menjawab : “Labbaika wa sa’daika ya Rasulullah” Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda lagi : “Ya Mu’adz.” Mu’adz menjawab lagi : “Labbaika wa sa’daika ya Rasulullah” Demikian beliau lakukan sebanyak tiga kali. Lalu beliau bersabda : “Siapa saja yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah secara tulus dari hatinya, kecuali Allah akan mengharamkan baginya neraka.” Mu’adz berkata : “Wahai Rasulullah, bolehkah aku sampaikan berita gembira ini kepada orang banyak agar mereka merasa bergembira dengan nya?” Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam menjawab : “Jangan, nanti mereka akan bertawakkal saja tanpa mau beramal.” Ketika Mu’adz mendekati ajal nya, ia menyampaikan hadits ini karena khawatir merasa berdosa (jika menyembunyikan ilmu).” [Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari rahimahullah dalam shahihnya hadits no 128 dan diriwayatkan juga oleh Imam Muslim rahimahullah dalam shahih nya hadits no 32]

Hadits no 28

Majelis ilmu adalah Majelis Dzikir. Duduk di majelis ilmu bisa menghapuskan dosa

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , قَالَ : ” إِنَّ لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى مَلاَئِكَةً سَيَّارَةً فُضُلاً يَتَبَّعُونَ مَجَالِسَ الذِّكْرِ ، فَإِذَا وَجَدُوا مَجْلِسًا فِيهِ ذِكْرٌ قَعَدُوا مَعَهُمْ ، وَحَفَّ بَعْضُهُمْ بَعْضًا بِأَجْنِحَتِهِمْ حَتَّى يَمْلَئُوا مَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ السَّمَاءِ الدُّنْيَا ، فَإِذَا تَفَرَّقُوا عَرَجُوا وَصَعِدُوا إِلَى السَّمَاءِ ، قَالَ : فَيَسْأَلُهُمُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ . مِنْ أَيْنَ جِئْتُمْ ؟ فَيَقُولُونَ : جِئْنَا مِنْ عِنْدِ عِبَادٍ لَكَ فِي الأَرْضِ يُسَبِّحُونَكَ ، وَيُكَبِّرُونَكَ ، وَيُهَلِّلُونَكَ ، وَيَحْمَدُونَكَ ، وَيَسْأَلُونَكَ . قَالَ : وَمَاذَا يَسْأَلُونِي ؟ قَالُوا : يَسْأَلُونَكَ جَنَّتَكَ . قَالَ : وَهَلْ رَأَوْا جَنَّتِي ؟ قَالُوا : لاَ , أَيْ رَبِّ . قَالَ : فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْا جَنَّتِي ؟ قَالُوا : وَيَسْتَجِيرُونَكَ . قَالَ : وَمِمَّ يَسْتَجِيرُونَنِي ؟ قَالُوا : مِنْ نَارِكَ يَا رَبِّ ، قَالَ : وَهَلْ رَأَوْا نَارِي ؟ قَالُوا : لاَ . قَالَ : فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْا نَارِي ؟ قَالُوا : وَيَسْتَغْفِرُونَكَ . – قَالَ – فَيَقُولُ : قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ فَأَعْطَيْتُهُمْ مَا سَأَلُوا وَأَجَرْتُهُمْ مِمَّا اسْتَجَارُوا – قَالَ – فَيَقُولُونَ : رَبِّ فِيهِمْ فُلاَنٌ , عَبْدٌ خَطَّاءٌ إِنَّمَا مَرَّ فَجَلَسَ مَعَهُمْ . قَالَ : فَيَقُولُ : وَلَهُ غَفَرْتُ هُمُ الْقَوْمُ لاَ يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ

Dari Abu Hurairah –Radhiyallahu’anhu- dari Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Sesungguhnya Allah yang Mahasuci dan Mahatinggi mempunyai beberapa malaikat yang berkeliling mencari majelis dzikir. Apabila mereka telah menemukan majelis dzikir tersebut, mereka pun duduk disana dengan membentangkan sayap mereka, hingga memenuhi ruang antara mereka dan langit paling bawah, dan jika majelis dzikir itu telah selesai, mereka pun naik ke langit.” Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam meneruskan sabdanya : “Kemudian Allah Azza wa Jalla bertanya kepada mereka. Dan Dia lebih tahu daripada mereka. “Kalian datang dari mana?” Mereka (para malaikat) berkata : “Kami datang dari sisi hamba – hamba Mu dibumi yang selalu bertasbih, bertakbir, bertahlil, bertahmid dan meminta kepada Mu.” Lalu Allah Subhanahu wa ta’ala bertanya : “Apa yang mereka minta?” Para Malaikat menjawab : “Mereka memohon surga-Mu?” Allah Subhanahu wa ta’ala bertanya lagi : “Apakah mereka pernah melihat Surga Ku?” Para Malaikat menjawab : “Belum, mereka belum pernah melihatnya.” Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman : “Bagaimana seandainya mereka melihat surga-Ku” Para malaikat berkata lagi : “Mereka juga memohon perlindungan kepada Mu.” Allah Subhanahu wa ta’ala bertanya : “Dari apa mereka meminta perlindungan kepada Ku?” Para Malaikat menjawab : “(Mereka meminta perlindungan) dari Neraka Mu ya Rabb.” Allah Subhanahu wa ta’ala bertanya lagi : “Apakah mereka pernah melihat neraka Ku?” Para Malaikat menjawab : “Belum pernah” Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman : “Bagaimana seandainya mereka melihat neraka Ku.” Para Malaikat pun berkata : “Mereka juga memohon ampun kepada Mu?” Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman : “Ketahuilah hai para Malaikat Ku, Sesungguhnya Aku telah mengampuni mereka, memberikan apa yang mereka minta dan melindungi mereka dari neraka.” Para Malaikat berkata : “Ya Rabb, didalam majelis itu ada seorang hamba yang banyak berbuat dosa dan kebetulan hanya lewat lalu duduk bersama mereka.” Allah Subhanahu wa ta’ala pun berfirman : “Sesungguhnya Aku telah mengampuni orang tersebut. Sesungguhnya mereka itu adalah suatu kaum yang teman duduknya tidak akan celaka karena mereka.” [Diriwayatkan oleh Imam Muslim rahimahullah didalam shahih nya, hadits no 6839 : 2689]

Hadits no 29

Turun nya Sakinah dan Rahmat di Majelis Ilmu, serta Allah menyebut orang yang duduk di Majelis ilmu dihadapan para Malaikat.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ ، وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ ، وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ ، وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ , يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ , وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ , إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ , وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ ، وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ ، وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ

Dari Abu Hurairah –Radhiyallahu’anhu- bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda : “Siapa yang membebaskan seorang Mukmin dari suatu kesulitan di Dunia, Allah akan membebaskan nya dari kesulitan pada Hari Kiamat. Siapa yang memberi kemudahan kepada orang yang berada dalam kesulitan, Allah akan memberikan kemudahan baginya didunia dan akhirat. Siapa yang menutupi aib seorang Muslim, Allah akan menutup aib nya didunia dan akhirat. Allah akan selalu menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudara nya (sesama Muslim). Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju Surga. Tidaklah sekelompok orang berkumpul di rumah Allah (masjid) untuk membaca al-Qur’an dan mempelajarinya, melainkan mereka akan mendapatkan ketenangan, rahmat dan akan dikelilingi pada malaikat, serta Allah akan menyebut (nama) mereka kepada malaikat – malaikat yang berada disisi-Nya. Siapa yang lambat amalnya, tidak akan bisa dikejar oleh nasab nya.” [Diriwayatkan oleh Imam Muslim rahimahullah dalam Shahih nya, hadits no 6853 : 2699]

Hadits no 30

Mengatur Waktu Dalam Mengajar dan Belajar

عَنْ أَبِي وَائِلِ قَالَ : كاَنَ عَبْدُ الله يُذَكِّرُ النَّاسَ فِي كُلِّ خَمِيسٍ , فَقَالَ لَهُ رَجُلُ : يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ لَوَدِدْتُ أَنَّكَ ذَكَّرْتَنَا كُلَّ يَوْمِ .” قَالَ : أَمَا إِنَّهُ يَمْنَعُنِي مِنْ ذَلِكَ أَنِّي أَكْرَهُ أَنْ أُمِلَّكُمْ وَإِنِّي أَتَخَوَّلُكُمْ بِالْمَوْعِظَةِ كَمَا كَانَ النَّبِيُّ صلّى الله عليه وسلّم يَتَخَوَّلُنَا بِهَا مَخَافَةَ السَّآمَةِ عَلَيْنَا

Dari Abu Wa’il yang berkata bahwa Abdullah memberi pelajaran kepada orang – orang setiap hari Kamis, kemudian seseorang berkata : “Wahai Abu Abdurrahman (Ibnu Mas’ud), aku ingin engkau memberi pelajaran kepada kami setiap hari.” Dia menjawab : “Sungguh, aku tidak mau melakukan nya karena takut membuat kalian bosan. Aku ingin memperhatikan kalian saat memberi pelajaran sebagaimana Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam memperhatikan kami karena khawatir kami jenuh dan bosan.” [Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari rahimahullah dalam Shahih nya 70]

–oOo–

Disusun Oleh : Prima Ibnu Firdaus al-Mirluny
Artikel elmuntaqa.wordpress.com

2 thoughts on “40 Hadits Seputar Menuntut Ilmu (21-30)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s