Hadits

Metode Tahammul Hadits

tahammul hadits

Menurut Syaikh Dr. Muhammad ‘Ajaaj Al-Khathiib, Tahammul Hadiits adalah kegiatan menerima dan mendengar suatu hadits yaitu mengambil hadits dari seorang guru dengan cara-cara tertentu. Metode ini erat sekali hubungannya dengan kelayakan seorang perawi ketika ia menerima hadits dari gurunya, maksudnya adalah kepatutan seseorang untuk mendengar dan menerima hadits serta kepatutannya dalam meriwayatkan dan menyampaikan.

Mayoritas ulama berpendapat bahwa diperbolehkan anak kecil mendengar (penyampaian hadits), yakni anak yang belum mencapai usia taklif (yaitu usia yang belum terbebani kewajiban syari’at) sedangkan sebagian ulama tidak memperbolehkannya. Pendapat mayoritas ulama lebih benar karena tidak syak lagi bahwa para sahabat, tabi’in dan ahli ilmu setelah mereka, menerima riwayat dari sahabat yang masih berusia anak-anak, seperti Al-Hasan, Al-Husain, ‘Abdullaah bin Az-Zubair, Anas bin Maalik, ‘Abdullaah bin ‘Abbaas, Abu Sa’iid Al-Khudriy, Mahmuud bin Ar-Rabii’, dan lain-lain -radhiyallahu ‘anhum- tanpa memilah-milah antara riwayat yang mereka terima sebelum dan sesudah baligh. Para ulama membagi usia mengenai batas usia diperbolehkannya seorang anak kecil menerima dan mendengar hadits :

Pertama, umur minimal adalah 5 tahun. Hujjah bagi pendapat ini adalah hadits yang diriwayatkan Al-Imam Al-Bukhaariy dari Mahmuud bin Ar-Rabii’, ia berkata, “Aku mengingat dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam saat beliau melumuri air liur beliau di wajahku dan aku baru berusia lima tahun.” [Shahiih Al-Bukhaariy no. 77].

Kedua, pendapat Al-Haafizh Muusaa bin Haaruun Al-Hammaal yaitu bahwasanya kegiatan mendengar yang dilakukan anak kecil sah apabila telah mampu membedakan sapi dengan himar. Maksudnya disini adalah “tamyiiz“.

Ketiga, bahwa keabsahan kegiatan anak kecil dalam mendengar hadits didasarkan pada adanya tamyiz. Bila ia telah mampu memahami pembicaraan dan mampu memberikan jawaban maka ia sudah tergolong mumayyiz dan sah pendengarannya meskipun usianya dibawah lima tahun. Namun bila ia tidak memahami pembicaraan dan tidak bisa menjawab, maka kegiatan mendengarnya tidak sah meski ia sudah berusia diatas lima tahun.

Dari ketiga pendapat ini, hampir disepakati oleh mereka bahwa tamyiz adalah kriteria yang dipersyaratkan ketika mendengar dan menerima hadits, yakni ketika mereka telah mampu memahami pembicaraan dan memberikan jawaban. Telah banyak bukti dari para huffazh bahwa mereka memotivasi anak-anak untuk mendatangi majelis mereka, seperti Al-Imam Al-A’masy yang sering mengumpulkan anak-anak dan memberikan hadits kepada mereka.

Metode Tahammul Hadiits

1. As-Simaa’, artinya adalah mendengar, yaitu seorang guru membacakan hadits baik dari hapalan ataupun dari kitabnya sedangkan hadirin mendengarnya, baik itu dalam majelis imlaa’ ataupun untuk yang lain. Mayoritas ulama berpendapat metode ini ada di peringkat tertinggi periwayatan. Ada yang berpendapat bahwa mendengar dari guru kemudian disertai dengan menulis darinya lebih tinggi dari mendengar saja karena dengan menulis maka ia akan terhindar dari kelalaian dan lebih mendekati kebenaran dan keakuratan

2. Al-Qiraa’ah ‘Alaa Asy-Syaikh, artinya adalah membaca di hadapan guru, yaitu murid memberikan bacaannya kepada sang guru seperti ketika ia membacakan bacaan Al-Qur’an kepada gurunya. Yang dimaksud adalah seorang murid membaca hadits di hadapan guru baik dari hapalan atau kitabnya yang diteliti sedangkan gurunya memperhatikan atau menyimaknya baik dari hapalan, kitab asalnya ataupun dari naskah yang digunakan untuk mengecek dan meneliti. Al-Imam Ahmad mensyaratkan pembacanya harus mengerti dan memahami bacaannya itu sedangkan Al-Imam Al-Haramain mensyaratkan gurunya harus meluruskan/mengoreksi bila pembacanya keliru atau salah, bila tidak maka tahammul akan tidak sah. Metode ini berada di bawah metode As-Simaa’ akan tetapi diriwayatkan dari sebagian ulama bahwa membaca di hadapan guru berada di peringkat yang sama dengan As-Simaa’, ada lagi yang berpendapat ada diatas metode As-Simaa’ namun mayoritas sepakat mendahulukan As-Simaa’ daripada Qiraa’ah.

3. Al-Ijaazah, sertifikat/rekomendasi, jenis ini adalah metode tahammul yang berbeda sama sekali dengan dua metode diatas namun ia masih berada dalam batas pemberian kewenangan seorang guru untuk meriwayatkan sebagian riwayatnya kepada seseorang atau beberapa orang yang juga telah ia tentukan tanpa membacakan hadits yang diijazahkan, oleh karena itu ada ulama yang memperbolehkan metode ini dan ada yang tidak. Para ulama mutaqaddimin tidak memperbolehkan ijazah tanpa syarat-syarat tertentu, yaitu seorang ahli hadits harus mengenal betul apa yang akan diijazahkannya, naskah yang ada pada murid harus dibandingkan dengan naskah aslinya hingga benar-benar sama dan yang meminta ijazah adalah ahli ilmu pula dan telah memiliki posisi dalam hal keilmuan. Menurut mereka pula bahwa ijazah hanya diperbolehkan bagi kalangan tertentu yang bersifat tsiqah dan hadits yang diijazahkan juga tidak lebih dari beberapa hadits, juz’ atau kitab. Al-Imam Maalik dan yang lain memakruhkan ijazah bagi mereka yang bukan ahli ilmu dan bagi yang tidak memiliki ketekunan dalam bidang ini. Namun pada era muta’akhirin, sebagian ahli ilmu tasahul dalam memberikan ijazah bahkan cenderung gegabah sehingga membuat para muridnya tidak bersemangat mendengarkan hadits secara utuh dari kitab-kitab para huffaazh. Metode ijazah ini dalam bentuk tertingginya tetap berada dibawah kedua metode yang telah disebutkan.

4. Al-Munaawalah, maksudnya adalah seorang guru hadits memberikan sebuah hadits, beberapa hadits, atau sebuah kitab kepada muridnya agar sang murid meriwayatkannya darinya. Misalnya seorang guru memberikan sebuah kitab kepada muridnya, ia berkata, “Ini adalah haditsku,” atau “ini adalah riwayat-riwayat yang kudengar,” tanpa ia mengatakan, “Riwayatkanlah dariku,” atau “aku memperbolehkanmu (untuk meriwayatkan dariku).” Sebagian ulama memperbolehkan metode ini, sebagian yang lain tidak memperbolehkannya. Al-Munaawalah terbagi dua, yaitu Al-Munaawalah Al-Mujarradah ‘an Al-Ijaazah (munawalah yang tidak disertai dengan ijazah), dan Al-Munaawalah Al-Maqruunah bi Al-Ijaazah (munawalah disertai ijazah), dan ini adalah ijazah munawalah yang paling tinggi statusnya.

5. Al-Mukaatabah, yaitu seorang guru menulis dengan tangannya atau meminta orang lain menulis darinya sebagian haditsnya untuk seorang murid yang ada di hadapannya atau murid yang berada di tempat lain lalu sang guru mengirimnya kepada sang murid bersama dengan orang yang bisa dipercaya (utusan). Metode ini ada dua jenis, yaitu yang pertama adalah disertai dengan ijazah, misalnya seorang guru menulis beberapa hadits untuk sang murid sambil memberikan ijazah untuknya, maka jenis ini setingkat dengan munawalah yang disertai ijazah dalam hal keshahihan dan kekuatan. Kedua, tanpa disertai dengan ijazah, dalam hal ini ada sekelompok ulama yang melarangnya namun yang shahih adalah ia diperbolehkan dan ini dipilih oleh mayoritas ulama mutaqaddimin dan muta’akhirin. Al-Khathiib Al-Baghdaadiy menganjurkan agar penulisan dilakukan oleh ahli hadits sendiri namun ia tidak menilainya sebagai kewajiban.

6. I’laam Asy-Syaikh, yaitu seorang syaikh atau guru memberitahukan kepada muridnya bahwa hadits tertentu atau kitab tertentu merupakan bagian dari riwayat-riwayat miliknya yang telah didengarnya atau diambilnya dari seseorang, atau perkataan lain yang senada tanpa menyatakan secara jelas pemberian ijazah kepada murid untuk meriwayatkan darinya. Sebagian ulama mengatakan bahwa metode ini harus disertai ijazah agar periwayatan darinya bisa berstatus shahih.

7. Al-Washiyyah, artinya adalah wasiat, yaitu seorang guru atau ahli hadits yang berwasiat sebelum bepergian jauh atau sebelum wafatnya agar kitabnya diberikan kepada seseorang untuk meriwayatkan darinya. Metode ini adalah metode tahammul yang teramat langka. Diriwayatkan dari sebagian salaf bahwa mereka mewasiatkan kitab-kitab mereka sebelum wafat, diantaranya adalah Abu Qilaabah ‘Abdullaah bin Zaid Al-Jarmiy (- 104 H) mewasiatkan kitabnya untuk Ayyuub As-Sakhtiyaaniy (68 – 131 H) kemudian kitab-kitab itu didatangkan kepada Ayyuub yang jumlahnya sebanyak muatan kendaraan unta. Ayyub juga memberikan upah pengangkutannya sebesar sepuluh dirham lebih. Metode ini adalah metode tahammul yang paling lemah, oleh karena itu dipersyaratkan kepada yang menerima wasiat jika ingin meriwayatkan kitab-kitab wasiat tersebut agar menyertakan secara utuh ungkapan yang dikatakan oleh yang mewasiatkan. Ia tidak boleh menggunakan perkataan semisal, “Telah menceritakan kepadaku Fulan,” karena yang mewasiatkan memang tidak pernah meriwayatkan secara langsung kepadanya.

8. Al-Wijaadah, artinya adalah penemuan, maksudnya adalah ilmu yang didapat atau diambil dari shahifah tanpa ada proses mendengar, mendapatkan ijazah ataupun munawalah. Misalnya, seseorang menemukan kitab hasil tulisan orang lain yang semasa dengannya dan ia mengenal dengan baik tulisan orang itu baik ia pernah bertemu dengannya ataupun tidak, atau tulisan orang lain yang tidak semasa dengannya (mendahuluinya) tapi ia merasa yakin bahwa tulisan itu benar penisbatannya kepada orang yang bersangkutan melalui kesaksian orang yang bisa dipercaya atau kepopuleran kitab tersebut ataupun dengan sanad yang ada pada kitab ataupun melalui sarana lainnya. Bila ia telah yakin maka boleh meriwayatkan isi yang ia kehendaki dalam bentuk menceritakan, bukan mendengar. Metode ini amat langka pada masa salaf karena mayoritas ulama salaf sangat mengutamakan periwayatan secara langsung melalui simaa’ atau membacakan kitab. Bahkan sebagian ulama salaf mencela metode ini, diriwayatkan bahwa mereka berkata, “Jangan membaca Al-Qur’an dari orang-orang yang mempelajarinya dari mushaf saja dan jangan menerima ilmu dari orang-orang yang menerimanya dari shahifah-shahifah,” sebagian diantara mereka malah melemahkan periwayatan dari kitab-kitab. Oleh karena itu dalam metode semacam ini tidak boleh menggunakan ungkapan, “Telah menceritakan kepada kami,” atau “telah mengkhabarkan kepada kami,” melainkan ia menggunakan ungkapan, “Kami menemukan dalam kitab Fulan,” atau “kami membaca begini dan begini dalam kitab Fulan.”

Para ulama terdahulu adalah orang-orang yang amat berhati-hati ketika mengutip dari kitab. Contoh paling baik ada pada Musnad Ahmad, dimana putra Al-Imam Ahmad, yaitu Al-Imam ‘Abdullaah bin Ahmad meriwayatkan hadits yang ia peroleh melalui penemuan dalam kitab ayahnya, ia berkata, “Aku menemukan dalam tulisan Ayahku, telah menceritakan kepada kami Fulan,” atau “aku menemukan dalam tulisan Ayahku didalam kitabnya,” kemudian menyebutkan haditsnya. ‘Abdullaah tidak langsung meriwayatkan dari ayahnya padahal telah kita ketahui bersama bahwa ‘Abdullaah adalah periwayat kitab-kitab Al-Imam Ahmad, putra sekaligus murid beliau.

Seorang perawi yang memakai metode ini tidak boleh menisbatkan riwayatnya kepada pemilik kitab bila ia merasa ragu terhadap penisbatannya kecuali dengan perkataan yang menunjukkan keragu-raguan itu, misalnya, “Aku mendengar dari Fulan,” atau “Aku menemukan dalam suatu kitab yang aku menduganya milik Fulan.”

Tak seorang pun diperbolehkan meragukan status tahammul melalui wijadah yang telah memenuhi kriteria-kriteria shahih penisbatannya kepada pemilik kitab. Dan juga tidak boleh meragukan keshahihan tahammul itu bila yang menyampaikannya adalah orang yang tsiqah karena semua hadits yang kita peroleh pada masa ini adalah berasal dari kitab-kitab, semua dikutip oleh ahli ilmu dengan beragam keahliannya termasuk metode wijadah. Seandainya periwayatan hanya diperbolehkan dari mendengar langsung, maka tertutuplah sebagian besar pintu ilmu yang berarti tertutup pula mengamalkan sebagian besar periwayatan karena sulitnya memenuhi syarat periwayatan dengan cara seperti itu, seperti dikatakan Al-Haafizh Abu ‘Amr Ibnu Ash-Shalaah.

Allaahu a’lam.

Sumber :

“Ushuulul Hadiits ‘Uluumuhu wa Musthalahuhu”, karya Syaikh Dr. Muhammad ‘Ajaaj Al-Khathiib, Daarul Fikr, Beirut. Edisi Indonesia, “Ushul Al-Hadits”, penerbit Gaya Media Pratama.

Artikel Muhandisun.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s