Faedah

10 Faedah Tentang Al-Qur’an

10 faedah tentang alquran

Oleh Abu Ubaidah Yusuf As Sidawi.

1. KONTRADIKSI DALAM AL QURAN ?!

Alloh عزّوجلّ berfirman:

أَفَلاَ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ اخْتِلاَفاً كَثِيراً

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur’an? Kalau sekiranya al-Qur’an itu bukan dari sisi Alloh, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. an-Nisa'[4]: 82)

Ayat yang mulia ini menjelaskan bahwa apabila kita merenungi al-Qur’an, niscaya tidak akan kita dapati kontradiksi dalam ayat-ayatnya. Bila sekilas nampaknya ada pertentangan, itu hanyalah karena kurangnya pemahaman kita, maka serahkanlah kepada para ulama ahlus Sunnah.

Imam Ibnu Qoyyim al-Jauziyah رحمه الله mengatakan dalam Nuniyahnya 2471-2472:

وَنُصُوصُهُ لَيْسَــــــــــــــتْ يُعَرِضُ بَعْضُهَا
بَعْضًا فَسَــــــــــــــلْ عَنْهَا عَلَــــــــــــيْـــــــــــــمَ زَمَانٍ
وَإِذَا ظَنَنْتَ تَعَارُضًا فِـــــيْــــــــــــــــــــــــهَا فَذَا
مِـــــــــــــــــــــــــــــــــــــنْ آفَةِ الأَفْهَامِ وَالأَذْهَانِ

Dan nash-nash al-Qur’an itu tidak saling bertentangan
Maka bertanyalah kepada ulama zaman
Kalau engkau mendapati padanya kontradiksi
Maka itu adalah dari kurangnya pemahaman.

Para ulama telah menyebutkan beberapa contoh banyak sekali tentang masalah ini. Di antara kitab yang paling bagus dan mencakup seputar masalah ini adalah “Daf’u Iham Idhthirab an Aayi Kitab” (Menolak Anggapan Kontradiksi Dalam Ayat-Ayat Qur’an) karya Syaikh Muhammad Amin asy-Syinqithi rahimahullah. [1]

2. HADITS TIDAK ADA ASALNYA

كَمْ مِنْ قَارِئٍ يَقْرَأُ الْقُرْآنُ يَلْعَنُهُ

“Betapa banyak orang membaca al-Qur’an, sedangkan al-Qur’an melaknatnya.”

TIDAK ADA ASALNYA. Demikian ditegaskan oleh Syaikh al-Albani رحمه الله, sebagaimana diceritakan oleh murid beliau -Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi خفظه الله- katanya: “Sebagian orang menisbatkan ucapan ini sebagai hadits dari Nabi صلي الله عليه وسلم. Saya tidak mendapatinya dalam kitab-kitab yang telah saya buka, kemudian saya bertanya kepada Syaikhuna al-Albani tentangnya? Beliau menjawab: “Tidak ada asalnya”. Kemudian saya mendapatkan dalam Ihya’ 1/274 ucapan ini dinisbatkan kepada Anas tanpa menyandarkan kepada siapa yang mengeluarkannya. (Ta’liq Fatawa Syaltut hal. 123).

3. KAPAN BERTAAWWUDZ

Banyak para penceramah ketika akan membaca ayat dalam khutbah atau kajian, dia berkata: “Alloh عزّوجلّ berfirman, -lalu bertaawwudz- أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ, apakah hal ini dibenarkan?!

Al-Hafizh as-Suyuthi as-Syafi’i رحمه الله menjawab pertanyaan ini: “Menurutku pendapat yang benar dalam masalah ini sesuai dengan dalil, bahwa hendaknya dia membaca ayat tanpa ta’awwudh terlebih dahulu, karena inilah yang dicontohkan oleh Nabi صلي الله عليه وسلم, para sahabat dan tabi’in.”

Setelah beliau menyebutkan hadits-hadits dan atsar dalam masalah ini, beliau mengatakan: “Hadits dan atsar tentang hal ini banyak sekali, maka pendapat yang benar adalah cukup membawakan ayat tanpa ta’awudh terlebih dahulu, sebagai bentuk ittiba’ (mengikuti) tuntunan Sunnah Rosululloh. Adapun perintah isti’adzah dalam firman Alloh عزّوجلّ:

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

“Apabila kamu membaca al-Qur’an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Alloh dari setan yang terkutuk.” (QS. an-Nahl [16]: 98)

Maka maksud perintah ini adalah ketika akan membaca al-Qur’an, adapun mengutip ayat dalam berdalil dan berhujjah maka hal itu tidak masuk dalam ayat tersebut. (al-Qodzadzah fi Tahqiqi Mahalli Isti’adzah, sebagaimana dalam’ al-Hawii lil Fatawi 1/296).

4. HAFALAN AL-QUR’AN

Al-Khothib al-Baghdadi رحمه الله berkata: “Kisah paling lucu tentang hafalan anak kecil adalah ucapan Ibrohim bin Said al-Jauhari: “Saya mendapati anak kecil berusia empat tahun dibawa kepada Kholifah Ma’mun, dia sudah hafal al-Qur’an dan pintar berdebat, hanya saja kalau sudah lapar maka dia menangis!!”. (al-Kifayah fi Ilmi Riwayah hlm. 64)

A’masy رحمه الله apabila menghafal al-Qur’an, beliau disimak oleh beberapa orang dengan membawa mushaf, namun beliau tidak keliru walaupun hanya satu huruf. (Siyar A’lam Nubala’, adz-Dzahabi 6/235)

5. SERUAN AR-ROHMAN

Sahabat yang mulia Abdulloh bin Mas’ud رضي الله عنه pernah mengatakan: “Apabila engkau mendapati ayat yang didahului dengan (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ) “Wahai orang-orang beriman…”, maka pasanglah telingamu baik-baik, karena isinya adalah kebaikan yang harus engkau lakukan atau kejelekan yang harus engkau hindari.”

Ayat-ayat dalam al-Qur’an yang didahului seruan tersebut cukup banyak, kurang lebih sembilan puluh ayat. Syaikh Abu Bakar al-Jazairi mengumpulkannya dalam sebuah kitab berjudul “Nida’atur Rohman li Ahli Iman” (Seruan ar-Rohman Kepada Hamba-hamba-Nya yang Beriman”.

Dalam muqoddimahnya, beliau menerangkan bahwa seruan-seruan ini berisi hal-hal penting yang semestinya diketahui seorang muslim agar meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat. Seruan-seruan ini mencakup permasalahan seputar aqidah, ibadah, akhlak, mu’amalah, hukum dan lain sebagainya.

6. TAFSIR DENGAN ISYARAT

Penafsiran manusia berputar pada tiga metode:

  1. Penafsiran secara lafadz, metode ini biasanya ditempuh oleh orang-orang belakangan.
  2. Penafsiran secara makna, metode ini biasanya ditempuh oleh para salaf.
  3. Penafsiran secara isyarat dan qiyas, metode ini biasanya ditempuh kaum Sufi dan selainnya. Hal ini boleh dengan empat syarat:

a. Tidak bertentangan dengan makna ayat.
b. Makna penafsiran tersebut shohih.
c. Adanya indikasi yang mendukung dalam lafadz tersebut
d. Adanya keterkaitan antara penafsiran tersebut dan makna ayat.

Apabila syarat-syarat ini terpenuhi, maka penafsiran ini bagus. (at-Tibyan fi Aqsamil Qur’an, Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah hlm. 90)

7. PEMBACAAN AL-QUR’AN SEBELUM ACARA

Dalam acara-acara, biasanya diawali dengan acara pembukaan ayat-ayat suci al-Qur’an, apakah hal ini disyari’atkan?!

Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin رحمه الله berkata: “Saya tidak mengetahui adanya Sunnah dari Rosululloh صلي الله عليه وسلم yang mendukung hal ini. Telah dimaklumi bersama bahwa Nabi صلي الله عليه وسلم sering mengumpulkan para sahabatnya ketika akan perang atau urusan-urusan penting lainnya, namun saya tidak mendapati bahwa beliau memulai perkumpulan tersebut dengan pembacaan al-Qur’an.

Namun, seandainya acara tersebut berkaitan tentang topik tertentu, lalu ada seorang yang membacakan ayat mengenai topik tersebut, maka hal ini boleh. Adapun menjadikan pembacaan kitab suci al-Qur’an sebagai pembukaan acara terus-menerus seakan hal itu adalah sesuatu yang disyari’atkan, maka ini tidak selayaknya dilakukan”. (Fatawa Nur ‘ala Darb 2/43)

8. SEKEDAR PENDAPAT SAJA

Suatu saat, ada seorang datang kepada Muqotil bin Sulaiman رحمه الله seraya mengatakan: “Ada orang bertanya kepadaku: ‘Apa warna anjing Ashabul Kahfi?’ Dan saya tidak bisa menjawabnya!! Akhirnya, Muqotil mengatakan: ‘Kenapa kamu tidak mengatakan saja bahwa warnanya belang. Seandainya kamu jawab begitu, toh tidak akan ada yang membantah dan memprotesmu’.” (Tarikh Baghdad 13/165).

Kisah ini menunjukkan kepada kita bahwa kebanyakan pendapat ahli tafsir tentang perincian-perincian seperti itu hanyalah pendapat semata tanpa hujjah yang akurat. (Lihat al-Aqwal Syadzahnfi Tafsir hlm. 67, Syaikhuna Abdurrohman ad-Dahsy).

9. KUPERSEMBAHKAN AL-FATIHAH

Surat al-Fatihah adalah surat yang memiliki banyak keutamaan. Namun sebagian manusia pada zaman sekarang telah membuat suatu hal baru dalam agama tentang surat ini, mereka menutup doa dengannya dan memulai acara dengan mengatakan “al-Fatihah”!! Maka ini adalah suatu kesalahan, sebab agama itu dibangun di atas dalil dan ittiba’ (mengikuti Nabi صلي الله عليه وسلم)”.

Al-Hafizh as-Sakhawi رحمه الله pernah ditanya tentang kebiasaan manusia usai sholat, mereka membaca al-Fatihah dan menghadiahkannya kepada kaum muslimin yang hidup dan mati, beliau menjawab: “Cara seperti tidak ada contohnya, bahkan ini termasuk kebid’ahan dalam agama”. (Al-Ajwibah al-Mardhiyyah 2/721).

10. HORMATILAH AL-QUR’AN

Al-Qur’an adalah Kalamulloh, maka wajib bagi kita untuk menghormati, ada beberapa hal yang perlu diingatkan pada kesempatan ini:

1. Menjadikan Al-Qur’an suara dering tunggu di HP

Sungguh, hal ini termasuk kurang adab terhadap al-Qur’an, karena al-Qur’an tidak diturunkan untuk hal ini. Bagaimana kiranya bila hp berdering di tempat yang tidak layak?!

Banyak para ulama yang telah mengingatkan masalah ini, di antaranya adalah Syaikh Ibnu Utsaimin رحمه الله sebagaimana dalam Min Fawa’idi Syarah Riyadhus Sholihin hlm. 221, Syaikh Bakr Abu Zaid رحمه الله dalam Adabul Hathif Syaikh Sholih al-Fauzan خفظه الله dalam Muhadhoroh-nya di Jami’ Ibnu Utsaimin 28/Robi’ul Awal 1427 H, dan lain sebagainya. [2]

2. Menyetel kaset murottal saat salimah/acara

Di satu sisi, kita bersyukur banyak orang tidak lagi menyetel musik dan nyanyian saat walimah/acara, namun apakah menggantinya dengan murottal al-Qur’an adalah solusi yang baik?! Kita harus ingat bahwa saat itu banyak orang tidak mendengarkan lantunan al-Qur’an. Padahal Alloh عزّوجلّ berfirman:

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُواْ لَهُ وَأَنصِتُواْ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Dan apabila dibacakan al-Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” (QS. al-A’rof [7]: 204)

Dengan demikian, maka tidak boleh menyetel murottal pada suatu kaum yang tidak mendengarkannya. Sebagai gantinya, kita bisa menyetel kaset yang berisi kata-kata hikmah, syair atau mandhumah kitab, atau diisi dengan acara-acara yang bermanfaat lainnya. [3]

3. Meletakkan lembaran-lembaran berisi al-Qur’an sembarangan

Kita masih sering menjumpai sebagian saudara-saudara kita tidak hati-hati dalam meletakkan kertas-kertas yang ada ayat al-Qur’annya. Terkadang mereka membiarkannya berserakan, menggunakannya untuk bungkus bumbu atau makanan, alas duduk dan semisalnya, —wal ‘iyadzu billah—, semua ini adalah bentuk kurang adab terhadap al-Qur’an. Jika memang kertas (majalah, buku, catatan dll) tersebut sudah tidak dipakai sebaiknya kita memendamnya di tempat yang suci, atau membakarnya sebagai penjagaan dari segala pelecehan sebagaimana dilakukan oleh Kholifah Utsman bin Affan رضي الله عنه. (Lihat Fatawa Lajnah Daimah 3/138).

Catatan :

[1] Syaikh al-Fadhil Masyhur bin Hasan berkomentar tentangnya: “Kitab ini sangat bagus sekali”. (at-Tahqiqat wa Tanqihat As-Salafiyyat Ala Matan Waraqat hal. 391)

[2] Sekitar lima bulan yang lalu, saya mendengarkan kabar lewat sebuah stasiun di Saudi Arabia bahwa Mujamma’ Fiqih (lembaga akademi fiqih Islam) dalam sidang mereka yang terakhir membahas beberapa hal, salah satunya adalah masalah ini dan mereka menegaskan tidak bolehnya al-Qur’an dijadikan sebagai nada dering tunggu HP.

[3] Demikian faedah dari kedua Syaikh penulis; Sami bin Muhammad dan Abdurrohman ad-Dahsy (keduanya murid Syaikh Ibnu Utsaimin), ketika penulis tanyakan kepada mereka berdua via sms.

Sumber : Majalah Al-Furqon Gresik, No. 80, Ed. 10 Tahun 7, 1429 H

Download ebooknya disini : 10 Faedah Tentang Al-Qur’an

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s