Hadits

10 Hadits Nabawiy Tentang Pokok-Pokok Ilmu

Semangat Menuntut Ilmu

1. POKOK-POKOK ISLAM

Diriwayatkan dari Al-Imaam Ahmad rahimahullah, ia berkata :

أصولُ الإسلام على ثلاثة أحاديث : حديث عمرَ : ((الأعمالُ بالنيات )) ، وحديثُ عائشة : (( مَنْ أحدثَ في أمرِنا هذا ما ليس منهُ ، فهو ردٌّ ))، وحديثُ النُّعمانِ بنِ بشيرٍ : (( الحلالُ بيِّنٌ ، والحَرامُ بَيِّنٌ)).

“Pokok-pokok Islam ada pada tiga hadits : (1) Hadits Umar radliyallaahu ‘anhu : ‘Sesungguhnya seluruh amal perbuataan itu dengan niat’; (2) Hadits ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa : ‘Barangsiapa yang mengada-adakan perkara baru dalam urusan agama kami yang bukan merupakan bagian darinya, maka tertolak’; dan (3) Hadits An-Nu’maan bin Basyiir : ‘Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas’.” [Tharhut-Tatsriib 2/5 dan Al-Fath 1/15].

2. POKOK-POKOK HADITS

Al-Haakim rahimahullah berkata :

حدَّثُونا عَنْ عبدِ الله بنِ أحمدَ ، عن أبيه : أنّه ذكرَ قوله عليه الصَّلاةُ والسَّلام : (( الأعمال بالنيات )) ، وقوله : (( إنّ خَلْقَ أحَدِكُم يُجْمَعُ في بطنِ أُمِّهِ أربَعينَ يوماً )) ، وقوله : (( مَنْ أَحْدَث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رَدٌّ)) فقال : ينبغي أنْ يُبدأ بهذه الأحاديثِ في كُلِّ تصنيفٍ ، فإنّها أصولُ الحديث.

”Para ulama berkata kepada kami, dari Abdullah bin Ahmad dari ayahnya (Ahmad bin Hanbal), bahwasannya ia menyebutkan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : (1) ‘Sesungguhnya seluruh amal perbuataan itu dengan niat’, (2) ‘Sesungguhnya penciptaan salah seorang dari kalian dikumpulkan di perut ibunya selama empat puluh hari’, (3) ‘Barangsiapa yang mengada-adakan perkara baru dalam urusan agama kami yang bukan merupakan bagian darinya, maka tertolak’. Kemudian ia (Al-Imam Ahmad) berkata : Hadits-hadits tersebut semestinya ditempatkan di permulaan setiap tulisan/buku, karena merupakan pokok-pokok hadits.”

3. POKOK-POKOK AGAMA

Ishaaq bin Rahawaih rahimahullah berkata :

أربعةُ أحاديث هي مِنْ أُصولِ الدِّين : حديث عُمَر : (( إنّما الأعمالُ بالنِّيَّات )) ، وحديث : (( الحلالُ بيِّنٌ والحرامُ بَيِّنٌ )) ، وحديث (( إنَّ خَلْقَ أَحدِكُم يُجْمَعُ في بطنِ أمّه )) ، وحديث : (( مَنْ صَنَعَ في أمرِنا شيئاً ليس منه ، فهو ردٌّ)).

”Empat hadits yang merupakan pokok-pokok dalam agama : (1) Hadits Umar radliyallaahu ‘anhu : ‘Sesungguhnya seluruh amal perbuataan hanyalah dengan niat’, (2) Hadits : ‘Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas’, dan (3) Hadits : ‘Sesungguhnya penciptaan salah seorang dari kalian dikumpulkan di perut ibunya’, dan (4) Hadits : ‘Barangsiapa yang membuat-buat sesuatu dalam urusan agama kami yang bukan merupakan bagian darinya, maka tertolak’”.

4. EMPAT HADITS YANG MENCUKUPI MANUSIA

Abu Daawud rahimahullah berkata :

كتبتُ عن رسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خمس مئة ألف حديثٍ، انتخبتُ منها ما ضَمَّنْتُهُ هذا الكتاب – يعني كتابَ ” السنن ” – جمعت فيه أربعةَ آلاف وثمانمئة حديثٍ ، ويكفي الإنسانَ لدينه مِنْ ذلك أربعةُ أحاديث : أحدُها : قوله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (( إنما الأعمالُ بالنِّيَّات )) ، والثاني : قوله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (( مِنْ حُسن إسلامِ المرءِ تركُهُ ما لا يعنيه )) ، والثالث : قولُه صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (( لا يكونُ المُؤمِنُ مؤمناً حتّى لاَ يرضى لأخيه إلاّ ما يرضى لنفسه )) ، والرَّابع : قوله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (( الحلال بيِّنٌ ، والحرامُ بيِّنٌ)).

“Aku menulis hadits dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam sebanyak 500.000 hadits. Kesemua hadits aku seleksi seperti yang dimuat dalam kitab ini, yaitu As-Sunan, hingga akhirnya aku kumpulkan hadits tersebut sebanyak 4.800 hadits.  Di antara hadits-hadits tersebut ada empat hadits yang mencukupi manusia untuk agama mereka, yaitu : (1) Sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam : ‘Sesungguhnya seluruh amal perbuatan itu hanyalah dengan niat’, (2) Sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Di antara tanda kebaikan keislaman seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya’, (3) Sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam : ‘Seorang mukmin tidak menjadi mukmin hingga ia ridla untuk saudaranya melainkan dengan sesuatu yang ia ridlai untuk dirinya sendiri’, dan (4) Sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Yang halal itu jelas dan yang haram juga jelas”.

5. FIQH BERPUTAR DALAM LIMA HADITS

Dalam riwayat lain dari Abu Daawud rahimahullah, ia berkata :

الفقه يدورُ على خمسةِ أحاديث : (( الحلال بَيِّنٌ ، والحرامُ بيِّنٌ )) ، وقوله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (( لا ضَررَ ولا ضِرارَ )) ، وقوله : (( إنّما الأعمالُ بالنِّياتِ )) ، وقوله : (( الدِّينُ النصيحةُ )) ، وقوله : (( وما نهيتُكم عنه فاجتنبُوه ، وما أمرتُكم به فائتُوا مِنهُ ما استطعتم)).

”Fiqh berputar pada lima hadits : (1) Sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam : ‘Yang halal itu jelas dan yang haram juga jelas’, (2) Sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Tidak boleh ada mudlarat dan tidak boleh menimbulkan mudlarat”, (3) Sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Sesungguhnya seluruh amal perbuatan itu hanyalah dengan niat”, (4) Sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Agama itu nashihat’, dan (5) Sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ”Apa saja yang aku larang, jauhilah. Dan apa saja yang aku perintahkan, kerjakanlah semampu kalian”.

6. POKOK-POKOK SUNNAH

Dalam riwayat lain dari Abu Daawud rahimahullah, ia berkata :

أصولُ السُّنن في كلِّ فنٍّ أربعةُ أحاديث : حديث عمر (( إنّما الأعمالُ بالنّياتِ )) ، وحديث : (( الحلالُ بيِّن والحرامُ بيِّن )) ، وحديث : (( مِنْ حُسْنِ إسلامِ المرء تَركُهُ ما لا يعنيه )) ، وحديث : (( ازْهَدْ في الدُّنيا يحبكَ الله، وازهد فيما في أيدي النَّاس يُحِبك الناسُ)).

“Pokok-pokok sunnah dalam segala bidang adalah empat hadits, yaitu : (1)  Hadits Umar radliyallaahu ‘anhu : ‘Sesungguhnya seluruh amal perbuatan itu hanyalah dengan niat’, (2) Hadits : ‘Yang halal itu jelas dan yang haram juga jelas’, (3) Hadits : ‘Diantara tanda kebaikan keislaman seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya’, dan (4) Hadits : ‘Zuhudlah di dunia, niscaya Allah mencintaimu. Dan zuhudlah terhadap apa yang ada di tangan manusia, niscaya mereka mencintaimu”.

Al-Haafidh Abul-Hasan Thaahir bin Mufawwiz Al-Mu’aafiriy Al-Andalusiy rahimahullah [1] pernah bersyair :

عُمْدَةُ الدِّينِ عندَنا كلماتٌ  *  أربعٌ مِنْ كلامِ خيرِ البريَّه

اتَّق الشُّبهَاتِ وازهَدْ ودَعْ ما  *  لَيسَ يَعْنِيكَ واعمَلَنَّ بِنيَّه

“Landasan agama menurut kami

adalah empat kalimat dari sabda manusia terbaik

Yaitu jauhilah syubhat, zuhudlah,

dan tinggalkanlah apa yang tidak ada manfaatnya bagimu, dan berbuatlah dengan niat.”

[Dikutip dari : Jaami’ul-‘Ulum wal-Hikam karya Ibnu Rajab Al-Hanbaliy rahimahullah, tahqiiq : Dr. Maahir bin Yaasiin Al-Fahl hafidhahullah, hal. 31-34; Daar Ibni Katsiir, Cet. 1/1429]

[1] Seorang imaam, haafidh, dan pengkritik hebat : Abul-Hasan Thaahir bin Mufawwiz bin Ahmad bin Mufawwiz Al-Mu’aafiriy Asy-Syaathibiy; murid Abu ‘Umar bin Abdil-Barr (Ibnu Abdil-Barr) dan merupakan teman dekatnya. Ia imam, gudang ilmu, pakar hadits, mempunyai kelebihan, wara’, taqwa, berwibawa, dan terkenal. Ia lahir tahun 429 H. [Siyaaru A’laamin-Nubalaa’ 19/88, Al-‘Ibar 3/305, dan Tadzkiratul-Huffaadh 4/1222-1223]

Sumber : abul-jauzaa.blogspot.com

LAMPIRAN TEKS HADIST

1. Hadits Pertama (Amal Itu Tergantung Niatnya)

عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول ” إنما الأعمال بالنيات , وإنما لكل امرئ ما نوى , فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله , ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها و امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه ” متفق عليه

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”.

[Diriwayatkan oleh dua orang ahli hadits yaitu Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah bin Bardizbah Al Bukhari (orang Bukhara) dan Abul Husain Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naisaburi di dalam kedua kitabnya yang paling shahih di antara semua kitab hadits. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907]

2. Hadits Kedua (Semua Perbuatan Bid’ah Tertolak)

عن أم المؤمنين أم عبدالله عائشة رضي الله عنها قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ” من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد ” رواه البخاري ومسلم , وفي رواية لمسلم ” من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد

Dari Ummul mukminin, Ummu ‘Abdillah, ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan agama kami ini yang bukan dari kami, maka dia tertolak”. (Bukhari dan Muslim. Dalam riwayat Muslim : “Barangsiapa melakukan suatu amal yang tidak sesuai urusan kami, maka dia tertolak”)

[Bukhari no. 2697, Muslim no. 1718]

3. Hadits Ketiga (Dalil Yang Halal Dan Yang Haram Telah Jelas)

عن أبي عبدالله النعمان بن بشير رضي الله عنهما قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول ” إن الحلال بين و الحرام بين , وبينهما مشتبهات قد لا يعلمهن كثير من الناس , فمن اتقى الشبهات فقد استبرأ لدينه وعرضه , ومن وقع في الشبهات فقد وقع في الحرام , كالراعي يرعى حول الحمى يوشك أن يرتع فيه , ألا وأن لكل ملك حمى , ألا وإن حمى الله

محارمه , إلا وإن في الجسد مضغة إذا صلحت صلح الجسد كله , وإذا فسدت فسد الجسد كله , ألا وهي القلب

Dari Abu ‘Abdillah An-Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhuma berkata,”Aku mendengar Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya yang Halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan diantara keduanya ada perkara yang samar-samar, kebanyakan manusia tidak mengetahuinya, maka barangsiapa menjaga dirinya dari yang samar-samar itu, berarti ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya, dan barangsiapa terjerumus dalam wilayah samar-samar maka ia telah terjerumus kedalam wilayah yang haram, seperti penggembala yang menggembala di sekitar daerah terlarang maka hampir-hampir dia terjerumus kedalamnya. Ingatlah setiap raja memiliki larangan dan ingatlah bahwa larangan Alloh apa-apa yang diharamkan-Nya. Ingatlah bahwa dalam jasad ada sekerat daging jika ia baik maka baiklah seluruh jasadnya dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh jasadnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati”.

[Bukhari no. 52, Muslim no. 1599]

4. Hadits Keempat (Takdir Manusia Telah Ditetepkan)

عن أبي عبدالرحمن عبدالله بن مسعود رضي الله عنه قال حدثنا رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو الصادق المصدوق ” إن أحدكم يجمع خلقه في بطن أمه أربعين يوما نطفة ثم علقه مثل ذلك ثم يكون مضغة مثل ذلك , ثم يرسل إليه الملك فينفخ فيه الروح , ويؤمر بأربع كلمات : بكتب رزقه , وأجله , وعمله , وشقي أم سعيد . فوالله الذي لا إله غيره إن أحدكم ليعمل بعمل أهل الجنة حتى ما يكون بينه وبينها إلا ذراع فيسبق عليه الكتاب فيعمل بعمل أهل النار , وإن أحدكم ليعمل بعمل أهل النار حتى ما يكون بينه وبينها إلا ذراع فيسبق عليه الكتاب فيعمل بعمل أهل الجنة

Dari Abu ‘Abdirrahman Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anh, dia berkata : bahwa Rasulullah telah bersabda, “Sesungguhnya tiap-tiap kalian dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya selama 40 hari berupa nutfah, kemudian menjadi ‘Alaqoh (segumpal darah) selama itu juga lalu menjadi Mudhghoh (segumpal daging) selama itu juga, kemudian diutuslah Malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya lalu diperintahkan untuk menuliskan 4 kata : Rizki, Ajal, Amal dan Celaka/bahagianya. maka demi Alloh yang tiada Tuhan selainnya, ada seseorang diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli surga sehingga tidak ada jarak antara dirinya dan surga kecuali sehasta saja. kemudian ia didahului oleh ketetapan Alloh lalu ia melakukan perbuatan ahli neraka dan ia masuk neraka. Ada diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli neraka sehingga tidak ada lagi jarak antara dirinya dan neraka kecuali sehasta saja. kemudian ia didahului oleh ketetapan Alloh lalu ia melakukan perbuatan ahli surga dan ia masuk surga.

[Bukhari no. 3208, Muslim no. 2643]

5. Hadits Kelima (Agama aNasehat)

عن أبي تميم بن أوس الـداري رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال ” الدين النصيحة قلنا لمن ؟ قال : لله ولرسوله وللأئمة المسلمين و عامتهم

Dari Abu Ruqayyah Tamiim bin Aus Ad Daari radhiallahu ‘anh, “Sesungguhnya Rasulullah telah bersabda : Agama itu adalah Nasehat , Kami bertanya : Untuk Siapa?, Beliau bersabda : Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin umat Islam, dan bagi seluruh kaum muslim”

[Muslim no. 55]

6. Hadits Keenam (Melaksanakan Perintah Sesuai Kemampuan)

عن أبي هريرة عبدالرحمن بن صخر رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول ما نهيتكم عنه فاجتنبوه وما أمرتكم به فأتوا منه ما استطعتم , فإنما أهلك الذين من قبلكم كثرة مسائلم واختلافهم على أنبيائهم

Dari Abu Hurairah, ‘Abdurrahman bin Shakhr radhiallahu ‘anh, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah bersabda : “Apa saja yang aku larang kamu melaksanakannya, hendaklah kamu jauhi dan apa saja yang aku perintahkan kepadamu, maka lakukanlah menurut kemampuan kamu. Sesungguhnya kehancuran umat-umat sebelum kamu adalah karena banyak bertanya dan menyalahi nabi-nabi mereka (tidak mau taat dan patuh)”

[Bukhari no. 7288, Muslim no. 1337]

7. Hadits Ketujuh (Meninggalkan Yang Tidak Bermanfaat)

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :(( مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ)). حَدِيْثٌ حَسَنٌ رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَغَيْرُهَ هَكَذَا.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , dia berkata: “Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Di antara (tanda) kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya’.”

[Hadits hasan. Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan selainnya seperti itu]

Hadits ini shahih (dengan beberapa syawahidnya). Diriwayatkan oleh:

1. At-Tirmidzi, no. 2317.

2. Ibnu Majah, no. 3976.

3. Al-Baghawi dalam Syarhus-Sunnah, XIV/320, no. 4132.

4. Ibnu Hibban, no. 229 – at-Ta’liqatul Hisan.

5. Ibnu Abid-Dunya dalam kitab ash-Shamtu (no. 108) dari Sahabat Abu Hurairah Radhiyallah anhu.

Diriwayatkan juga oleh: Abu Nu’aim dalam Hilyatul-Auliya` (VIII/273-274, no. 12181), Ahmad (I/201), ath-Thabrani dalam Mu’jamul-Kabir (no. 2886) dari Hasan bin Ali bin Abi Thalib.

Syawahid hadits ini dari Abu Bakar, Husain bin Ali, dan Zaid bin Tsabit. Yang diriwayatkan oleh para imam ahli hadits. Hadits Abu Hurairah di atas dishahîhkan oleh Syaikh al-Albani dalam at-Ta’liqatul-Hisan ‘ala Shahih Ibni Hibban, no. 229).

8. Hadits Kedelapan (Mencintai Milik Orang Lain Seperti Mencintai Milik Diri Sendiri)

عن أبي حمزة أنس بن مالك رضي الله عنه –خادم رسول اله صلى الله عليه وسلم قال ” لا يؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه

Dari Abu Hamzah, Anas bin Malik radhiyallahu anhu, pelayan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tidak beriman seseorang di antara kamu sehingga ia mencintai milik saudaranya (sesama muslim) seperti ia mencintai miliknya sendiri”.

[Bukhari no. 13, Muslim no. 45]

9. Hadits Kesembilan (Anjuran Zuhud)

عن ابي العباس سهل بن سعد الساعدي – رضي الله عن – قال : جاء رجل إلى النبي صلى الله علية و سلم فقال : يا رسول الله الله ، دلني على عمل إذا عملته احبني الله و احبني الناس فقال : – ازهد في الدنيا يحبك الله ، وازهد فيما عند الناس يحبك الناس- حديث حسن رواه ابن ماجه و غيره باسانيد حسنه

Dari Abul ‘Abbas, Sahl bin Sa’ad As-Sa’idi radhiallahu ‘anhu, ia berkata: “Seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam lalu berkata: ‘Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku suatu perbuatan yang jika aku mengerjakannya, maka aku dicintai Allah dan dicintai manusia’. Maka sabda beliau : ‘Zuhudlah engkau pada dunia, pasti Allah mencintaimu dan zuhudlah engkau pada apa yang dicintai manusia, pasti manusia mencintaimu”. (HR. Ibnu Majah dan yang lainnya, Hadits hasan)

[Ibnu Majah no. 4102]

10. Hadits Kesepuluh (Tidak Boleh Ada Mudlarat Dan Tidak Boleh Menimbulkan Mudlarat)

عَنْ أَبِـيْ سَعِيْدٍ سَعْدِ بْنِ مَالِكِ بْنِ سِنَانٍ الْـخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّـى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

Dari Abu Sa’id Sa’d bin Malik bin Sinan al-Khudri Radhyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak boleh ada bahaya dan tidak boleh membahayakan orang lain.”

Hadits ini diriwayatkan oleh:

1. Malik dalam al-Muwaththa’ (II/571, no. 31).

2. Ad-Daraquthni (III/470, no. 4461).

3. Al-Baihaqi (VI/69).

4. Al-HAkim (II/57-58). Dalam riwayat al-HAkim dan al-Baihaqi ada tambahan,

َمَنْ ضَارَّ ضَرَّهُ اللهُ وَمَنْ شَاقَّ شَقَّ اللهُ عَلَيْه

Barangsiapa membahayakan orang lain, maka Allah akan membalas bahaya kepadanya dan barangsiapa menyusahkan atau menyulitkan orang lain, maka Allah akan menyulitkannya.”

Hadits Abu Sa’id di atas memiliki beberapa penguat dari sejumlah Sahabat lain, diantaranya ‘Ubadah bin ash-Shâmit (Ibnu Majah, no. 2340), ‘Abdullah bin ‘Abbas (Ibnu Majah, no. 2341), Abu Hurairah, Jabir bin ‘Abdillah, Tsa’labah bin Abi Mâlik al-Qurazhi, Abu Lubabah, dan ‘Aisyah Radhyallahu anhum. Hadits ini dinilai hasan oleh an-Nawawi rahimahullah dalam al-Arba’in, Ibnu Rajab rahimahullah dalam Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, dan Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Silsilatul Ahaditsish Shahihah (no. 250), Irwa-ul Ghalil (no. 896), dan Shahih Kitabil Adzkar wa Dha’ifuhu (II/985, no. 981/1247).

Artikel elmuntaqa.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s