Fiqih · Kumpulan Fatwa Ulama

Mencium Mushhaf Al-Qur’an

mushhaf

Asy-Syaikh ‘Abdul-‘Aziiz bin Baaz rahimahullah pernah ditanya :

هل يجوز تقبيل القران؟

“Bolehkah mencium Al-Qur’an?”.

Beliau rahimahullah menjawab :

لا حرج في ذلك لكن تركه أفضل لعدم الدليل، وان قبله فلا بأس. وقد روي عن عكرمة بن أبي جهل رضي الله عنه أنه كان يقبله ويقول. هذا كلام ربي “، لكن هذا لا يحفظ عن غيره من الصحابة ولا عن النبي صلى الله عليه وسلم، وفي روايته نظر، لكن لو قبله من باب التعظيم والمحبة لا بأس، ولكن ترك ذلك أولى

“Tidak berdosa dalam hal tersebut, akan tetapi meninggalkannya lebih utama karena ketiadaan dalil (yang melandasinya). Seandainya ia menciumnya, tidak mengapa. Telah diriwayatkan dari ‘Ikrimah bin Abi Jahl radliyallaahu ‘anhu bahwasannya ia pernah mencium mushhaf Al-Qur’an dan berkata : ‘Ini adalah firman Rabbku’. Akan tetapi perbuatan ini tidak diriwayatkan selain dirinya dari kalangan shahabat dan tidak pula dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Dan dalam riwayatnya itu perlu diteliti kembali. Dan seandainya seseorang menciumnya dalam rangka pengagungan dan kecintaan, tidaklah mengapa. Namun sekali lagi, meninggalkannya lebih utama.” [sumber : http://www.binbaz.org.sa/mat/11300].

Riwayat ‘Ikrimah radliyallaahu ‘anhu yang dimaksudkan oleh Asy-Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah adalah sebagai berikut :

عَنْ حَمَّادِ بْنِ زَيْدٍ، عَنْ أَيُّوبَ، عَنِ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ، قَالَ: كَانَ عِكْرِمَةُ بْنُ أَبِي جَهْلٍ يَأْخُذُ الْمُصْحَفَ فَيَضَعُهُ عَلَى وَجْهِهِ، وَيَبْكِي، وَيَقُولُ: كِتَابُ رَبِّي، وَكَلامُ رَبِّي

Dari Hammaad bin Zaid, dari Ayyuub, dari Ibnu Abi Mulaikah, ia berkata : “Dulu ‘Ikrimah bin Abi jahl pernah mengambil mushhaf lalu meletakkannya di wajahnya dan menangis seraya berkata : ‘Kitab Rabbku dan firman Rabbku.” [Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Al-Mubaarak dalam Al-Jihaad hal. 89 no. 56].

Diriwayatkan juga oleh Ad-Daarimiy no. 3393, Ibnu Sa’d dalam Ath-Thabaqaat 8/520, ‘Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah no. 110, Al-Haakim dalam Al-Mustadrak 3/243, dan Al-Baihaqiy dalam Syu’abul-Iimaan 1101; dari beberapa jalan, semuanya dari Hammaad bin Zaid, selanjutnya seperti riwayat di atas.

Sanadnya hanya shahih hingga Ibnu Abi Mulaikah, akan tetapi munqathi’ (terputus) karena ia tidak bertemu dengan ‘Ikrimah radliyallaahu ‘anhu.

Tentang hukum mencium mushhaf, para ulama berselisih pendapat. Ada yang mensunnahkannya, sebagaimana diriwayatkan hal tersebut dari As-Subkiy. Ulama lain berpendapat tentang kebolehannya – pendapat ini masyhur di kalangan Hanaabilah. Ulama madzhab Maalikiyyah memakruhkannya – sebagaimana dikatakan Al-Khurasyiy dalam Syarh Mukhtashar Khaliil. Adapun Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Taimiyyah abstain dikarenakan ketiadaan pengetahuan tentang hal tersebut dari kalangan salaf [sumber : islamweb].

Adapun saya lebih condong pada pendapat Asy-Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah di atas. Wallaahu a’lam.

[abul-jauzaa’ – perumahan ciomas permai, ciapus, ciomas, bogor – 12021435/14122013 – 22:20].

Artikel abul-jauzaa.blogspot.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s