Kisah · Wanita dan Keluarga

Sosok Mertua Ideal

sosok mertua ideal

Jika anda seorang ayah yang memiliki anak gadis cantik jelita, cerdas, & berakhlaq mulia, dengan siapakah anda akan menikahkan puteri anda?

Tentu anda akan menjawab: Saya akan menikahkan puteri saya dengan seorang pemuda tampan, berpendidikan tinggi, mempunyai sederet titel, kaya raya, berpenghasilan di atas rata-rata, agar bisa menjamin kehidupan puteri saya serta keturunan mereka.

Adakah seorang ayah yang lebih mementingkan “masa depan” puterinya di akhirat kelak, lalu menikahkan putrinya dengan seorang pemuda yang sepintas hanya “biasa-biasa saja”, namun dialah orang yang diridhai agama & akhlaqnya?

Siapakah sang Ayah tersebut?

Dialah Sa’id bin Al-Musayyib Al-Makhzuumii Al-Qurasyii, yang biasa dipanggil dengan panggilan Abu Muhammad (lahir 13 H = 634 M – wafat 94 H = 713 M).

Dialah penghulu para Taabi’iin (orang-orang yang berjumpa dengan para shahabat rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam), pemimpin tujuh Fuqahaa (Ahli Fiqih) di Madinah pada zamannya.

Bagaimana sosok Sa’id bin Al-Musayyib sebagai mertua ideal?
Berikut kisahnya sebagaimana dituturkan oleh sang menantu: Katsiir bin Al-Muthallib bin Abi Wadaa’ah …

***

Dari Ibnu Abi Wada’ah –yaitu Katsiir-, dia berkata:
Dahulu aku menuntut ilmu di majlis Sa’id bin Al-Musayyib.
Suatu saat dia tidak melihatku selama beberapa hari, maka ketika aku datang kepadanya, dia bertanya kepadaku: “Kemana engkau selama ini?”

Aku menjawab: “Istriku meninggal dunia, maka aku sibuk mengurusinya.”
Dia berkata: “Mengapa kau tidak mengabarkan kepada kami sehingga kami dapat menghadiri jenazahnya?”

Lalu dia bertanya: “Apakah engkau sudah menikah lagi?”
Aku menjawab: “Semoga Allah menyayangimu, siapakah yang mau menikahkan puterinya denganku, sedangkan aku tidak memiliki harta kecuali dua atau tiga dirham?”
Dia berkata: “Aku (akan menikahkan puteriku denganmu).”
Aku bertanya: “Engkau akan melakukannya?”
Dia menjawab: “Iya.”

Kemudian dia memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu menikahkanku dengan mahar (maskawin) dua atau tiga dirham, maka akupun berdiri dan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan karena terlalu gembira.

Aku pun berjalan menuju rumahku sambil berfikir kepada siapa aku harus berhutang, lalu aku shalat maghrib (di masjid) kemudian aku pulang ke rumahku.

Pada waktu itu aku hanya sendiri dan aku dalam keadaan berpuasa, lalu aku berbuka puasa dengan makan roti kering dan minyak.

Terdengar suara pintu rumahku diketuk, aku bertanya: “Siapakah anda?”
Dia berkata: “Sa’id.”

Maka aku mengingat-ingat semua orang yang bernama Sa’id kecuali Sa’id bin Al-Musayyib (mertuaku), karena dia tidak pernah terlihat selama empat puluh tahun kecuali antara rumahnya dan masjid.

Maka aku keluar, dan ternyata dia adalah Sa’id bin Al-Musayyib (mertuaku), aku mengira bahwa sekarang telah tampak (keadaanku) baginya.

Aku berkata: “Wahai Abu Muhammad (nama panggilan mertuaku), mengapa engkau tidak mengutus seseorang agar aku mendatangimu?”
Dia berkata: “Tidak, engkau lebih berhak untuk didatangi, sebelumnya engkau sendirian lalu engkau menikah, maka aku tidak suka engkau tidur sendirian malam ini, inilah istrimu!”
Ternyata istriku berdiri di balik tinggi badan ayahnya.

Maka mertuaku memegang tangan puterinya (yang sekarang sudah menjadi istriku), lalu mendorongnya ke pintu (agar dia masuk ke rumahku), kemudian mertuaku menutup pintu (dan meninggalkan kami berdua), maka istriku terjatuh karena sangat malu, akupun mengunci pintu. Lalu aku menaruh piringku di balik bayangan lampu minyak agar dia tidak melihatnya.

Aku naik ke atap luar rumahku dan aku memanggil tetangga-tetanggaku, mereka datang kepadaku dan bertanya: “Ada apa denganmu?” maka kuceritakan (tentang pernikahanku), lalu mereka mendatangi istriku.

Kabar pernikahanku sampai kepada ibuku, lalu ibuku datang dan berkata kepadaku: “Wajahku haram terhadap wajahmu (maksudnya aku bukan ibumu) jika kau menyentuh istrimu sebelum aku mendandaninya selama tiga hari. Maka ibuku mendandaninya selama tiga hari, kemudian akupun bergaul dengannya sebagaimana layaknya suami istri.

Ternyata istriku adalah perempuan yang paling cantik di antara semua perempuan, paling hafal Al-Qur’an, paling mengerti tentang sunnah rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan paling tahu tentang hak-hak suami.

Selama sebulan penuh aku berdiam tidak mendatangi Sa’id bin Al-Musayyib (mertuaku).

Kemudian aku mendatangi mertuaku di majlisnya, aku mengucapkan salam dan dia menjawab salamku, namun dia tidak berbicara kepadaku sampai majlis sepi.
Ketika di majlis itu tidak tersisa seorangpun selainku, dia bertanya: “Apa kabar orang itu?” (maksudnya adalah putrinya yang tak lain adalah istriku).

Aku menjawab: “Baik wahai Abu Muhammad, dia berada dalam keadaan yang disenangi oleh teman & dibenci oleh musuh.”
Dia berpesan: “Jika dia membuatmu pusing/mengacaukan pikiranmu, maka (pukullah dia) dengan tongkat.”
Maka aku pulang ke rumahku, lalu dia (mertuaku) membekaliku dengan dua puluh ribu dirham.

***

Tahukah anda …
Bahwa sebelum Sa’id bin Al-Musayyib menikahkan putrinya dengan Katsiir ibnu Abi Wada’ah, Khalifah Abdul Malik bin Marwan telah datang kepada Sa’id untuk melamar putrinya tersebut bagi Al-Walid puteranya, seorang putera Mahkota pewaris kerajaan?

Apa yang dilakukan Sa’id?
Sa’id menolak lamaran Khalifah, lalu dengan berbagai cara, Khalifah berupaya agar keinginannya terlaksana, tapi Sa’id tetap pada pendiriannya, sang Khalifahpun marah dan mencambuk Sa’id dengan seratus cambukan pada musim dingin yang dinginnya menusuk tulang, lalu Sa’id disiram dengan setempayan air dingin, dan hanya dipakaikan selembar pakaian wol.

(Dari kitab “Siyar A’laam An-Nubalaa”, Al-Imam Adz-Dzahabii, vol.4 hal.233-234, cet.Daar Ar-Risaalah).

***

Wahai para ayah …
Ingatlah bahwa ketampanan akan sirna, segala atribut dunia akan hilang, dan harta tak akan abadi …

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para ayah:

“إذا جاءكم من ترضون دينه وخلقه فأنكحوه، إلا تفعلوا تكن فتنة في الأرض وفساد عريض.” (رواه الترمذي وقال: حسن)

“Jika datang kepada kalian seseorang yang kalian ridhai agama & akhlaqnya, maka nikahkanlah dia, jika kalian tidak melakukannya, niscaya akan terjadi fitnah (ujian) di muka bumi dan kerusakan yang meluas.” (HR. At-Tirmidzi, dia berkata: hadits hasan).

Semoga Allah mengaruniakan mertua-mertua yang shalih –seperti Sa’id bin Al-Musayyib- kepada para pemuda muslimin, aamiin …

***

Makkah Al-Mukarramah, 01/02/1435 H
(Ummu Faynan)

Artikel pakarfikir.blogspot.com

One thought on “Sosok Mertua Ideal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s