Manhaj

Tentang Filsafat (3) – Perlukah Belajar Filsafat?

Filsafat (3)

APAKAH PERLU BELAJAR ILMU FILSAFAT?

(Soal-Jawab: Majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XII)

Pertanyaan :

Apakah diharamkan mempelajari ilmu filsafat secara mutlak atau masih ada perinciannya dalam masalah ini ?

Kami mendengar dari salah seorang dosen bahwa ilmu filsafat terbagi menjadi empat :

  • Riyadhiyyat (Ilmu Hitung),
  • Thabi’iyyat (Ilmu Pengetahuan Alam),
  • Uluhiyyat (Ilmu Ketuhanan) dan
  • Manthiq (Ilmu Logika).

Sudah banyak orang memperoleh manfaat melalui keberadaan ilmu riyadhiyyât dan ilmu thabi’iyyat. Sebagaimana para ulama Ushul juga telah merasakan manfaat dari ilmu manthiq.

Mohon dijelaskan …

Jawaban :

Ketika kami membicarakan tentang ilmu filsafat [ilmu jadal (metode perdebatan) dan ilmu manthiq secara mutlak], bukanlah ilmu riyadhiyyat (ilmu hitung) atau ilmu thabi’iyyat (pengetahuan alam) yang kami maksudkan. Akan tetapi, ilmu-ilmu ‘aqliyyat murni yang dikaitkan dengan syariat baik dalam masalah uluhiyyat maupun masalah lainnya yang telah dijelaskan oleh syariat.

Oleh karena itu, mengenai pembagian di atas, kami ingin mengatakan: Apakah hasil (buah) di balik pembagian tersebut? (Tidak ada, pent).

Saat ini saya jadi ingat ungkapan penulis as-Sullam Fi ‘Ilmil Manthiq. Dalam syair-nya, ia mengatakan tentang ilmu filsafat :

Ibnu Shalah dan Nawawi mengharamkannya..
Sebagian orang berkata seharusnya dipelajari..

Pendapat yang shahih lagi kuat adalah..
Bolehnya perkara itu bagi orang yang ahli..

Yang telah mendalami Sunnah dan al Qur’ân..
Supaya dapat petunjuk menuju kebenaran..

Melalui bait-bait syair di atas, seolah-olah orang yang mendalami al-Qur’an dan Sunnah belum mendapatkan hidayah menuju kebenaran. Belum dapat memperoleh hidayah kecuali dengan dukungan ilmu filsafat.

Tidak demikian adanya! Orang yang mendalami Sunnah tidak membutuhkan ilmu filsafat untuk menguasainya. Orang yang sudah mendalami Sunnah membutuhkan ilmu Ushul Fiqh, rumusan generasi Salaf dan ilmu musthalah hadits yang memuat ilmu riwayat, ilmu dirayah dan ilmu ri’ayah.

Tentang ilmu Manthiq ini, memang Ibnu Taimiyyah rahimahullah mendalami dan menulis di dalamnya. Namun, hal ini beliau lakukan supaya bisa menyanggah kaum Manthiqiyyin melalui ilmu mereka. Beliau menyebutkan ini dalam muqadimah kitab Dar‘u târudhil Aql bin Naql.

Ringkasnya, mempelajari ilmu filsafat dan manthiq bagi orang yang sudah mendalami al Qur’ân dan Sunnah untuk mencari tahu tentang kekeliruan-kekeliruan ilmu tersebut dan untuk menyanggah orang-orang yang membelanya, menurut kami tidak mengapa. Akan tetapi, bila ada sangkaan bahwa mempelajari al-Kitab dan as-Sunnah tidak berhasil kecuali dengannya, ungkapan ini mengandung pertentangan dengan firman Allah Ta’ala:

(Qs al-Isrâ‘/17:9)

Sesungguhnya Al-Qur‘ân ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus. (Qs al-Isra‘/17:9)

Wallahu a’lam.

Syaikh ‘Ali bin Hasan al Halabi

Sumber : Majalah-assunnah.com

============================================================

MENYOAL ILMU KALAM DAN FILSAFAT

Assalamu’alaikum, apa yang dimaksud dengan ilmu kalam atau ilmu filsafat? Dan bagaimana hukum mempelajarinya? Jazakumullohu khairan.

[tiarxxxxxx@yahoo.com]

Jawab : Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh. Ilmu kalam adalah suatu ilmu yang membahas perkara tauhid dengan metodologi filsafat. Hukum mempelajari ilmu kalam ini haram karena berimplikasi kepada superioritas akal dan kesombongan intelektual. Dengan kata lain akal lebih dikedepankan daripada Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam memahami keberadaan Allah, perbuatan-Nya, nama-nama-Nya serta sifat-sifat-Nya yang Mahasempurna dan tidak serupa dengan-Nya sesuatupun.

Allah ta’ala berfirman:

يا أيها الذين آمنوا لا تقدموا بين يدي الله ورسوله واتقوا الله إن الله سميع عليم

“Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya, bertaqwalah kalian kepada Allah, karena sesungguhnya Dia Mahamendengar lagi Mahamengetahui.” [Al-Hujurat: 1]

Dalam konteks spesifikasi, ilmu kalam ataupun ilmu filsafat tidak mungkin diintegrasikan dengan ilmu agama, apalagi sampai dijadikan acuan dalam beragama. Berhubung metodologinya berbeda antara satu dengan yang lainnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam meletakkan satu prinsip dalam metodologi pemikiran ilmu-ilmu agama, sebagaimana sabda beliau:

و ما امرتكم به فأتوا منه مااستطعتم

“Apa yang aku perintahkan kepada kalian tentang suatu perkara, maka tunaikanlah dengan semampu kalian.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو رد

Beliau juga bersabda, “Barangsiapa yang beramal dengan satu amalan yang bukan dari ajaran kami, maka tertolak.” [Muttafaqun ‘alaihi – Al-Bukhari 2697 dan Muslim 3243]

Maka segala sesuatu yang tidak diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam dalam perkara agama ini hukumnya tertolak, sesat dan batil. Lebih tegas lagi sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam:

“Barangsiapa yang menafsrikan Al-Qur’an dengan akal pikirannya semata, meskipun hasilnya kebetulan mencocoki kebenaran, maka dia tetap dikatakan salah (berdosa).” [HR. At-Tirmidzi]

Dikatakan berdosa karena metodologi atau cara pemahamannya yang salah, meskipun secara kebetulan hasilnya mencocoki kebenaran. Namun tidak berarti Islam datang untuk mengkarantinakan akal, akan tetapi meletakkan akal pada tempatnya sehingga dapat berfungsi secara proporsional.

Maka pantas jika para Ulama Salaf melarang kaum Muslimin mempelajari ilmu kalam karena dapat merusakkan akal dan agama seseorang. Di antaranya adalah Al-Imam As-Syaafi’i rahimahullah, beliau menyatakan:

“Sungguh seandainya salah seorang itu ditimpa dengan berbagai amalan yang dilarang oleh Allah selain dosa syirik, lebih baik baginya daripada ia mempelajari ilmu kalam.” [HR. Abu Nu’aim Al-Asfahaani dalam Hilyatul Awliyaa’ 9/111]

Beliau juga menyatakan, ‘Seandainya manusia itu mengerti bahaya yang ada pada Ilmu Kalam dan hawa nafsu, niscaya ia akan lari daripadanya seperti lari dari singa.”

Fikri Abul Hasan

Sumber : Madrasahjihad.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s