Kisah

Tentang Filsafat (8) – Kisah Pilu Taubatnya Para Ulama Dari Pengaruh Ilmu Filsafat

Taubatnya Ahli Filsafat

1. Imam abul- ma’ali ibn Al juwaini (478 H) yang bergelar imam haramain rahimahullah

Beliau berkata : “Wahai sahabat-sahabatku, janganlah kalian menyibukkan diri dengan ilmu kalam (filsafat). Seandainya aku mengetahui bahwa kalam membawaku kepada keadaanku sekarang ini, niscaya aku tak akan menyibukkan diri dengannya”

Dan pada saat akan wafat beliau berkata : “Aku telah menyelami lautan yang ganas, dan aku telah meninggalkan (tidak perduli) ulama islam dan ilmu-ilmu mereka, dan aku telah memasuki apa yang telah mereka melarangku daripadanya. Kini jika Allah tidak menyusulku dengan rahmat-NYA sungguh celaka ibnu juwaini. Inilah aku mati di atas aqidah ibuku, dan di atas aqidah wanita-wanita desa naisabur yang awam (aqidah yang masih bersih)“. [Lihat kitab syarh aqidah thahawiyah karya ibn abil izzi al hanafi]

2. Imam fakhru ‘d-din ar razi (606 H) yang dikenal dengan fakhrurrazi rahimahullah

Beliau mengalunkan bait-bait syair yang memilukan hati :

Akhir perjalanan akal adalah jalan buntu..
Akhir upaya (akal) manusia adalah sesat..
Roh-roh kita terasa asing (kesepian) dalam tubuh kita..
Hasil dunia kita adalah penyakit dan musibah..
Kita tidak akan mendapatkan guna dari penelitian kita selama ini..
Selain hanya mengumpulkan “katanya dan katanya”..
Berapa banyak kami saksikan para tokoh dan Negara..
Mereka cepat sekali binasa dan lenyap..
Berapa banyak orang-orang mendaki gunung-gunung yang tinggi..
Lalu mereka lenyap, dan gunung tetap gunung..
Saya sudah merenungi seluruh aliran ilmu kalam dan manhaj filsafat..
Ternyata tidak menyembuhkan orang yang sakit dan menyegarkan orang yang kehausan..

Hingga akhirnya beliau berkata “Barangsiapa pernah mencoba apa yang aku coba pasti mengetahui apa yang aku ketahui” … ”Andai saja aku tidak meyibukkan diri dengan ilmu kalam”. Lalu dia menangis.

[Lihat kitab dar’u ta’arudhil aql wan naql karya syaikhul islam ibnu taimiyah dan syarh thahawiyah karya ibn abil izz al hanafi dan kitab tauhid asma wa shifat karya Muhammad Ibrahim al hamd]

3. Imam asy syaukani (1250 H)

Beliau berkata : “Aku melahap kitab-kitab karangan para ahli filsafat/kalam yang bermacam-macam dengan harapan pulang dapat ilmu yang bermanfaat dan dapat keuntungan, ternyata aku tidak mendapatkan apa-apa dari semua itu selain kekecewaan dan kebingungan. Hal itulah yang menjadikan aku cinta (kembali) kepada madzhab salaf, setelah dulunya aku pernah ada di salaf, tetapi saat itu aku ingin tambah memahami dan menguasai (dengan belajar filsafat). Maka pada saat itu aku katakan : Hasil akhir dari penelitianku dari pandanganku setelah lama merenung, adalah berdiri di antara persimpangan jalan yang bimbang, tidaklah ilmu orang yang belum bertemu selain kebimbangan, padahal sebelumnya aku telah melaui di tengah-tengahnya. Dan tidaklah aku puas sebelum menyelami”. [Lihat kitab at-tuhaf fii madzahib ‘s-salaf karya imam ay syaukani]

4. Syamsuddin al-khasrusyahi (625 H)

Sebagian ulama menjenguknya saat dia sakit, lalu bertanya : “Apa yang anda yakini?” Dia menjawab : “Apa yang diyakini oleh kaum muslimin”, maka para tamu tersebut bertanya karena penasaran : “Dada anda merasa lapang dengan hal itu dan sangat yakin?” Dia menjawab: ”Ya”, kemudian ia berkata lagi : “Saya bersyukur kepada Allah atas nikmat (taubat) ini. Akan tetapi demi Allah saya tidak tau apa yang saya yakini, demi Allah saya tidak tau apa yang saya yakini, demi Allah saya tidak tau apa yang saya yakini.” Kemudian ia menangis hingga basah jenggotnya.

[Lihat tahqiq kitab al-lqdu ‘l-manzhum fii khusuusi wa’l-umuum li syihabu dien al Qaerafi]

5. Imam ghazali (505 H)

Ia berkata di akhir hidupnya : “Ketahuilah bahwa kebenaran yang nyata yang tidak ada perdebatan di dalamnya menurut ahli ilmu yang dalam ilmunya adalah madzhab salaf, maksud saya madzhab para sahabat dan tabi’in”. [ihat kitab al-iman wal islam karya Khalid al baghadi hal. 79]

“Ketika beliau meninggal, kitab shahih bukhari tengah berada di atas dada beliau. Ini menunjukkan bahwa beliau cenderung kepada thariqah ahli hadits”. [Lihat kitab dar’u ta’arudhil aql wan naql karya syaikhul islam ibnu taimiyah 1/162]

Bersyukurlah yang telah mengenal jalan dan manhaj yang benar dalam beragama. Peganglah selalu hingga maut menjemput.

[Disaring dari buku abul hasan al-asy’ari imam yang terzhalimi karya Ustadz Agus Hasan Bashori Lc. M.Ag. hafizhohullah]

Sumber : Catatan Akhi Iib Nizamul Adli (Di sini)
Artikel elmuntaqa.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s