Aqidah

Adakah Nabi dari Wanita?

nabi-dari-kalangan-wanita

Nabi dan Rasul Dari Kalangan Wanita

Oleh: Ustadz Ammi Nur Baits

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum warohmatullah..
Apakah benar bahwa Nabi dan Rasul itu ada yang diturunkan dalam wujud wanita?
Saya mendengar salah satu Doktor (kalau tak salah) bernama Dr. Muhammad Umar Faruq yang mengatakan bahwa Imam Ibnu Hazm pernah berpendapat bahwa Nabi/Rasul itu ada yang dari kalangan kaum wanita, apakah ini benar?
Syukron..

Dari: Abu Muhammad

Jawaban:

Wa alaikumus salam wa rahmatullah

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Sebagian ulama berpendapat, ada beberapa wanita yang Allah tunjuk sebagai nabi. Diantaranya, Abul Hasan al-Asy’ari, al-Qurthubi, dan Ibnu Hazm.

Al-Hafidz Ibnu Hajar menyebutkan pendapat mereka dalam Fathul Bari,

قال القرطبي الصحيح أن مريم نبية لأن الله تعالى أوحى إليها بواسطة الملك وأما آسية فلم يرد ما يدل على نبوتها

Al-Qurthubi mengatakan, “Yang benar, Maryam seorang nabi. Karena Allah mewahyukan kepadanya melalui malaikat. Sementara Asiah (istri Firaun), tidak terdapat dalil yang menunjukkan bahwa dia nabi.”

Kemudian, al-Hafidz menukil keterangan Abul Hasan al-Asy’ari,

وقد نقل عن الأشعري أن من النساء من نبىء وهن ست حواء وسارة وأم موسى وهاجر وآسية ومريم والضابط عنده أن من جاءه الملك عن الله بحكم من أمر أو نهي أو بإعلام مما سيأتي فهو نبي

Dinukil dari al-Asy’ari bahwa ada beberapa wanita yang diangkat jadi nabi. Mereka ada 6 orang: Hawa, Sarah, Ibunya Musa, Hajar, Asiyah, dan Maryam. Batasan menurut beliau, bahwa orang yang didatangi malaikat dari Allah, dengan membawa hukum: perintah, larangan, atau maklumat, maka dia nabi. (Fathul Bari, 6/447).

Kemudian, Ibnu Hazm dalam al-Fashl fi al-Milal wa an-Nihal (2/60), mengupas panjang lebar perselisihan adanya nabi dari perempuan, dan beliau menguatkan ulama yang berpendapat bahwa mungkin ada nabi dari kalangan perempuan.

Diantara ayat yang menjadi landasan mereka adalah

وَأَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّ مُوسَى أَنْ أَرْضِعِيهِ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ وَلَا تَخَافِي وَلَا تَحْزَنِي إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ

Kami wahyukan kepada ibu Musa; “Susuilah Dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya Maka jatuhkanlah Dia ke sungai (Nil). dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena Sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan men- jadikannya (salah seorang) dari Para rasul. (QS. Al-Qashsas: 7)

Allah mengutus malaikat Jibril untuk menemui Maryam,

فَأَرْسَلْنَا إِلَيْهَا رُوحَنَا فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَرًا سَوِيًّا . قَالَتْ إِنِّي أَعُوذُ بِالرَّحْمَنِ مِنْكَ إِنْ كُنْتَ تَقِيًّا. قَالَ إِنَّمَا أَنَا رَسُولُ رَبِّكِ لِأَهَبَ لَكِ غُلَامًا زَكِيًّا

Lalu Kami mengutus roh Kami (Jibril) kepadanya, maka dia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna. Maryam berkata: “Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan yang Maha pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa”. Jibril berkata: “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci”. (QS. Maryam: 17 – 19).

Kemudian, dalil dari hadis adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

كمل من الرجال كثير، ولم يكمل من النساء إلا مريم ابنة عمران، وآسية امرأة فرعون

”Lelaki yang sempurna itu banyak. Namun tidak ada wanita yang sempurna, selain Maryam bintu Imran, dan Asiyah istri Firaun.” (HR. Bukhari 3411 dan Muslim 2431).

SANGGAHAN

Ada beberapa catatan yang menunjukkan lemahnya pendapat di atas,

Pertama, Allah menegaskan

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ مِنْ أَهْلِ الْقُرَى

”Tidaklah Kami mengutus sebelum kamu, kecuali dari kalangan lelaki yang Kami wahyukan kepada mereka, di kalangan penduduk negeri…” (QS. Yusuf: 109).

Seperti yang kita tahu, tujuan Allah mengutus nabi dan rasul adalah sebagai juru dakwah, mengajak manusia ke jalan yang benar. Tugas ini menuntut mereka – para nabi dan rasul – untuk banyak bergaul dengan masyarakat. Jika tidak mungkin ada rasul di kalangan wanita, karena gerak pergaulan mereka terbatas, maka juga tidak mungkin ada nabi di kalangan wanita, karena tugas nabi kurang lebih sama dengan rasul.

Kedua, sebatas mendapat wahyu dari Allah, tidaklah mengangkat derajat seseorang menjadi nabi. Karena Allah memberikan wahyu kepada makhluknya siapa saja yang Allah kehendaki, sekalipun kepada binatang.

وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ

Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia” (QS. An-Nahl: 68)

Lebih dari itu, wahyu yang disampaikan kepada para wanita itu, bisa saja terjadi ketika tidur. Sementara wahyu manam (yang diberikan ketika tidur), bisa saja terjadi pada selain nabi.

Ketiga, kaidah Abul Hasan al-Asy’ari bahwa setiap yang didatangi Malaikat dia menjadi nabi, ini kaidah yang tidak bisa diterima. Karena terdapat banyak orang yang didatangi malaikat, dan mereka bukan nabi.

Seperti kisah seorang muslim yang mengunjungi saudaranya sesama muslim di kampung lain. Kemudian datang malaikat dan bertanya kepadanya, apa sebab dia menjenguk saudaranya. Orang ini mengatakan, dia mencintai saudaranya karena Allah. Lalu sang Malaikat menyampaikan kepadanya bahwa Allah mencintainya.

Kemudian kisah 3 orang bani israil, si buta, si botak, dan si albino, yang ketiganya didatangi malaikat, kemudian disembuhkan dari cacatnya dan masing-masing diberi harta: kambing, sapi, dan onta. Setelah hartanya mereka berkembang, sang Malaikat datang kembali menjadi seorang pengemis. Dan yang lulus ujian di kalangan mereka adalah si buta.

Keempat, al-Qodhi Iyadh menegaskan bahwa hampir semua ulama mengatakan bahwa Maryam bukan nabi. Imam an-Nawawi dalam al-Adzkar menukil keterangan dari Imam Haramain bahwa Maryam bukan nabi berdasarkan sepakat ulama. Kemudian terdapat keterangan dari Hasan al-Bashri yang menegaskan,

ليس في النساء نبيّة ولا في الجنّ

”Tidak ada nabi di kalangan wanita, tidak pula dari golongan jin.” (Fathul Bari, 6/471)

Dr. Umar al-Asyqar memaparkan sanggahan panjang lebar dalam bukunya, ar-Rusul war Risalat, hlm. 86 – 89.

Allahu a’lam

Sumber : KonsultasiSyariah.com

Artikel – elmuntaqa.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s