Tazkiyatun Nufus

Menanam Pohon Ilmu

sabar..

Tujuan Ilmu

Abu Qilabah pernah berkata kepada Ayyub As Sakhtiyani : “Apabila kamu mendapat ilmu, maka timbulkanlah ibadah padanya. Jangan sampai keinginanmu hanya untuk menyampaikan kepada manusia.” [Al Adab Asy-Syar’iyyah 2/45]

Sebuah pelajaran berharga.. Tujuan ilmu bukan hanya untuk disampaikan saja.. Namun yang terpenting adalah untuk diamalkan.. Di jejaring-jejaring sosial.. Di BBM dan media lainnya.. Kita berlomba menyampaikan ilmu.. Baik dengan copas ataupun cara lainnya..

Namun kita sering lupa.. Untuk meraih tujuan ilmu.. Sehingga rasa ujub sering menghinggapi hati.. Merasa senang bila yang berkomentar banyak.. Merasa sedih ketika tidak ada yang komen.. Padahal bukan itu tujuan ilmu.. Tapi tujuan ilmu adalah untuk menambah rasa takut kepada Allah.. Dan menambah keikhlasan..

[Ustadz Badru Salam]

Ibarat Pohon Tak Berbuah

Syaikh Abdurrahman bin Qasim An Najdi rahimahullah mengatakan, “Amal adalah buah dari ilmu. Ilmu itu dicari demi mencapai sesuatu yang lain. Fungsi ilmu ibarat sebatang pohon, sedangkan amalan seperti buahnya. Maka setelah mengetahui ajaran agama Islam seseorang harus menyertainya dengan amalan. Sebab orang yang berilmu akan tetapi tidak beramal dengannya lebih jelek keadaannya daripada orang bodoh.

Di dalam hadits disebutkan, “Orang yang paling keras siksanya adalah seorang berilmu dan tidak diberi manfaat oleh Allah dengan sebab ilmunya.” Orang semacam inilah yang termasuk satu di antara tiga orang yang dijadikan sebagai bahan bakar pertama-tama untuk menyalakan api neraka.

Di dalam sebuah sya’ir dikatakan, “Orang alim yang tidak mau.. Mengamalkan ilmunya.. Mereka akan disiksa sebelum.. Disiksanya para penyembah berhala..”

[Lihat Hasyiyah Tsalatsatul Ushul, hal. 12]

Mengamalkan Apa Yang Kita Sampaikan

Syaikh Nu’man bin Abdul Karim Al Watr mengatakan, “Di dalam al-Qur’an Allah ta’ala sering sekali menyebutkan amal shalih beriringan dengan iman. Allah juga mencela orang-orang yang mengatakan apa-apa yang mereka tidak kerjakan. Dan Allah mengabarkan bahwa perbuatan seperti itu sangat dimurkai-Nya.

Allah berfirman (yang artinya), “Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan. Sungguh besar kemurkaan di sisi Allah karena kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan.” [QS. Ash Shaff (61): 2-3]

[Lihat Taisirul Wushul, hal. 10]

Dari Usamah bin Zaid dari Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) beliau bersabda :

يُؤْتَى بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَيُلْقَى فِي النَّارِ، فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُ بَطْنِهِ، فَيَدُورُ بِهَا كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ بِالرَّحَى، فَيَجْتَمِعُ إِلَيْهِ أَهْلُ النَّارِ، فَيَقُولُونَ: يَا فُلَانُ مَا لَكَ؟ أَلَمْ تَكُنْ تَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ، وَتَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ؟ فَيَقُولُ: بَلَى، قَدْ كُنْتُ آمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَلَا آتِيهِ، وَأَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ وَآتِيهِ»

“Didatangkan seorang lelaki pada hari kiamat, lalu dilemparkan ke dalam neraka, maka keluarlah usus (atau sesuatu dari isi) perutnya, dia berputar padanya sebagaimana berputarnya keledai pada tali pengikatnya, maka penduduk neraka berkumpul kepadanya, mereka berkata: Wahai Fulan ada apa denganmu? Bukankah dahulu kamu memerintahkan kepada kebaikan, dan melarang dari kemungkaran? Dia pun berkata: “Tentu, dahulu aku memerintahkan kepada kebaikan namun aku tidak melakukan (kebaikan itu), dan aku melarang dari kemungkaran namun aku melakukannya”. [Diriwayatkan oleh Muslim]

Sungguh memalukan dan menghinakan, mereka beramai-ramai mengajak manusia kepada kebaikan namun mereka selalu menyelisihi ajakan mereka sendiri, sungguh sangat mengena perkataan Rosululloh (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) :

«ليلة أسري بي رأيت قوما تقرض ألسنتهم بمقاريض من نار – أو قال: من حديد – قلت: من هؤلاء يا جبريل؟ قال: خطباء من أمتك».

“Ketika aku di-isra (dinaikan ke langit) aku melihat suatu kaum di parut lidah-lidah mereka dengan parutan dari api –atau dia berkata-: “Parutan dari besi” Maka aku bertanya: “Siapa mereka wahai Jibril?” Jibril menjawab: Para khotib dari umatmu”. [Diriwayatkan oleh Ahmad dari Anas bin Malik]

Jangan Lupakan Kabar Gembira

Pada hakikatnya amal adalah buah ilmu. Barang siapa yang beramal tanpa ilmu maka dia telah menyerupai orang Nasrani. Dan barang siapa yang berilmu tapi tidak beramal maka dia telah menyerupai orang Yahudi.” [Lihat Syarhu Tsalatsatul Ushul, hal. 22]

Ancaman akan beriringan di sisi lain yaitu dengan kabar gembira. Maka takutlah orang-orang yang diberi ancaman dan bergembiralah orang-orang yang berharap..

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ اْلأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ اْلإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

“Barangsiapa yang menyeru kepada petunjuk (kebajikan), maka dia mendapatkan pahala sebagaimana pahala-pahala orang yang mengikutinya, hal itu tidak mengurangi pahala-pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa menyeru kepada kesesatan, maka dia mendapatkan dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya, hal itu tidak mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun.”

Esha Ardhie
Artikel elmuntaqa.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s