Aqidah · Bantahan · Manhaj

Mereka Membenci Kitab “Al-Ibanah” Karya Abul Hasan al-Asy’ari (Bag.1)

Al-Ibanah

Oleh : Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi

Kitab al-Ibanah ’an Ushul Diyanah adalah sebuah kitab monumental dan sangat  berharga buah karya Imam Abul Hasan al-Asy’ari. Dalam kitab tersebut, beliau menegaskan pokok-pokok aqidah yang sesuai dengan aqidah salaf shalih[1] kepada paham-paham yang menyimpang darinya termasuk paham Mu’tazilah dan juga kepada paham Kullabiyyah yang banyak dianut oleh orang-orang yang menisbahkan diri kepada beliau pada zaman sekarang.

Oleh karenanya, kemunculan buku terpenting Imam Abul Hasan ini menjadi ajang pro dan kontra. Buku ini tidak menyenangkan sebagian kalangan yang merasa tertampar dengan isinya karena banyak bertentangan dengan paham Asya’irah belakangan, terutama dalam masalah sifat-sifat Allah bersifat khabariyyah dan ketinggian Allah.[2]

Oleh karena itu, mereka meragukan dan menebarkan kedustaan terhadap kitab ini, seperti ucapan mereka bahwa buku ini bukanlah karya Abul Hasan al-Asy’ari(!), buku ini sudah banyak mengalami manipulasi(!) , buku ini dikarang karena takut oleh tekanan Hanabilah(!), buku ini dikarang di awal periode kehidupan beliau(!), dan sebagainya.

  • URGENSI PEMBAHASAN

Pembahasan tentang kajian kitab al-Ibanah sangat penting karena beberapa hal:

1. Tersohornya madzhab al-Asy’ari dahulu dan sekarang, sehingga dijadikan sebagai ideologi di sebagian universitas dan pesantren yang beredar di berbagai negara.

2. Kitab al-Ibanah merupakan bukti autentik dan berharga dalam sejarah pemikiran dan ideologi.

3. Kitab al-Ibanah merupakan karya monumental Imam Abul Hasan al-Asy’ari di periode akhirnya yang sesuai dengan manhaj salaf shalih.

4. Membahas masalah aqidah lewat ucapan Imam Abul Hasan al-Asya’ri secara langsung akan lebih diterima oleh orang-orang yang menisbahkan diri kepadanya.

5. Buku ini meluruskan klaim sebagian orang belakangan yang menisbahkan diri kepada beliau tetapi tidak mengikuti aqidah beliau yang sesuai dengan manhaj salaf.

  • FAKTOR PENDORONG TULISAN INI

Perlu diketahui bahwa kedustaan (kebohongan) adalah senjata ampuh ahli bid’ah dalam berargumen dan berdialog ilmiah ketika mereka tidak mampu menghadapi hujjah dengan hujjah. Demikianlah kebiasaan ahli bid’ah kapan pun dan di mana pun. Salah satu kedustaan yang mereka koleksi adalah tuduhan keji dan bohong kepada para ulama bahwa mereka telah memalsukan kitab al-Ibanah fi Ushul Diyanah karya Imam Abul Hasan al-Asy’ari karena dalam kitab tersebut, beliau telah membungkam paham mereka dan menelanjangi aurat mereka.

Mereka pun gencar dalam mempublikasikan kebohongan tersebut di buku-buku mereka yang beredar akhir-akhir ini sehingga kami khawatir tuduhan ini hinggap di hati seorang di antara kita lalu terbius olehnya. Agar kami tidak dianggap mengada-ada, marilah kita simak terlebih dahulu teks tuduhan-tuduhan dan syubhat mereka sebagai berikut:

Pertama: Muhammad Idrus Ramli

Dia mengatakan:

“Sekarang apabila kitab al-Ibanah yang asli sesuai metodologi Ibn Kullab, lalu bagaimana dengan kitab al-Ibanah yang beredar dewasa ini yang menjadi dasar kaum Wahhabi bahwa al-Asy’ari telah merujuk madzhabnya? Berdasarkan kajian yang mendalam, para pakar berkesimpulan bahwa kitab al-Ibanah yang dinisbatkan terhadap al-Asy’ari tersebut dan beredar dewasa ini penuh dengan tahrif, distorsi, pengurangan dan penambahan. Terutama kitab al-Ibanah yang diterbitkan di Saudi Arabia dan Lebanon. Memang kitab al-Ibanah juga dicetak di Mesir dengan tahqiq oleh Fauqiyah Husain berdasarkan penelitian dari empat manuskrip. Hanya saja meskipun edisi Fauqiyah Husain ini merupakan edisi terbitan terbaik bagi kitab al-Ibanah, edisi tersebut belum sepenuhnya bersih dari distorsi, pengurangan dan penambahan. Hal ini dapat dilihat dengan membandingkan edisi tersebut dengan naskah al-Ibanah yang dikutip oleh al- Hafizh Ibn Asakir dalam Tabyin Kidzb al-Muftari [3].[4]

Kedua: Syaikh Muhammad Idahram

Dia mengatakan:

“Salafi Wahabi telah mengacak-acak isi kitab al-Ibanah fi Ushul ad-Diyanah karya al-Imam Abu Hasan al-Asy’ari dengan menghapus kalimat-kalimat yang tidak sejalan dengan akidah mereka.” (hlm. 74). Pada hlm. 79 mengatakan lagi: “Sementara sisanya, yaitu kitab al-Ibanah fi Ushul Diyanah dan Risalah Ahli ats-Tsaghr dinyatakan oleh para peneliti ada upaya yang sungguh-sungguh untuk  dipalsukan dari manuskrip aslinya. Mereka yang dikenali sebagai kelompok Salafi dianggap sebagai golongan yang bertanggung jawab atas tindakan pemalsuan kedua kitab tersebut.”[5]

Dari sinilah, hati kami terdorong untuk menggoreskan pena dan mengkaji masalah ini dengan harapan agar kita semua mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.[6]

Pembahasan ini akan kita gali dalam beberapa sub bahasan:

1. Judul Kitab

2. Keabsahan al-Ibanah Sebagai Karya al-Asy’ari

3. Kedudukannya

4. Sejarah Penulisannya

5. Benarkah Wahhabi Memanipulasi al-Ibanah? Membongkar Kedustaan Syaikh

Idahram

6. Mengapa Mereka Membenci al-Ibanah?!

==========================================================

A. JUDUL KITAB

Kitab ini memiliki tiga judul:

  1. At-Tauhid. Sebagaimana dalam manuskrip di Iskandariyyah dan Universitas Amerikiyyah di Beirut dan Universitas Duwal Arobiyyah di Mesir
  2. Al-Ibanah fi Ushul Diyanah
  3. Al-Ibanah ’an Ushul Diyanah

Judul pertama sepertinya melihat kepada isinya yang membahas tauhid, sedangkan judul kedua dan ketiga mirip, hampir tidak ada perbedaan kecuali pada huruf (antara “fi” dan “’an”). Namun, yang dikuatkan oleh ulama adalah judul ketiga karena itu asli dari penulisnya dan tertulis jelas dalam manuskrip serta nukilan-nukilan ulama dengan judul tersebut.

B. KEABSAHAN BUKU AL-IBANAH SEBAGAI BUAH KARYA AL-ASY’ARI

Tidak ada sebuah kitab yang paling banyak disebutkan oleh ulama tentang keabsahannya seperti nisbah kitabal-Ibanah ini. Puluhan ulama dan peneliti telah menegaskan tentang keabsahan kitab ini baik melalui manuskrip aslinya atau persaksian para ulama dan nukilan-nukilan mereka dari kitab ini. Berikut ini beberapa contoh ulama yang menetapkan keabsahan nisbah kitab al-Ibanah kepada Imam Abul Hasan al-Asy’ari:[7]

1. Al-Hafizh Ibnu Asakir, seorang ulama yang paling tahu tentang Imam Abul Hasan, bahkan beliau menulis kitab khusus tentang keutamaan dan pembelaan kepada Imam al-Asy’ari. Beliau banyak menyebutkan dan menukil kitab al-Ibanah ini dalam kitabnya Tabyin Kadzibil Muftari. Di antaranya beliau mengatakan, “Karya-karya Abul Hasan al-Asy’ari sangatlah masyhur di kalangan ahli ilmu, dan disifati dengan kebenaran. Barangsiapa yang membaca bukunya yang berjudul al-Ibanah, niscaya dia mengetahui ilmu dan agamanya.” Katanya juga, “Hendaknya diketahui tentang hakikat keadaannya dan kebenaran aqidah beliau, maka simaklah apa yang beliau sebutkan di awal kitabnya yang dia beri judulal-Ibanah. Kemudian beliau menukil teks panjang dari kitab al-Ibanah.[8]

2. Nashruddin as-Sijzi. Disebutkan oleh Syaikhul Islam bahwasanya Nashruddin al-Maqdisi memiliki beberapa karya dalam aqidah, dia menukil beberapa pasal pembahasan dari kitab al-Ibanah dan beliau memiliki satu manuskrip di perpustakaan wakafnya.[9]

3. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Beliau sering menukil kitab al-Ibanah dalam beberapa kitabnya dan mengatakan bahwa al-Ibanah termasuk karya al-Asy’ari yang paling masyhur dan paling terakhir.[10]

4. Ibnul Qayyim al-Jauziyyah. Beliau juga sering menukil dan menyebut kitab al-Ibanah dalam banyak kitabnya.[11]

5. Imam al-Baihaqi. Beliau mengatakan setelah menukil ucapan Imam Syafi’idalam masalah aqidah, “Dan semakna dengan ucapan Imam Syafi’i adalah apa yang disebutkan oleh Ali bin Isma’il (Abul Hasan al-Asy’ari, Pent.) dalam kitabnya al-Ibanah.”[12]

6. Imam ash-Shabuni. Disebutkan bahwa beliau dalam majelis pengajiannyaselalu membawa kitab al-Ibanah.[13]

7. Ahmad bin Tsabit ath-Tharqi. Beliau mengatakan, “Sesungguhnya kaum Jahmiyyah menisbahkan ta’thil (pengingkaran sifat Allah) kepada Abul Hasan, tetapi saya membaca dalam kitabnya al-Ibanah ’an Ushul Diyanah ternyata beliau menetapkan sifat-sifat Allah.”[14]

8. Ibnu Farhun al-Maliki. Beliau mengatakan, “Abul Hasan memiliki beberapa kitab, di antaranya adalah kitab al-Luma’ al-Kabir, kitab al-Luma’ ash-Shaghir, dan  kitab al-Ibanah fi Ushul Diyanah.”[15]

9. Imam Nawawi. Disebutkan oleh adz-Dzahabi bahwa beliau menyalin kitab al-Ibanah dengan tulisan tangannya.[16]

10. Al-Qadhi Abu Bakr al-Baqilani. Beliau malah mensyarah (menjelaskannya).[17]

11. Ibnu Dirbas. Beliau menetapkan al-Ibanah sebagai karya al-Asy’ari.[18]

12. Adz-Dzahabi. Beliau mengatakan, “Kitab al-Ibanah termasuk karya Abul Hasan yang paling masyhur.”[19]  Dan beliau menukil beberapa ucapan Abul Hasan Dalam al-Ibanah.[20]

13. Al-Hafizh Ibnu Katsir. Beliau menyebutkan beberapa periode yang dilalui oleh al-Asy’ari dan menyebutkan bahwa periode akhirnya adalah dengan menulis kitab al-Ibanah.[21]

14. Al-Hafizh al-Miqrizi. Tatkala beliau menyebutkan karya-karya al-Asy’ari,beliau menyebutkan di antaranya adalah al-Ibanah.[22]

15. Ibnul Amad al-Hanbali. Beliau mengatakan dalam biografi al-Asy’ari,“Sesungguhnya al-Asy’ari mengatakan dalam kitabnya al-Ibanah fi Ushul Diyanah yang merupakan karya terakhirnya.”[23]

16. Az-Zabidi. Beliau menyebutkan dalam biografi al-Asya’ri tentang karya-karyanya, salah satunya adalah al-Ibanah.[24]

17. Khalid an-Naqsyabandi. Disebutkan al-Alusi bahwa dia mengatakan, “Sesungguhnya al-Asy’ari menulis al-Ibanah dan itu adalah karyanya yang paling terakhir. Dan itulah madzhab al-Asya’ari yang menjadi pijakan.”[25]

18. Syaikh al-Allamah Hammad al-Anshari. Beliau mengatakan setelah membawakan ucapan-ucapan ulama seputar al-Ibanah, “Saya katakan: Inilah nukilan-nukilan para ulama pakar yang menjelaskan secara tegas tanpa ada perselisihan di dalamnya bahwa kitab al-Ibanah bukanlah kitab yang dimanipulasikan kepada Abul Hasan al-Asy’ari sebagaimana klaim sebagian kalangan yang bodoh, bahkan buku tersebut adalah termasuk karya terakhir beliau dan keyakinan final beliau yang sesuai dengan aqidah salaf sebagaimana dalam al-Qur‘an dan Sunnah Nabawiyyah.”[26]

Saudaraku, ini hanya beberapa ungkapan para ulama yang bersifat sebagian, masih banyak lagi yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu di sini[27] karena khawatir terlalu mempertebal jumlah halaman[28] Orang yang cerdas akan merasa cukup dengan bukti-bukti di atas. Adapun orang yang keras kepala, maka seribu buktikan tidak akan cukup baginya.

C. KEDUDUKAN KITAB AL-IBANAH

Buku ini sangat memiliki keistimewaan yang berharga, di antaranya:

  1. Penulisnya adalah seorang imam yang banyak diikuti oleh banyak orang di berbagai negara. Maka tokoh sepertinya sangat sangat diterima karya tulisnya di mata para pengikutnya.
  2. Penulisnya menulis buku ini setelah pengalaman yang panjang dan matang dansetelah menulis beberapa kitab. Maka kitab seperti ini pasti merupakan kesimpulan dari pengalaman dan buah manis dari perjalanan hidupnya, dan pastinya akan membenahi kesalahan-kesalahan yang terjadi pada dirinya sebelumnya.
  3. Isi kitab ini adalah berkaitan dengan masalah yang sangat urgen bagi setiap muslim dalam kehidupannya. Bagaimana tidak, buku ini berkaitan dengan masalah aqidah dan pokok-pokok agama sesuai dengan metodologi Ahli Sunnah wal Jama’ah seperti masalah ru‘yah (melihat Allah di akhirat kelak), ketinggian Allah di atas ’arsy-Nya, dan sebagainya.
  4. Kitab ini merupakan periode akhir dari penulis yang mengalami perpindahan dari ideologi Mu’tazilahdan Kullabiyyah menuju manhaj salaf shalih. Oleh karenanya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Barangsiapa dari kalangan Asy’ariyyah yang berpendapat sesuai dengan kitab al-Ibanah yang dikarang oleh al-Asy’ari di akhir umurnya dan tidak menampakkan pertentangan dalam hal itu, maka dia termasuk Ahlus Sunnah.”[29]
  5. Banyak para ulama yang memuji kitab ini, sebagaimana telah lalu sebagiannya, namun tidak mengapa kita sebutkan sebagiannya di sini:
  6. Imam Ibnu Asakir. Setelah menukil ucapan al-Asy’ari, beliau berkomentar: “Perhatikanlah—semoga Allah merahmati kalian—aqidah ini, alangkah jelasnya dan akuilah keutamaan imam mulia ini yang menjelaskannya. Dan lihatlah alangkah mudahnya dan indahnya lafal-lafalnya.”[30]
  7. Imam ash-Shabuni. Disebutkan bahwa beliau dalam majelis pengajiannya selalu membawa kitab al-Ibanah dan membanggakannya seraya mengatakan, “Apa yang diingkari dari seorang yang menjadikan kitab ini sebagai madzhabnya?”[31]
  8. Ibnu Thabbakh. Beliau berpegang pada kitab al-Ibanah seraya mengatakan, “Ini adalah madzhabku. Alangkah cerdasnya orang yang mengarang buku ini.

Kesimpulannya, buku ini sangatlah istimewa dan memiliki kedudukan yang sangat berharga.

D. SEJARAH PENULISANNYA

Pada bahasan ini perlu kami ketengahkan beberapa point penting[33]

1.  Abul Hasan al-Asy’ari melalui tiga fase kehidupan.

Perlu diketahui terlebih dahulu bahwa Imam Abul Hasan al-‘Asy’ari memiliki tiga fase dalam kehidupannya dan bahwasanya fase akhir beliau adalah mengikuti manhaj salaf shalih. Berikut ini kami akan menjelaskan beberapa argumentasi tentang fase akhir (salaf shalih) yang dilalui oleh al-Asy’ari:

Pertama: Fase akhir tersebut disebutkan oleh para pakar sejarah; di antaranya adalah  Imam Ibnu Katsir, salah seorang pakar sejarah yang tidak diragukan lagi, menyebutkan bahwa Imam al-Asy’ari melalui tiga fase dalam hidupnya:

(1) Mengikuti ideologi Mu’tazilah dan beliau sudah bertaubat darinya tanpa ada keraguan di dalamnya.

(2) Fase ideologi Kullabiyyah yang menetapkan tujuh sifat (hidup, ilmu, kemampuan, kehendak, mendengar, melihat, dan kalam) serta memalingkan makna sifat Allah seperti wajah, kaki, tangan, dan sebagainya.

(3) Fase Salaf Shalih yang menetapkan semua itu tanpa membagaimanakan dan menyerupakannya makhluk, seperti metode salaf. Ini metode yang beliau tempuh dalam kitab akhirnya yaitu al-Ibanah.

Demikian juga Imam adz-Dzahabi, salah satu pakar sejarah yang tak diragukan, beliau mengatakan, “Al-Asy’ari dilahirkan pada tahun 260 H dan wafat pada tahun 324 H di Bashrah. Awalnya, beliau berpaham Mu’tazilah, kemudian mengikuti ahli hadits dalam beberapa perkara yang beda dengan Mu’tazilah, kemudian mengikuti ahli hadits dalam banyak permasalahan. Dan inilah yang kami sebutkan darinya bahwa beliau menukil kesepakatan ahli hadits tentangnya dan bahwa beliau menyetujui mereka. Jadi, beliau memiliki tiga fase: faseMu’tazilah, fase sunni sebagian, dan fase sunni dalam banyak masalah aqidah. Dan inilah yang kami ketahui dari keadaannya.”[35]

Al-Alusi mengatakan, “Di antara mereka adalah Imam Abul Hasan al-Asy’ari, karena fase akhir beliau adalah mengikuti madzhab yang mulia yaitu kembali kepada salaf dalam semua masalah aqidah … Dari sinilah kita mengetahui bahwa beliau beraqidah salaf dan bahwa klaim Asya’irah sekarang berbeda dengan fase akhir imam mereka yang mengikuti jejak salaf shalih. Aduhai, seandainya mereka kembali sebagaimana beliau kembali.”[36]

Di antara sebab perpindahan beliau kepada madzhab Ahlus Sunnah dan meninggalkan madzhab Kullabiyyah adalah perjumpaan beliau dengan ahli hadits Bashrah yaitu al-Hafizh Zakaria as-Saji[37] dan ulama-ulama lainnya. Imam Adz-Dzahabi berkata dalam biografinya, “Dia termasuk para imam ahli hadits. Abul Hasan al-Asy’ari belajar darinya aqidah salaf dalam sifat-sifat Allah dan dijadikan pedoman olehnya dalam beberapa kitabnya.”[38]

Adapun pengingkaran Muh. Idrus Ramli akan adanya fase akhir ini dengan alasan bahwa mayoritas penulis sejarah tidak menyebutkan fase ini [39] maka kita ingatkan dengan sebuah kaidah:

“Orang yang menetapkan lebih didahulukan daripada yang meniadakan.”

“Orang yang tahu merupakan hujjah bagi yang tidak tahu.”

Kedua: Apa yang disebutkan oleh al-Asy’ari dalam kitabnya al-Ibanah, Maqalat Islamiyyin, dan Risalah ila Ahli Tsaghar dalam masalah aqidah sesuai dengan aqidah salaf dan berbeda dengan aqidah kaum Asya’irah, karena beliau menetapkan sifat-sifat Allah secara lahir dan hakikatnya tanpa mengubah maknanya, bahkan beliau menilai orang yang mengubahnya termasuk ahli bid’ah dan Jahmiyyah. Semua ini menunjukkan bahwa aqidah beliau berbeda dengan aqidahnya ketika masih dalam fase Kullabiyyah. Hal ini semakin kuat dengan adanya isu yang mencuat bahwa al-Asy’ari menulis al-Ibanah adalah karena takut dari ancaman Hanabilah di Baghdad[40] ini tidak benar, namun memberikan sinyal bahwa al-Asy’ari dalam kitabnya al-Ibanah sesuai dengan manhaj salaf dan berbeda dengan Kullabiyyah dan al-Asya’irah.

Ketiga: Imam Abul Hasan al-Asy’ari telah menjelaskan bahwa Kullabiyyah berbeda dengan ahli hadits. Nah, seandainya beliau termasuk kelompok Kullabiyyah maka tidak mungkin beliau membedakan antara Kullabiyyah dengan ahli hadits. Beliau mengatakan, “Kaum muslimin terpecah menjadi sepuluh kelompok: Syi’ah, Khawarij, Murjiah, Mu’tazilah, Jahmiyyah, Dhirariyyah, Husaniyyah, Bakriyyah, al-Aamah, Ashabul Hadits, dan Kullabiyyah pengikut Abdullah bin Kullab al-Qathan.”[41] beliau menjadikan kelompok Kullabiyah berbeda dengan ahli hadits.

Perhatikan pula ucapan al-Asy’ari setelah mengutarakan aqidah ahli hadits, “Inilah secara global apa yang mereka perintahkan dan yakini. Dan dengan semua apa yang kami sampaikan dari pendapat mereka, saya juga berpendapat dan ikut. Tidak ada taufiq bagi kita kecuali dengan pertolongan Allah semata. Hanya kepada-Nya kami meminta pertolongan dan bertawakal serta kembali. Adapun pengikut Abdullah bin Sa’id al-Qathan, maka mereka berpendapat dengan kebanyakan[42] apa yang kami sampaikan dari Ahlu Sunnah.”[43]

Hal ini memperkuat bahwa Kullabiyyah bukan termasuk Ahli Sunnah sekalipun lebih mendekati kepada mereka dibandingkan kelompok-kelompok lainnya.

Keempat: Hal ini diperkuat bahwa orang-orang Asya’irah belakangan tidak menukil dalam kitab-kitab mereka apa yang disebutkan oleh al-Asy’ari dalam kitab-kitabnya seperti Maqalat Islamiyyin, Risalah ila Ahli Tsaghar, dan al-Ibanah, bahkan mereka berusaha untuk mengingkarinya[44] semua itu tidak lain adalah karena isi buku-buku inibertentangan dengan keyakinan mereka sekarang.

Kelima: Imam Abul Hasan al-Asya’ri menegaskan di awal kitabnya al-Ibanah bahwa beliau mengikuti metode Imam Ahmad bin Hanbal dan menyifati beliau dengan imam Ahlus Sunnah[45] bukan malah menisbahkan kepada Ibnu Kullab. Dan telah dimaklumi bersama bahwa Imam Ahmad sangat berbeda jalur dengan Ibnu Kullab, bahkan memperingatkan keras dari tokoh-tokoh mereka seperti Harits al-Muhasibi dan kawan- kawannya. Jadi, seandainya al-Asy’ari mengikuti Ibnu Kullab maka dia tidak akan menisbahkan diri kepada Imam Ahmad.

Dengan argumentasi di atas dapat kita pastikan bahwa Imam Abul Hasan al-Asy’ari telah kembali kepada pangkuan salaf shalih, Ahli Sunnah wal Jama’ah dan ahli hadits, dan telah meninggalkan pahamnya pada fase pertama yaitu Mu’tazilah dan fase kedua yaitu paham Kullabiyyah yang menetapkan sebagian sifat Allah dan mengingkari sifat lainnya.[46]

2.  Argumentasi bahwa al-Ibanah adalah buku terakhir al-Asy’ari.

Jika Anda bertanya: Apa bukti dan argumentasinya jika al-Ibanah adalah kitab terakhir al-Asy’ari? Jawabannya sebagai berikut:

  • Ibnu Furak tidak menyebutkan al-Ibanah dalam daftar karya tulis al-Asy’ari sebelum tahun 320 H. Dan beliau mengatakan, “Sesungguhnya al-Asy’ari hidup setelah itu sampai tahun 324 dan menulis beberapa kitab pada tahun-tahun tersebut.”[47] Ini menunjukkan bahwa al-Asy’ari menulis al-Ibanah setelah tahun 320 H.
  • Dikisahkan oleh Ibnu Asakir tentang kisah taubatnya al-Asy’ari bahwasanya ketika dia naik minbar dan mengumumkan taubatnya, dia menyerahkan beberapa kitab kepada manusia, di antaranya adalah kitab al-Luma’ dan kitab yang membongkar aurat Mu’tazilah yang berjudul Kasyful Asrar wa Hatkul Astar dan selainnya.[48] kisah ini, al-Asy’ari mengarang kitab al-Luma’ setelah keluar dari Mu’tazilah langsung. Ini menunjukkan bahwa al-Ibanah ditulis setelah itu, karena dapat dipastikan bahwa al-Ibanah tidak ditulis saat beliau masih berpaham Mu’tazilah, tidak ada yang mengatakan demikian seorang pun dan al-Ibanah juga tidak termasuk kitab yang diberikan kepada manusia saat keluar dari Mu’tazilah langsung, maka ini menunjukkan bahwa al-Ibanah ditulis belakangan.
  • Dikisahkan bahwa al-Asy’ari ketika datang ke Baghdad, beliau datang kepada Abu Muhammad al-Barbahari seraya mengatakan, “Saya telah membantah al-Jubai, saya membantah Majusi, dan Nasrani.” Lalu Abu Muhammad mengatakan, “Saya tidak mengerti apa yang kamu katakan, kami tidak mengetahui kecuali ucapan Imam Ahmad, ” Setelah itu dia keluar dan menulis al-Ibanah dan dia tidak menerimanya.[49] Kisah ini menunjukkan tentang terakhirnya kitab al-Ibanah.
  • Dalam kitab al-Ibanah, kita akan mendapati al-Asya’ri menetapkan sifat-sifat Allah khabariyyah seperti ketinggian Allah dan bagaimana konsekuennya beliau terhadap wahyu al-Qur’an dan hadits serta menolak perubahan makna. Dalam kitab ini juga, beliau tidak membahas masalah-masalah filsafat yang dia sebutkan dalam kitab al-Luma’. Ini menunjukkan tentang tahapan beliau untuk menghilangkan diri dari ilmum kalam.
  • Persaksian para ulama bahwa al-Ibanah adalah termasuk kitab terakhir al-Asy’ari. Kami sebutkan sebagian saja:

1. Ibnu Dirbas. Beliau mengatakan, “Ketahuilah wahai para saudaraku bahwakitab al-Ibanah ‘an Ushul Diyanah yang ditulis oleh Imam Abul Hasan al-Asy’ari itulah keyakinan final beliau dan yang menjadi agama beliau setelah kembali dari Mu’tazilah. Seluruh ucapan yang sekarang dinisbahkan kepadanya yang bertentangan dengan apa yang terdapat dalam kitab tersebut maka dia telah berlepas diri darinya.”[50]

2. Ibnu Taimiyyah. Beliau mengatakan, “Kitab ini adalah termasuk kitab terakhir beliau yang beliau karang di Baghdad di akhir hayatnya tatkala pengetahuan beliau terhadap sunnah semakin dalam.”[51]

3. Ibnul Imad. Beliau mengatakan, “Kitab al-Ibanah fi Ushul Diyanah adalah kitab terakhir karya beliau, sehingga dijadikan pedoman oleh para sahabatnya untuk membela beliau dari celaan orang yang mencela beliau.”[52]

4. Ibnu Katsir. Beliau mengatakan, “Inilah metode beliau dalam al-Ibanahyang dia karang terakhir kali.”[53]

5. Ahmad bin Hajar alu Buthami. Beliau mengatakan: “Jika ada yang bertanya: Apa bukti kalian untuk menguatkan bahwa al-Ibanah lebih akhir dari kitab al-Luma’ dan semisalnya. Maka jawabannya:

  • Inilah yang layak dan pantas untuk kedudukan al-Asy’ari.
  • Para ahli sejarah yang menyebutkan aqidah shahih ini dari beliau.
  • Seandainya akhir aqidah beliau adalah memalingkan makna sifat, niscaya akan disebutkan oleh Ibnu Asakir dan ahli sejarah lainnya.[54]

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa kitab ini ditulis oleh al-Asy’ari di Baghdad sekitar tahun 320 hingga 324 Hijriah, sehingga dianggap sebagai karya terakhir beliau. Wallahu A’lam.

(Bersambung ke edisi berikutnya Insya Allah)

Sumber : abiubaidah.com – Artikel emuntaqa.wordpress.com

Catatan :

[1] Pengantar Syaikh Shalih al-Fauzan terhdap kitab al-Ibanah hlm. 3, cet. Jami’ah Imam.

[2] Mauqifu Ibni Taimiyyah minal Asya’irah 1/348 oleh Dr. Abdurrahman al-Mahmud.

[3] Hamad al-Sinan dan Fauzi al-Anjari, Ahl al-Sunnah al-Asya’irah Syahadat ’Ulama al-Ummah wa Adillatuhum, Hawali, Dar al-Dhiya‘, hlm. 51–69.

[4] Madzhab Al-Asy’ari Benarkah Ahlussunnah wal Jama’ah? Jawaban Terhadap Aliran Salafi hlm. 52, Muhammad Idrus Ramli, Penerbit Khalista Surabaya, cet. pertama, April 2009.

[5] Mereka Memalsukan Kitab-Kitab Karya Ulama Klasik. Episode Kebohongan Publik Sekte Salafi Wahabi hlm. 74, 79 oleh Syaikh Idahram, Percetakan PT LKIS Printing Cemerlang, Yogyakarta, cet. Pertama.

[6] Kajian pembahasan ini banyak mengambil manfaat dari muqaddimah tahqiq Dr. Shalih bin Muqbil al-Ushaimi, Darul Fadhilah, KSA, cet. pertama, 1432 H. Dan tahqiq beliau ini terhadap kitab al-Ibanah adalah tahqiq yang paling bagus, karena beliau telah mengumpulkannya dari enam manuskrip.

[7] Nukilan-nukilan ini dikutip dari kajian Syaikh al-Allamah Hammad al-Anshari dalam Muqaddimah al-Ibanah—Majmu’ Rasa‘il fil Aqidah—hlm. 77–85) dan kajian Dr. Shalih al-Ushaimi dalam muqaddimah tahqiqnya terhadap al-Ibanah hlm. 29–38.awal kitabnya yang dia beri judul al-Ibanah. Kemudian beliau menukil teks panjang dari kitab al-Ibanah.

[8] Tabyin Kadzibil Muftari hlm. 152, 389.

[9] Lihat Bayan Talbis al-Jahmiyyah 1/141–142. Lihat pula Risalah adz-Dzabbi ’an Abil Hasan al-Asy’ari hlm. 115 oleh Ibnu Dirbas.

[10] Bayanu Talbis al-Jahmiyyah 1/136, Majmu’ al-Fatawa 6/359, 5/93, Dar‘u Ta’arudhil Aqli wa Naqli 2/16.

[11] Lihat Ijtima’ al-Juyusy al-Islamiyyah hlm. 167, Nuniyah Ibnul Qayyim hlm. 69–70, ash-Shawa’iq al-Mursalah 1/260.

[12] Al-I’tiqad wal Hidayah ila Sabil Rasyad hlm. 204–205.

[13] Lihat Tabyin Kadzibil Muftari hlm. 389.

[14] Dinukil oleh adz-Dzahabi dalam al-’Uluw 2/1249 dan al-’Arsy 2/296–297.

[15] Ad-Dibaj al-Mudzhab hlm. 193–194.

[16] Al-’Uluw 2/1248.

[17] Thabaqat al-Fuqaha‘ asy-Syafi’iyyin 1/199.

[18] Risalah fi adz-Dzabbi ’an Abil Hasan al-Asy’ari hlm. 131.

[19] Al-’Uluw 2/1248.

[20] Kitabul ’Arsy 2/294, 2/298.

[21] Lihat Thabaqat al-Fuqaha‘ asy-Syafi’iyyin 1/199.

[22] Al-Mawa’izh wal I’tibar 4/194.

[23] Syadzarat Dzahab 4/131.

[24] Ittihaf Saadatil Muttaqin 2/4.

[25] Jala’ul ’Ainanin hlm. 158.

[26] Muqaddimah al-Ibanah ’an Ushul Diyanah hlm. 83 (Rasa‘il fil Aqidah hlm. 83).

[27] Sebagai faedah juga, perlu saya sampaikan bahwa Ibnu Nadim (wafat tahun 381 H) yang hidup tidak jauh dari zaman al-Asy’ari, beliau menyebutkan dalam kitabnya al-Fihrisat hlm. 257 bahwa salah satu kitab karya beliau (al-Asy’ari) adalah at-Tabyin ’an Ushuliddin. Dan bukan perkara mustahil, bahwa maksud beliau (Ibnu Nadim) adalah kitab al-Ibanah ini karena judulnya sangat mirip sekali, sebagaimana dikatakan oleh Abdurrahman al-Badawi dalam Madzahib Islamiyyin hlm. 40 dan Abdullah Syakir al- Junaidi dalam muqaddimah tahqiq Risalah ila Ahli Tsaghar hlm. 59.

[28] Seperti Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Muhibbuddin al-Khathib, Syaikh Shalih al-Fauzan, Isma’il al-Anshari, Hafizh al-Hakami, Dr. Abdurrahman al-Mahmud, Dr. Faruq ad-Dasuqi. Dr. Fauqiyah Husain, Dr. Muhammad Ibrahim al-Fayyumi, Dr. Rajih al-Kurdi, Syaikh Ahmad bin Hajar alu Buthami, dan sebagainya. (Lihat Muqaddimah Tahqiq Dr. al-Ushaimi terhadap al-Ibanah hlm. 35–38.)

[29] Majmu’ Fatawa 6/359

[30] Tabyin Kadzibil Muftari hlm. 163

[31] Lihat Tabyin Kadzibil Muftari hlm. 389.

[32] Bayanu Talbis al-Jahmiyyah 1/142.

[33] Poin pembahasan ini banyak mengambil faedah dari kitab al-Asya’irah fi Mizani Ahli Sunnah hlm. 713–726 oleh Syaikh Faishal bin Qazar al-Jasim.

[34] Thabaqat al-Fuqaha‘ asy-Syafi’iyin 1/210 dan dinukil oleh az-Zabidi dalam Ittihaf as-Saadatil Muttaqin2/4 tanpa koreksi dan bantahan.

[35] Kitabul ’Arsy hlm. 302–303.

[36] Ghara‘ibul Ightirab wa Nuzhatul Albab hlm. 385–387.

[37] Beliau adalah seorang imam ahli hadits Bashrah, salah seorang imam terpercaya. Wafat pada tahun 307 H. (Lihat al-’Ibar 1/452 oleh adz-Dzahabi, al-Bidayah 11/130 oleh Ibnu Katsir, Tarikh Baghdad 8/458 oleh al-Baghdadi).

[38] Siyar A’lam Nubala‘ 14/198, al-’Uluw hlm. 205. Lihat pula Naqdhu Ta‘sis hlm 123 oleh Ibnu Taimiyyah.

[39] Lihat bukunya Madzhab Asy’ari Benarkah Ahlussunnah Wal Jama’ah? hlm. 42–43, 50.

[40] Seperti tuduhan musuh al-Asy’ari yaitu Abu Ali al-Ahwazi yang kemudian dibantah oleh Ibnu Asakir dalam kitabnya Tabyin Kadzibil Muftari dan juga al-Kautsari dalam Muqaddimah kitab al-Inshaf hlm. 11 oleh al-Baqilani. (Lihat bantahan tuduhan ini dalam Muqaddimah al-Ushaimi terhadap al-Ibanah hlm. 41–45

[41] Maqalat Islamiyyin 1/65.

[42] Perhatikanlah, beliau mengatakan “kebanyakan” tetapi tidak mengatakan “seluruhnya”.

[43] Idem. 1/345–350.

[44] Seperti yang dilakukan oleh Muh. Idrus Ramli, dia meragukan kitab-kitab ini tanpa bukti yang autentik. Dia mengatakan tentang karya Risalah Ahli Tsaghar, “Tetapi menurut sebagian pakar, risalah ini ini sebenarnya bukan tulisan al-Asy’ari, melainkan tulisan Ibnu Mujahid, murid al-Asy’ari.” Dan berkata tentang Maqalat Islmiyyin, “Namun, menurut para pakar edisi Ritter (orientalis asal Jerman) lebih baik daripada edisi Muhyiddin yang mengandung banyak kekeliruan dan footnote yang tidak relevan.” (Madzhab Al-Asy’ari hlm. 28–29) Saya tidak mengerti siapa yang dia maksud para pakar tersebut, apakah pakar ulama, atau pakar pembual?! Karena dia tidak membawakan bukti-bukti ilmiah tentang ucapannya tersebut. Apakah dia tidak tahu bahwa kitab Risalah Ila Ahli Tsaghar disebutkan oleh Ibnu Asakir dalam Tabyin Kadzibil Muftari hlm. 136 yang merupakan salah satu kitab dalam daftar referensi Muh. Idrus Ramli dalam bukunya tersebut?!! Bahkan, dia menganjurkan untuk membandingkan al-Ibanah dengan Tabyin, dia mengatakan tentang cetakan Dr. Fauqiyah Husain, “Edisi tersebut belum sepenuhnya bersih dari distorsi, pengurangan dan penambahan. Hal ini dapat dilihat dengan membandingkan edisi tersebut dengan naskah al-Ibanah yang dikutip oleh al-Hafizh Ibn Asakir dalam Tabyin Kidzb al-Muftari.” (Madzhab Al-Asy’ari hlm. 52. Dan lihat bukti-bukti tentang keshahihan nisbah kitab Risalah Ila Ahli Tsaghar kepada Imam Abul Hasan al-Asy’ari dalam kajian Syaikh Abdullah bin Syakir al-Junaidi dalam muqaddimah tahqiqnya Risalah Ila Ahli Tsaghar hlm. 103–108).

[45] Beliau mengatakan dalam al-Ibanah, “Ucapan dan agama yang kami yakini adalah berpegang teguh dengan kitab Rabb kita dan sunnah Nabi kita dan apa yang diriwayatkan dari para sahabat, tabi’in, danimam ahli hadits. Kita berpegang teguh dengan semua itu dan dengan apa yang dikatakan oleh Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal, semoga Allah mencerahkan wajahnya, mengangkatderajatnya, dan melipatgandakan pahalanya. Kita mengikuti pendapatnya dan menyelisihi orang yang menyelisihi ucapannya, karena dia adalah imam yang mulia dan tokoh yang sempurna, yang Allah menjelaskan dengannya al-Haq dan menepis dengannya kesesatan, menjelaskan dengannya jalan serta menghancurkan dengannya bid’ah dan keraguan. Semoga Allah merahmatinya sebagai imam yang mulia, agung, dan sangat paham.” (al-Ibanah ‘an Ushul Diyanah hlm. 201, tahqiq Dr. Shalih bin Muqbil al- Ushaimi).

[46] Sejak dahulu, manusia sudah membedakan antara Asya’irah dengan Ahlus Sunnah. Imam Abu Isma’il al-Harawi meriwayatkan dari Ahmad bin Nashr al-Maalini (412 H) beliau berkata, “Aku pernah masuk Jami’ Amr bin Ash di Mesir bersama beberapa sahabatku. Tatkala kami sudah duduk, tiba-tiba ada orang tua datang menghampiri kami, ‘Kalian Ahlu Khurasan Ahlus Sunnah, sedangkan ini adalah tempat kajian Asy’ariyyah, maka berdiri dan bubarlah.’” (Dzammul Kalam wa Ahlihi 4/418, cet. Ghuraba Atsariyyah).

[47] Lihat Tabyin hlm. 35 oleh Ibnu Asakir.

[48] Tabyin hlm. 39.

[49] Siyar A’lam Nubala’ 15/90, Thabaqat Hanabilah 2/18, al-Wafii 12/246.

[50] Risalah fi adz-Dzabbi ’an Abil Hasan al-Asy’ari hlm. 115.

[51] Bayanu Talbis al-Jahmiyyah 1/143.

[52] Syadzarat Dzahab 4/131.

[53] Thabaqat al-Fuqaha‘ asy-Syafi’iyyin 1/199. Lihat pula Ittihaf Saadatil Muttaqin 2/6 oleh az-Zabidi.

[54] Al-’Aqa‘id as-Salafiyyah hlm. 157–158 secara ringkas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s