Belajar Islam

Mana yang Lebih Baik? Antara Orang Taat yang Tidak Pernah Durhaka dan Orang Durhaka yang Melakukan Taubat Nashuha

haruskah marah

Dari sini pula dapat diketahui satu masalah yang cukup penting, apakah orang yang taat yang tidak pernah durhaka lebih baik daripada orang durhaka yang bertaubat kepada Allah dengan Taubatan Nashuhan? [1] Ataukah orang yang bertaubat itu lebih baik?

Ada perbedaan pendapat dalam masalah ini. Ada orang yang menegaskan bahwa orang yang tidak pernah durhaka lebih baik daripada orang durhaka yang melakukan taubatan nashuhan (taubat dengan sebenar-benarnya). Mereka mengemukakan beberapa hujjah:

1.  Hamba yang paling sempurna dan utama ialah yang paling taat kepada Allah. Orang yang tidak pernah durhaka berarti orang yang paling taat, sehingga dia menjadi orang yang paling utama.

2.  Pada saat orang durhaka sibuk dengan kedurhakaannya, maka orang yang taat menempuh beberapa tahapan menuju ke atas, sehingga derajatnya lebih tinggi. Tarulah bahwa orang yang durhaka itu bertaubat lalu menyusul perjalanannya. Tapi mana mungkin dia dapat menyusulnya, karena sebelumnya dia sudah berhenti?

3.  Maksud taubat adalah untuk menghapus kesalahan-kesalahannya, lalu setelah itu dia seperti tidak pernah melakukan kesalahan itu. Perbuatannya pada masa kedurhakaannya tidak mendatangkan keberuntungan dan tidak pula hukuman baginya. Lalu bagaimana jika keadaannya ini dibandingkan dengan orang yang berusaha mendapat keberuntungan?

4.  Allah membenci kedurhakan terhadap-Nya dan menyalahi perintah-Nya. Pada waktu dia melakukan dosa ini, maka dia mendapat kebencian dari Allah. Sementara orang yang taat mendapat keridhaan dan Allah senantiasa ridha kepadanya. Maka tidak dapat diragukan bahwa keadaan orang kedua ini lebih baik daripada keadaan orang yang diridhai Allah, lalu dimurkai, lalu diridhai. Ridha yang berkelanjutan lebih baik daripada ridha yang berselang seling.

5.  Dosa itu bisa diibaratkan minum racun, sedangkan taubat merupakan penawar dan obatnya. Sedangkan ketaatan bisa diibaratkan kesehatan. Terus menerus keadaan sehat tentu lebih baik daripada keadaan sehat yang diselingi dengan sakit karena sakit atau racun yang masuk, lalu sembuh dan sehat kembali.

6.  Orang yang durhaka dalam keadaan gawat dan terancam bahaya, yang keadaannya tidak lepas dari tiga hal: Mati karena minum racun, kekuatannya berkurang dan melemah kalau memang tidak mati, dan kekuatannya kembali seperti semula, atau lebih lemah atau lebih baik.

7.  Orang yang taat berada dalam sebuah kebun yang dikelilingi ketataannya, sehingga membentuk pagar yang kokoh bagi dirinya, dan musuh pun tidak mampu menyusup ke sana. Tumbuh-tumbuhan segar dan buahnya lebat.

8.  Musuh tamak kepada orang yang durhaka, karena kelemahan ilmu dan tekadnya, karena itu dia disebut orang jahil.

9.  Kedurhakaan pasti menimbulkan pengaruh yang kurang baik, entah berupa kehancuran total, penyesalan ataupun siksaan, dan kesudahannya bisa berupa ampunan dan masuk surga. Orang yang bertaubat harus membebaskan pengaruh ini dan menebus kesalahannya, sedangkan orang yang taat tinggal menambah dan meninggikan derajatnya. Maka shalat malam yang dilakukan Nabi shallallahu alaihi wa sallam bermanfaat untuk meninggikan derajat beliau, sedangkan shalat malam yang dilakukan selauin beliau untuk menebus kesalahannya. Dua keadaan ini saja tidak bisa disetarakan.

10.  Orang taat kepada Allah berjalan dengan seluruh amalnya. Selagi ketaatan dan amalnya bertambah, maka bertambah pula usaha ketaatannya. Dia bisa diibaratkan pedagang yang melancong dan berusaha untuk mendapatkan keuntungan sepuluh kali lipat dari modalnya. Lalu dia melancong lagi dengan membawa modal pertama dan ditambah keuntungannya, sehingga dia mendapatkan keuntungan sepuluh kali lipat lagi. Begitu seterusnya dalam perjalanan ketiga kalinya, dengan keuntungan yang berlipat-lipat. Apabila sekali saja dia tidak mengadakan perjalanan, maka dia tidak mendapatkan keuntungan seperti yang dia dapatkan dalam satu kali perjalanan, atau bahkan lebih. Inilah makan yang tersirat di dalam perkataan Al-Junaid rahimahullah, “Jika orang beribadah menghadap secara tulus kepada Allah selama seribu tahun, kemudian dia berpaling sesaat saja, maka pahala yang terlepas darinya lebih banyak daripada apa yang didapatkannya.”

Ada golongan lain yang mengatakan bahwa orang yang bertaubat dengan taubatan nashuhan lebih baik daripada orang yang belum pernah melakukan kedurhakaan, sekalipun mereka tidak mengingkari keadaan orang kedua yang lebih banyak kebaikannya. Mereka mengemukakan beberapa alasan:

1.  Taubah merupakan ubudiyah yang paling dicintai Allah dan paling mulia, Allah mencintai orang-orang yang bertaubat. Andaikan taubat bukan merupakan sesuatu paling Dia cintai, tentunya Dia tidak akan menguji hamba dengan dosa. Karena kecintaan-Nya kepada taubat hamba, maka Dia mengujinya dengan dosa, agar hamba itu melakukan sesuatu yang paling dicintai-Nya, yaitu taubat. Sebagai tambahan atas kecintaan-Nya kepada hamba, maka orang-orang yang bertaubat mendapatkan kecintaan secara khusus di sisi-Nya.

2.  Taubat mempunyai tempat tersendiri di sisi Allah, yang tidak dimiliki ketaatan-ketaatan lainnya. Karena itu Allah amat gembira melihat taubat hamba-Nya. Kegembiraan Allah itu dimisalkan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dengan kegembiraan seorang musafir yang mendapatkan kembali onta yang membawa seluruh bekalnya, di suatu tempat yang ganas dan kering, setelah onta itu lepas entah kemana, dan orang itu sudah putus asa untuk bisa bertahan hidup di tempat itu [2]. Kegembiraan ini tidak ditampakkan terhadap suatu ketaatan pun kecuali taubat. Tentu saja kegembiraan Allah ini mempunyai pengaruh yang amat kuat di dalam hati orang yang bertaubat. Sehingga orang yang bertaubat mendapatkan kecintaan Allah, yang berarti dia menjadi kekasih Allah.

3.  Di dalam taubat mengandung kehinaan, kehancuran hati, kehampaan, ketundukan, dan kebergantungan kepada Allah, suatu sikap yang lebih dicintai Allah daripada sekian banyak amal-amal zhahir, sekalipun takaran dan porsinya lebih banyak daripada ubudiyah taubat. Sebab menghinakan diri merupakan ruh ibadah dan intinya.

4.  Tingkatan menghinakan diri bagi orang yang bertaubat lebih sempurna daripada tingkatan-tingkatan ubudiyah lainnya, karena dia masih bisa melakukan apa yang dilakukan orang lain, sementara dia memiliki keistimewaan dengan menghinakan diri dan merasakan hatinya yang hampa. Allah lebih dekat denga hamba-Nya saat dia menghinakan diri.

5.  Terkadang dosa justru lebih bermanfaat bagi hamba selagi disertai dengan taubat daripada berbagai macam ketaatan. Inilah makna perkataan sebagian orang salaf, “Ada kalanya seorang hamba berbuat dosa lalu masuk surga, dan ada kalanya seorang hamba melakukan ketaatan lalu masuk neraka.” Orang-orang bertanya, “Bagaimana itu bisa terjadi?” Dia menjawab, “Dia berbuat dosa, dan dosa itu selalu tampak di depan matanya. Jika berdiri, duduk, dan berjalan dia selalu teringat dosanya itu lalu membuat hatinya terasa hancur, bertaubat, menyesal, dan memohon ampunan, sehingga dengan demikian ini menjadi sebab keselamatannya. Dia berbuat kebaikan dan kebaikannya selalu itu selalu tampak di depan matanya. Jika berdiri, duduk, dan berjalan dia selalu teringat kebaikannya itu, sehingga membuatnya takabur, ujub, dan merasa telah mendapat karunia, sehingga yang demikian itu menjadi sebab kebinasannya.”

Jika Allah menghendaki suatu kebaikan pada seorang hamba, maka Dia memberinya dosa yang membuat hantinya hancur, kepalanya merunduk, tidak ujub dan tidak takabur, sehingga dosa ini lebih bermanfaat daripada sekian banyak ketaatan. Taubatnya ini bisa diumpamakan obat yang diminum untuk mengeluarkan seluruh penyakin di dalam tubuh.

6.  Ada kabar gembira yang disampaikan Allah kepada orang-orang yang bertaubat, jika taubatnya itu disertai dengan iman dan amal shalih, sebagaimana firman-Nya,

إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman, dan mengerjakan amal shalih, maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Furqan: 70)

Ibnu Abbas berkata, “Aku tidak melihat Nabi shallallahu alaihi wa sallam menunjukkan kegembiraan karena sesuatu seperti kegembiraan beliau saat ayat ini turun, begitu pula saat surat Al-Fath turun.”

Orang-orang berbeda pendapat tentang sifat penggantian ini, apakah hal itu berlaku di dunia ataukah di akhirat? Menurut Ibnu Abbas dan rekan-rekannya, keburukan amal mereka diganti dengan kebaikan, syirik diganti dengan iman, zina diganti dengan menjaga kehormatannya, dusta diganti dengan kejujuran, khianat diganti dengan amanat. Berdasarkan makna ayat ini, sifat-sifat dan amal-amal mereka yang buruk diganti dengan sifat dan amal shalih, sebagaimana sakit yang diganti dengan kesehatan.

Sedangkan menurut Sa’id bin Al-Musayyab dan lain-lainnya dari kalangan tabi’in, maksudnya Allah mengganti keburukan yang mereka lakukan di duniadengan kebaikan di akhirat, Dia memberi tempat bagi setiap keburukan dengan kebaikan.

7.  Dengan penyesalan, orang yang bertaubat mengganti setiap keburukan dengan kebaikan. Penyesalan ini merupakan wujud taubat dari keburukan itu. Taubat dari segala dosa adalah kebaikan. Sehingga setiap dosa yang dilakukan akan hilang dengan adanya taubat, karena tempatnya diganti dengan kebaikan. Berdasarkan logika seperti ini, porsi kebaikan itu akan sama dengan keburukan , lebih sedikit, atau lebih banyak. Ini tergantung dari bobot taubat dan ketulusan hati orang yang bertaubat. Inilah rahasia masalah taubat dan sentuhannya yang halus.

8.  Dosa orang yang diakui pelakunya bisa menimbulkan kebaikan yang lebih besar, lebih banyak, lebih bermanfaat, dan lebih mendatangkan kecintaan Allah daripada dosa itu sendiri. Sampai-sampai setan berkata, “Andaikan saja aku tidak pernah menyeretnya untuk melakukan dosa itu.” Setan merasa menyesal karena mendorong dan menyeret orang itu untuk melakukan dosa, seperti penyesalan pelakunya karena telah melakukan dosa itu. Tetapi dua penyesalan ini jauh berbeda. Allah menyukai hamba-Nya karena telah memancing amarah musuh-Nya, sementara hamba itu juga mendapatkan sesuatu yang dicintai Allah, yaitu taubat, apalagi jika taubat itu disertai dengan tambahan amal shalih, sehingga satu keburukan berubah menjadi satu kebaikan dan bahkan banyak kebaikan.

Perhatikan Firman Allah, “Maka kejahatan-kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan-kebaikan”. Allah tidak mengatakan kebaikan satu bilangan keburukan dan kebaikan, tetapi banyak. Ini bisa berarti satu keburukan diganti dengan banyak kebaikan, tergantung dari kondisinya.

[Madarijus Salikin (edisi Indonesia), Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, Hal. 88-92, Pustaka Al-Kautsar]

Esha Ardhie
Artikel elmuntaqa.wordpress.com

Catatan :

[1] Pada halaman 95-96 dalam buku ini dijelaskan,

Orang yang berdosa diibaratkan orang yang melewati suatu jalan, padahal jalan itu akan membawanya kepada kehancuran dan tidak menghantarkannya ke tujuan. Maka dia diperintahkan untuk menghentikan langkah kakinya, meninggalkan jalan itu dan kembali ke jalan yang membawanya kepada keselamatan dan mengahntarkannya ke tujuan.

Dari sinilah bisa diketahui secara jelas masalah taubatan nashuhan dan hakekatnya, seperti Firman Allah,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ

Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Rabb kalian akan menghapus kesalahan-kesalahan kalian dan memasukkan kalian ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (QS. At-Tahrim: 8)

An-Nashuh dalam taubat dan ibadah artinya membersihkannya dari kebohongan, kekurangan, dan kerusakan serta mengerjakan nya sesempurna mungkin. An-Nashuh kebalikan dari tipuan. Orang-orang salaf saling berbeda dalam mendefinisikannya.

Umar bin Khaththab dan Ubay bin Ka’ab berkata, “At Taubatun nashuh artinya taubat dari suatu dosa dan pelakunya tidak mengulanginya lagi, sebagaimana air susu yang tidak bisa kembali ke kantong kelenjarnya.”

Al-Hasan Al-Bashri berkata, “Artinya, seorang hamba menyesali apa yang dilakukannya di masa lampau dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi.”

Al Kalbi berkata, “Artinya, seorang hamba harus memohon ampun dengan lidahnya, menyesal dengan hatinya, dan menahan diri dengan anggota tubuhnya.”

Sa’id bin Al-Musayyab berkata, “Artinya, kalian harus jujur terhadap diri sendiri.”

Muhammad bin Ka’ab Al-Qarzhy berkata, “ Artinya, seorang hamba harus menghimpun empat perkara: Istighfar dengan lidah, membebaskan diri dengan anggota badan, tekad untuk tidak mengulangi lagi dengan hati dan menjauhi teman-teman yang masih melakukannya.”

Menurut pendapat saya (Ibnul Qayyim), At Taubatun nashuh harus mencangkup tiga perkara:

  1. Mencangkup segala macam dosa yang pernah dilakukan, sehingga tidak ada dosa pun melainkan sudah tercakup di dalamnya.
  2. Membulatkan tekad dan kemantapan hati secara menyeluruh, sehingga tidak ada lagi keragu-raguan dan penangguhan. Kehendak dan tekadnya harus dibulatkan seketika itu pula.
  3. Membebaskan taubat itu dari kekeruhan dan alasan-alasan tertentu yang bisa mengotori keikhlasan, hati didorong untuk takut kepada Allah semata dan mengharap apa yang ada di sisi-Nya, tidak seperti orang yang bertaubat karena hendak menjaga kedudukan, pangkat, dan harga dirinya, melindungi kekuasaan, kekuatan, dan hartanya, agar dipuji orang dan tidak tercela.

Yang pertama berkaitan dengan dosa yang dimntakan taubat. Yang kedua berkaitan dengan hati orang yang bertaubata dan jiwanya. Yang ketiga berkaitan dengan diri orang yang bertaubat.

[2] Dalam riwayat muslim disebutkan,

عن أبي حمزة أنس بن مالك الأنصاري _خادم النبي صلى الله عليه وسلم- رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلّى الله عليه وسلّم:”لله أشدّ فرحاً بتوبة عبده حين يتوب إليه، من أحدكم كان على راحلته بأرض فلاة، فانفلتت منه وعليها طعامه وشرابه فأيس منها، فأتى شجرة فاضطجع في ظلّها ، وقد أيس من راحلته، فبينما هو كذلك إذا هو بها قائمة عنده، فأخذ بخطامها ، ثمّ قال من شدة الفرح : اللهم أنت عبدي وأنا ربّك، أخطأ من شدّة الفرح”

Dari Abu Hamzah, Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu Al Anshary –pelayan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam- berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Sungguh Allah akan lebih senang menerima taubat hamba-Nya ketika ia bertaubat kepada-Nya daripada (kesenangan) seorang di antara kamu sekalian yang menunggang untanya di tengah padang luas yang sangat tandus, lalu unta itu terlepas membawa lari bekal makanan dan minumannya dan putuslah harapannya untuk memperoleh kembali. Kemudian dia menghampiri sebatang pohon lalu berbaring di bawah keteduhannya karena telah putus asa mendapatkan unta tunggangannya tersebut. Ketika dia dalam keadaan demikian, tiba-tiba ia mendapati untanya telah berdiri di hadapan. Lalu segera ia menarik tali kekang unta itu sambil berucap dalam keadaan sangat gembira, “Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Tuhan-Mu. Dia salah mengucapkan karena terlampau merasa gembira”. (HR. Muslim)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s