Aqidah

Haramnya Tathayyur (Merasa Sial)

Bahaya Tathoyyur

Tathayyur (perasaan sial) hukumnya haram dan bisa merusak tauhid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menafikan pengaruhnya, menjadikannya sebagai perbuatan syirik serta memberitahukan bahwa dia tidak akan mendatangkan sesuatu kepada orang muslim juga beliau menganggapnya sebagai jibt (sihir).

PERTAMA : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menafikan pengaruhnya, sebagaimana sabda beliau,

لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَلاَهَامَةَ وَلاَ صَفَرَ

“Tidak ada ‘adwa, thiyarah, hammah dan shafar.” (HR. al-Bukhari, 10/206 dan Muslim, no. 2220)

Adwa : Penjangkitan atau penularan penyakit. Maksud sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di sini ialah untuk menolak anggapan mereka ketika masih hidup di zaman Jahiliyah bahwa penyakit berjangkit atau menular dengan sendirinya, tanpa kehendak dan takdir Allah subhanahu wata’ala. Anggapan inilah yang ditolak oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bukan keberadaan dan penularannya, sebab dalam riwayat lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk menjauh dari orang yang terkena penyakit kusta (lepra) sebagaimana menjauh dari singa (HR. al-Bukhari), -pent. [1]

Hammah (burung hantu) : Orang-orang Arab menganggap bahwa tulang belulang seorang yang mati akan menjadi burung hantu kemudian bisa terbang. Mereka berkata bahwa orang-orang yang mati dibunuh akan keluar dari kepalanya burung hantu, kemudian burung hantu tersebut berkata, “Berilah aku minum, berilah aku minum.” [2]

Shafar : Mereka merasa sial dengan bulan Shafar. Atau mereka berihlal selama setahun dan berihram selama setahun. Kemudian Islam membatalkan semuanya. Atau ia sebuah penyakit yang menimpa perut dan beranggapan bahwa dia bisa menular.

KEDUA : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikan thiyarah sebagai perbuatan syirik. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، الطِّيَرَةُ شِرْكٌ.

“Thiyarah (kesialan) adalah syirik, thiyarah adalah syirik, thiyarah adalah syirik.” (HR. Abu Daud, no. 3910 di kitab al-Thibb, at-Tirmidzi, no. 1614 di dalam kitab al-Siyar dan berkata, “Hadits Hasan Shahih”)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu,

مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ عَنْ حَاجَتِهِ فَقَدْ أَشْرَكَ.

“Barangsiapa yang diurungkan dari hajatnya karena thiyarah (kesialan) maka dia telah melakukan kesyirikan.” (HR. Ahmad, 2/220, Ibnu as-Sunni, no. 287 dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam as-Silsilah ash-Shahihah, no. 1065).

Thiyarah dianggap syirik karena keyakinan mereka bahwa ia bisa mendatangkan manfaat atau menolak mudharat. Mereka seakan-akan menjadikannya sebagai sekutu Allah subhaanahu wata’ala. Keyakinan seperti ini bertentangan dengan firman Allah subhaanahu wata’ala,

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Yunus: 107)

Dialah Allah subhaanahu wata’ala yang memberi karunia dan menimpakan kemudharatan. Adapun seekor burung, maka ia tidak mengetahui sesuatu yang ghaib dan sedikit pun tidak bisa memberitahukan atas sesuatu yang tersembunyi. Imam Ibnul Qayyim berkata, “Thiyarah adalah merasa sial dengan sesuatu yang dilihat atau sesuatu yang didengar. Apabila seseorang memanfaatkannya sehingga ia mengurungkan diri dari kepergiannya atau tidak jadi melakukan sesuatu yang dia telah tekadkan sebelumnya, maka dia telah membuka pintu kesyirikan, bahkan telah memasukinya. Dia telah melepaskan diri dari tawakkal kepada Allah Subhaanahu Wata’ala dan membuka dalam dirinya pintu takut dan bergantung kepada selain Allah Subhaanahu Wata’ala.

Perasaan sial dengan apa yang dilihat dan didengar, akan memutuskan dari maqam (tingkatan):

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.” (Al-Fatihah: 5)

Juga firman Allah subhaanahu wata’ala,

فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ

“Maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya.” (Hud: 123)

Juga firman Allah subhaanahu wata’ala,

عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ

“Kepada-Nyalah aku bertawakkal dan kepada-Nyalah aku kembali.” (Asy-Syura: 10)

Hatinya akan senantiasa bergantung kepada selain Allah subhaanahu wata’ala dalam ibadah dan tawakkal. Ia akan merusak hatinya, imannya dan keadaannya serta akan menjadi sasaran dari panah kesialan, akan menuntunnya menuju pintu keraguan, dikuasai oleh setan yang akan merusak agama dan dunianya. Berapa banyak orang yang binasa karena sebab itu sehingga merugi di dunia dan akhirat.”

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin berkata, “Apabila seseorang merasa sial dengan apa yang dia lihat dan dia dengar, maka mereka tidak dianggap melakukan syirik yang dapat mengeluarkannya dari agama, namun dia syirik karena dia menjadikannya (perasaan sial) itu sebagai sebab yang tidak pernah dijadikan oleh Allah subhaanahu wata’ala sebagai sebab. Ini dapat melemahkan perasaan tawakkal kepada Allah Subhaanahu Wata’ala dan mengurangi semangat. Dari segi ini, maka ia dianggap syirik. Sebuah kaidah menyebutkan bahwa setiap orang yang bersandar kepada sebab yang syariat tidak pernah menjadikannya sebab, maka dia telah berbuat syirik.”

Syirik kepada Allah subhaanahu wata’ala semacam ini, bisa terjadi pada tasyri’ (penetapan hukum) apabila sebab tersebut adalah syariat, dan pada takdir apabila sebab tersebut adalah kauni (alami). Tetapi seandainya orang yang merasa sial ini berkeyakinan bahwasanya kesialan dengan sendirinya yang menjadikannya, bukan karena Allah subhaanahu wata’ala, maka dia telah melakukan syirik besar. Karena telah membuatkan untuk Allah subhaanahu wata’ala sekutu dalam penciptaan dan pengadaan.” (Al-Qaulul Mufid ‘Ala Kitabut Tauhid, 2/93).

KETIGA : Pemberitahuan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa at-thathayyur menafikan hakikat Islam dan dikhawatirkan kepada pelakunya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَطَيَّرَ أَوْ تُطُيِّرَ لَهُ، أَوْ تَكَهِّنَ أَوْ تُكُهِّنَ لَهُ، أَوْ سَحَرَ أَوْ سُحِرَ لَهُ، وَمَنْ أَتَى كَاهِنًا فَصَدَّقَ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَبِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

“Tidak termasuk golongan kami orang yang melakukan atau meminta dilakukan tathayyur, meramal atau minta diramalkan, menyihir atau meminta disihirkan. Barangsiapa mendatangi tukang ramal lalu mempercayai apa yang diucapkannya, maka sesungguhnya dia telah kafir (ingkar) dengan wahyu yang diturunkan kepada Muhammad.” [HR. al-Baz-zar. Al-Mundziri berkata, “Sanadnya baik” (Tar-ghib, 4/33). Al-Hafizh Ibnu Hajar juga menganggap baik sanadnya (Fathul Bari, 10/213). Ath-Thabrani meriwayatkan awal hadits dengan sanad yang hasan dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani di dalam Shahihul Jami’]

Dari Urwah bin Amir al-Qurasyi ia berkata, “Thiyarah disebutkan di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau kemudian bersabda,

أَحْسَنُهَا الْفَأْلُ وَلاَ تَرُدُّ مُسْلِمًا.

“Yang paling baik adalah optimis, Ia tidak akan mengurungkan (niat) seorang muslim.” (HR. Abu Daud di ath-Thib, no. 3919. Urwah bukan seorang sahabat. Hadits ini dishahihkan oleh Imam an-Nawawi di dalam kitab Riyadush Shalihin dan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab di dalam Kitabut Tauhid)

KEEMPAT : Pemberitahuan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya tathayyur termasuk sihir, sebagaimana sabda beliau,

الْعِيَافَةُ وَالطِّيَرَةُ وَالطَّرْقُ مِنَ الْجِبْتِ.

“Iyafah, thiyarah dan thurq termasuk sihir.” (HR. Ahmad, 3/477, Abu Daud, no. 3904 dengan sanad jayyid (baik) dan dihasankan oleh Imam an-Nawawi)

(Al-Jibt adalah sihir sebagaimana yang ditafsirkan oleh Umar bin Khattab. Iyyafah: menerbangkan burung dan optimis dengannya. Thurq: Memukul dengan tongkat, atau membuat garis di pasir sebagaimana yang dilakukan oleh tukang tenung untuk mengeluarkan sesuatu yang tersembunyi dan lainnya.)

Hal ini disebabkan karena orang yang melakukan kesialan bersandar kepadanya untuk mengetahui sesuatu yang ghaib sebagaimana yang dilakukan oleh tukang sihir yang bersandar kepada pembalikan hakikat sesuatu dengan sesuatu yang tersembunyi.

Sumber : alsofwah.or.id
Artikel elmuntaqa.wordpress.com

Catatan :

[1] Silahkan menyimak artikel Membela Hadits Nabi : Penyakit Menular – Antara Ilmu Hadits dan Ilmu Medis

[2] Tambahan dari ana (Esha Ardhie) : Ada penafsiran lain dari ulama mengenai Hammah. Sebagian orang Arab mengatakan bahwa Al-Hamah adalah jenis burung yang ma’ruf akan tetapi mereka menjadikan kesialan dengannya, maka jika burung itu hinggap di atas rumah salah seorang dari mereka dan burung itu bersuara, maka mereka berkata: Bahwa burung itu bersuara dengan suara seperti itu adalah tanda dekatnya ajal. Al-Hammah menurut penafsiran ini bisa dikategorikan sebagai bentuk tathoyyur. Dan tidak diragukan lagi bahwa kedua keyakinan ini adalah aqidah yang bathil. [Lihat Al-Qaulul Mufid Syarh Kitabit Tauhid 2/99]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s