Wanita dan Keluarga

Wanita Safar Tanpa Mahram

image

Oleh : Ustadz Abu Aniisah Syahrul Fatwa bin Lukman

Sesungguhnya pembahasan mengenai dunia muslimah pada zaman sekarang sangatlah penting. Wanita muslimah sekarang menghadapi ujian yang dapat menyebabkan hilangnya kemuliaan. Agama islam menjaga kehormatan muslimin ini serta menjaga masyarakat agar tidak jatuh ke dalam kehinaan. Di antara cara mewujudkan hal tersebut adalah larangan bagi wanita untuk berpergian jauh (safar) tanpa mahram. Ikuti dengan seksama kajian berikut ini. Allahul Muwaffiq.

WANITA YANG BERPERGIAN JAUH HARUS BERANGKAT BERSAMA MAHRAMNYA

Ini merupakan kekhususan bagi kaum wanita ketika hendak berpergian jauh. Mereka harus berangkat bersama mahramnya. Tidak dibolehkan seorang wanita berpergian jauh tanpa ditemani oleh mahramnya. Siapakah mahram bagi seorang wanita? Jawabannya :

MAHRAM SEORANG WANITA

Mahram seorang wanita adalah suaminya atau orang yang haram menikah dengannya seperti bapaknya, anaknya yang laki-laki atau saudara laki-laki sekandung.[1]

Syarat mahram adalah laki-laki yang berakal dan sudah baliq, karena tujuan mahram adalah untuk menjaga wanita dan hal ini tidak terwujud jika mahramnya masih kecil atau tidak berakal alias gila.[2]

Mahram yang sebenarnya dalam syari’at dilihat dari tiga sisi:

Pertama : Kekerabatan (ada tujuh)

1). Bapak, kakek, dan seterusnya ke atas, baik dari pihak bapak maupun ibu.

2). Anak, cucu dan seterusnya ke bawah, baik cucu dari anak laki-laki maupun anak perempuan.

3). Saudara kandung (sebapak dan seibu), saudara sebapak saja dan seibu saja.

4). Keponakan (anak saudara laki-laki sebapak dan seibu, saudara sebapak saja dan seibu saja).

5). Keponakan (anak saudara perempuan sebapak dan seibu, saudara sebapak saja, dan seibu saja).

6). Paman (saudara laki-laki bapak, mencangkup saudara sebapak dan seibu, saudara sebapak saja, dan seibu saja).

7). Paman (saudara laki-laki ibu, mencangkup sebapak dan seibu, saudara sebapak saja, dan seibu saja).

Kedua : Persusuan (ada tujuh)

Sama seperti poin pertama.

Ketiga : Pernikahan (ada empat)

1). Anak-anak suami dan seterusnya ke bawah, sama saja apakah itu anaknya juga ataupun anak tiri.

2). Mertua (bapak suami, kakek suami dan seterusnya ke atas mencangkup kakek dari sisi bapaknya maupun ibunya).

3). Menantu (mencangkup suami anak maupun suami cucu dan seterusnya ke bawah jika terjadi akad nikah, meskipun pernikahan mereka telah berakhir karena kematian, talak, maupun rusak akadnya, hubungan mahram tetap ada).

4). Suami ibu, suami nenek, dan seterusnya ke atas, menjadi mahram ketika telah berhubungan suami istri, tidak sekedar akad saja. Sehingga jika mereka bercerai sebelum berhubungan suami istri maka tidak ada hubungan mahram.[3]

BENTUK SAFARNYA WANITA

Pertama : Safar mubah (boleh) seperti melakukan perjalanan seperti rekreasi.

Kedua : Safar mustahab (yang dianjurkan), seperti melakukan perjalanan untuk mengunjungi orang sakit atau menyambung silaturrahmi.

Ketiga : Safar wajib seperti melakukan perjalanan untuk melaksanakan ibadah haji.

Imam al-Baghawi menuturkan “Para ulama tidak berbeda pendapat tentang ketidakbolehan seorang wanita melakukan perjalanan yang bukan wajib, kecuali harus disertai suaminya atau mahramnya. Kecuali bagi wanita kafir yang masuk islam kemudian ingin berhijrah dari negara kafir atau dia dalam keadaan ditawan musuh dan bisa lepas.”[4]

DALIL-DALIL YANG MELARANG WANITA SAFAR TANPA MAHRAM

Sangat banyak hadits-hadits yang melarang wanita berpergian seorang diri tanpa mahram. Larangan ini sifatnya mutlak baik untuk berpergian yang hukumnya boleh, dianjurkan, atau bahkan wajib. Di antara dalil-dalil tersebut adalah :

1). Hadits Ibnu Umar

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَا تُسَا فِرُ الْمَرْ أَ ةُ إِلَّا مَعَ ذِ يْ مُحْرَمٍ

Janganlah seorang wanita safar kecuali dengan mahramnya.“[5]

2). Hadits Abu Hurairah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ﻻَ ﻳَﺤِﻞُّ لِا ﻣْﺮَﺃَﺓٍ ﺗُﺆْﻣِﻦُ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺍﻟْﻴَﻮْﻡِ ﺍﻟْﺂﺧِﺮِ ﺃَﻥْ ﺗُﺴَﺎﻓِﺮَ مَسِيْرَةَ ثَلَا ثِ لَيَالٍ إِلَّا وَمَعَهَا ذُوْ مَحْرَمٍ

Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk safar selama perjalanan tiga malam kecuali bersama mahramnya.“[6]
ٌ
3). Hadits Ibnu Abbas

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ﻻَ ﺗُﺴَﺎﻓِﺮِ ﺍﻟْﻤَﺮْﺃَﺓُ ﺇِﻻَّ ﻣَﻊَ ﺫِﻱ ﻣَﺤْﺮَﻡٍ ﻭَﻻَ ﻳَﺪْﺧُﻞُ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ ﺭَﺟُﻞٌ ﺇِﻻَّ ﻭَﻣَﻌَﻬَﺎ ﻣَﺤْﺮَﻡٌ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺭَﺟُﻞٌ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺇِﻧِّﻲ ﺃُﺭِﻳﺪُ ﺃَﻥْ ﺃَﺧْﺮُﺝَ ﻓِﻲ ﺟَﻴْﺶِ ﻛَﺬَﺍ ﻭَﻛَﺬَﺍ ﻭَﺍﻣْﺮَﺃَﺗِﻲ ﺗُﺮِﻳﺪُ ﺍﻟْﺤَﺞَّ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺍﺧْﺮُﺝْ ﻣَﻌَﻬَﺎ

Janganlah wanita safar (bepergian jauh) kecuali bersama dengan mahramnya, dan janganlah seorang laki-laki menemuinya melainkan wanita itu disertai mahramnya.”

Maka seseorang berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku ingin pergi mengikuti perang anu dan anu, sedangkan istriku ingin menunaikan ibadah haji.”

Beliau bersabda, “Keluarlah (pergilah berhaji) bersamanya (istrimu).” [7]

Imam Ibnu Hazm rahimahullah berkata, “Sesungguhnya para ulama yang berpendapat melarang wanita berpergian tanpa mahram secara mutlak kecuali bersama suami atau mahramnya, mereka berdalil dengan hadits-hadits yang shahih, tidak halal untuk menyelisihinya kecuali ada dalil lain yang menjelaskan hukumnya.”[8]

Imam al-Khaththabi rahimahullah mengatakan, Hadits ini menjelaskan bahwa seorang wanita tidak diwajibkan menunaikan ibadah haji jika tidak mendapatkan mahram laki-laki yang dapat menemaninya berpergian.”[9]

Imam ash-Shan’ani rahimahullah berkata, “Hadits ini menjelaskan keharaman seorang wanita bepergian (safar) tanpa ditemani oleh mahram. Hal ini sifatnya mutlak, bail bepergian sebentar atau pun lama.”[10]

Jelaslah, bahwa adanya mahram bagi wanita adalah syarat mutlak yang harus dipenuhi ketika akan bepergian jauh. Demikian halnya dengan ibadah haji, tidak boleh seorang wanita berangkat haji kecuali bersama mahramnya, karena haji termasuk dalam kategori safar. Barangsiapa yang sudah punya bekal nafkah untuk haji, tetapi dia tidak mendapati mahram yang bisa menemaninya, maka haji tidak wajib baginya; dia termasuk orang yang tidak mampu. Inilah pendapat yang lebih mendekati kebenaran.[11]

Akan tetapi, bila seorang wanita tetap berangkat haji tanpa mahram, maka hajinya sah dan dia mendapat dosa karena bermaksiat dengan bepergian seorang diri tanpa mahram.[12]

KAPAN WANITA BOLEH SAFAR TANPA MAHRAM?

Hukum asal bagi seorang wanita adalah tidak boleh bersafar atau tinggal di suatu tempat yang jaraknya jarak safar, kecuali harus bersama mahramnya. Lantas kapan seorang wanita dibolehkan safar tanpa mahram?

Syaikh Ibnu Utsaimin berkata, “Semua safar walaupun jaraknya dekat, maka seorang wanita wajib ditemani oleh mahramnya, kecuali pada empat keadaan:

Pertama : Jika mahramnya meninggal ditengah perjalanan, sedang dia telah jauh meninggalkan tempat asalnya.

Kedua : Jika wanita itu wajib berhijrah.

Ketiga : Jika ia berzina sehingga dia dihukum dengan pengasingan (pengusiran), sedang dia tidak mempunyai mahram.

Keempat : Jika hakim mengharuskan untuk mendatangkan dia setelah tuduhan dijatuhkan kepadanya, sedang dia tidak berada di situ ketika itu.”[13]

KESIMPULAN

Tidak boleh seorang wanita bepergian jauh (safar) atau tinggal di suatu tempat yang jaraknya jarak safar, kecuali harus bersama mahramnya. Larangan ini bersifat umum, mencangkup wanita muda maupun tua, baik safarnya sebentar maupun lama. Dasarnya ialah keumuman dalil dalil yang telah kami sebutkan. Maka waspadalah, wahai ukhti muslimah, dari menerjang larangan ini. Ambilah jalan surgamu dengan menaati Allah dan Rasul. Semoga kita diberi keistiqamahan di jalan yang diridhai Allah subhanahu wa ta’ala dan diberi kekuatan untuk menapakinya. Allahu A’lam.

[Majalah Al-Furqon Edisi 04 Tahun Ketigabelas Dzulqadah 1434 H, halaman 70-72. Diterbitkan oleh Lajnah Dakwah Ma’had Al-Furqon al-Islami]

Disalin ulang oleh Esha Ardhie
Artikel elmuntaqa.wordpress.com

Catatan :

[1] al-Mughni, 3/238.

[2] al-Mufashshal, 2/174.

[3] http://nasihatonline.wordpress.com/2013/02/18/batasan-umur-diharamkannya-safar-wanita-tanpa-mahram/

[4] Fathul Bari, 4/76.

[5] HR. Bukhari: 1862, Muslim: 1341.

[6] HR. Bukhari: 1086, Muslim: 1338.

[7] HR. Bukhari: 1862.

[8] al-Muhalla, 7/27.

[9] Ma’alim as-Sunan, 2/144.

[10] Subulus Salam, 2/367.

[11] Lihat al-Mufashshal karangan Dr. Abdul Karim Zaidan 2/165-172, Jami’ Ahkam an-Nisa’ karangan Musthafa al-adawi 2/449-465, al-Ahkam al-Khashshah Bil Mar’ah karangan Sa’ad al-Harbi hlm 257-266, al-I’lam fi Ma Yakhushshu al-Mar’ah fil Hajj min Ahkam karya Yahya bin Ahmad hlm. 13-15, dll.

[12] Subulus Salam, 4/175.

[13] Al-Muntaqa min Fara’id al-Fawaid hlm. 44-45.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s