Fiqih

Disunnahkan Merenggangkan Kedua Tumit Ketika Sujud, Tidak Dirapatkan

image

Kedua Tumit Dirapatkan Saat Sujud?

Pertanyaan :

Apakah dalil tentang merapatkan kedua tumit ketika sujud, itu shahih?

08164632795

Jawaban :

Syaikh Bakar Abu Zaid hafizhahullahu Ta’ala berkata,

“Masalah yang kedua : Menggabungkan kedua tumit dalam sujud.

Masalah ini diberikan judul seperti ini, kadang dengan judul ‘Merapatkan kedua tumit dalam sujud,’ kadang dengan, ‘Mengumpulkan kedua tumit,’ dan kadang dengan, ‘Menggabungkan kedua kaki.’

Saya telah memeriksan ke sejumlah kitab yang masyhur dalam mazhab fiqhi yang empat mengenai keadaan kedua kaki ketika sujud, apakah dirapatkan atau dipisahkan. Akan tetapi saya tidak mendapatkan keterangan apa-apa dari mazhab Al-Hanafiah dan Al-Malikiah. Dalam mazhab Asy-Syafi’iyah dan Al-Hanabilah saya mendapatkan keterangan disunnahkannya memisahkan antara keduanya, dan Asy-Syafi’i menambahkan, ‘Dipisahkan dengan jarak sejengkal‘.

An-Nawawi rahimahullahu Ta’ala berkata dalam Ar-Raudhah (1/259), ‘Saya berkata: Ashhab kami (Asy-Syafi’iyah) berkata: Disunnahkan untuk memisahkan antara kedua kaki. Abu Ath-Thayyib berkata: Ashhab kami berkata: Jarak antara keduanya adalah sejengkal. [1]’ Selesai.

Adapun Al-Hanabilah, maka Al-Burhan Ibnu Muflih [2] rahimahullahu Ta’ala berkata dalam Al-Mubdi’ (1/457), ‘Antara kedua lutut dan kedua kakinya dipisahkan, karena jika beliau bersujud maka beliau memisahkan antara kedua pahanya. Sedangkan Ibnu Tamim dan selainnya menyebutkan bahwa beliau menggabungkan kedua tumitnya.’ Selesai.”

Kemudian beliau -hafizhahullah- menjelaskan lemahnya hadits Aisyah yang mendukung pendapat Ibnu Tamim dari sisi ilmu hadits, dan keterangannya bisa dilihat disini [3]. Kemudian beliau berkata,

“Kesimpulannya: Asal hadits Aisyah ini terdapat dalam Shahih Muslim dan selainnya tapi tanpa lafazh, ‘Merapatkan kedua tumitnya,’ dan hal ini tidak pernah disebutkan dalam hadits-hadits sahabat yang panjang lagi masyhur ketika mereka mengisahkan sifat shalat Nabi.

Lafazh ini, ‘Beliau merapatkan kedua tumitnya ketika sujud,’ adalah syadz, yang Ibnu Khuzaimah -dan yang meriwayatkan darinya seperti Ibnu Hibban dan setelahnya- bersendirian dalam meriwayatkannya. Keadaan lafazh ini seperti yang Al-Hakim katakan, ‘Saya tidak mengetahui ada seorang pun yang menyebutkan penggabungan kedua tumit dalam sujud kecuali apa yang terdapat dalam hadits ini,’ karena kalimat ini adalah hasil penelitian beliau yang menunjukkan syadz (menyendiri) dan mungkarnya lafazh ini.” Selesai.

[Selesai nukilan dari risalah Laa Jadida fii Ahkam Ash-Shalah hal. 65-74 dengan sedikit perubahan]

–oOo–

Judul Asli : Kedua Tumit Dirapatkan Saat Sujud?
Sumber : al-atsariyyah.com
Artikel elmuntaqa.wordpress.com

Catatan :

[1]. Rujuk Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab (3/373).

[2]. Wafat tahun 884 H.

[3]. Merapatkan Kedua Tumit Saat Sujud

ﻓَﻘَﺪْﺕُ ﺭﺳﻮﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭَﻛَﺎﻥَ ﻣَﻌِﻲ ﻋَﻠَﻰ ﻓِﺮَﺍﺷِﻲ. ﻓَﻮَﺟَﺪْﺗُﻪُ ﺳَﺎﺟِﺪًﺍ ﺭَﺍﺻَّﺎ ﻋَﻘِﺒَﻴْﻪِ ﻣُﺴْﺘَﻘْﺒِﻼَ ﺑِﺄَﻃْﺮَﺍﻑِ ﺃَﺻَﺎﺑِﻌِﻪِ ﺍﻟْﻘِﺒْﻠَﺔ

“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pergi dariku ketika saya sedang tidur bersamanya di atas tempat tidurku. Lalu saya menjumpai beliau dalam keadaan bersujud dengan merapatkan kedua tumit beliau, dan ujung jari-jari kaki beliau menghadap ke arah kiblat.”

Hadits ini diriwayatkan oleh: Ibnu Khuzaimah (654) dan dari jalannya: Ibnu Hibban (1933), Ath-Thahawi dalam Syarh Ma’ani Al-Atsar (1/234) dan Musykil Al-Atsar (hal. 111), Al-Hakim (1/228), Al-Baihaqi dalam Al-Kubra (2/116) dan Ibnu Abdil Barr dalam At-Tamhid. Semuanya dari jalan: Said bin Abi Maryam (dia berkata) Yahya bin Ayyub mengabarkan kepada kami (dia berkata) Umarah bin Ghaziyah menceritakan kepadaku (dia berkata) saya mendengar Abu Nadhrah (dia berkata), saya mendengar Urwah dia berkata: Aisyah berkata….

Yahya bin Ayyub -rahimahullah-, walaupun haditsnya diriwayatkan oleh ashhab as-sittah kecuali Al-Bukhari (beliau hanya meriwayatkan haditsnya sebagai pendukung), akan tetapi para imam jarh wat ta’dil berbeda pendapat tentangnya. Sebagiannya ada yang mentsiqahkan dan sebagian lagi ada yang melemahkannya, bahkan di antara mereka ada yang menjelaskan bahwa di dalam haditsnya ada ghara`ib dan manakir (hadits-hadits yang aneh lagi mungkar), sehingga harus dijauhi. Imam Ahmad menjelaskan alasan kenapa dia banyak bersalah dalam meriwayatkan hadits, “Dia menceritakan hadits dari hafalannya.” [Adh-Dhu’afa, hal. 211, karya Al-Uqaili]

Hadits ini adalah hadits yang mungkar, karena asal hadits Aisyah ini juga terdapat dalam Shahih Muslim dan yang lainnya, akan tetapi tidak ada penyebutan merapatkan kedua tumit. Dan ini menjadi indikasi yang kuat akan salahnya Yahya bin Ayyub dalam periwayatan hadits ini, tatkala para perawi lainnya tidak ada yang menyebutkan kalimat yang dia sebutkan. Lafazh yang diriwayatkan oleh para perawi selainnya adalah:

فَوَقَعَتْ يَدِي عَلَى بَطْنِ قَدَمَيْهِ

“Maka tanganku jatuh di atas kedua telapak kaki beliau.” [HR. Muslim: 1/352, Ahmad: 6/58, 201, Abu Daud: 1/547, An-Nasa`i: 1/102, Ad-Daraquthni: 1/143 dan Ibnu Abdil Barr dalam At-Tamhid: 23/349]

Dan dengan lafazh:

فَوَضَعْتُ يَدِي عَلَى قَدَمَيْهِ

“Maka saya meletakkan tanganku di atas kedua kaki beliau.” [HR. Malik: 1/214, At-Tirmidzi: 5/489, An-Nasa`i: 2/222, Ath-Thahawi dalam Syar Ma’ani Al-Atsar: 1/234 dan Al-Baghawi dalam Syarh As-Sunnah: 5/166]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s