Al-Qur'an dan Tafsir

Tafsir Ayat “Agar Allah Mengetahui Orang Yang Jujur Dan Yang Dusta”

image

Allah Ta’ala berfirman dalam sebagian ayat :

وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

“Sungguh telah kami uji orang-orang sebelum mereka, agar Allah mengetahui orang yang jujur dan mengetahui orang yang dusta.” (QS. Al-Ankabut: 3).

Apakah maknanya Allah baru mengetahui mana orang yang jujur dan yang dusta setelah terjadinya ujian? Apakah sebelumnya Allah tidak tahu mana orang yang jujur dan yang dusta? Bukankah Allah Maha Mengetahui?

Syaikh Abdurrahman bin Nashir Al Barrak ketika ditanya masalah ini beliau menjawab :

Di antara pokok keimanan adalah mengimani bahwa Allah mengilmui sesuatu sebelum terjadinya dan ilmu Allah itu meliputi segala sesuatu. Artinya Allah Ta’ala senantiasa mengetahui segala sesuatu terhadap semua makhluk yang sudah ada dan yang belum ada. Allah Ta’ala mengetahui yang sudah terjadi, yang sedang terjadi dan yang belum terjadi jika nantinya terjadi dan Allah mengetahui bagaimana terjadinya.

Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Sesungguhnya Allah mengetahui segala sesuatu.” (QS. At-Taubah: 115).

Ia juga berfirman :

إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

“Sesungguhnya Allah apa yang ada di dalam dada.” (Al-Imran: 119).

Banyak lagi ayat yang menunjukkan hal ini dalam kitabullah. Maka Allah Ta’ala mengetahui setiap apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Allah mengetahui apa yang disembunyikan oleh para hamba dan apa yang ditampakkan oleh mereka. Allah Ta’ala berfirman :

قُلْ إِنْ تُخْفُوا مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللَّهُ وَيَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Katakanlah : Jika kalian menyembunyikan apa yang ada di dalam dada kalian, atau kalian menampakkannya, maka Allah mengetahui semua itu. Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan Allah maha kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Imran: 29).

Jika anda sudah memahami hal ini, maka wajib anda mengetahui bahwa Allah mengetahui keadaan semua makhluk, mengetahui makhluk yang sudah ada yang yang belum ada. Allah mengetahui makhluk yang akan ada kelak. Dan ketika sesuatu itu ada, Allah sudah tahu sebelumnya bahwa sesuatu itu akan ada.

Maka ayat-ayat yang semisal ini :

فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

“..Agar Allah mengetahui orang yang jujur dan mengetahui orang yang dusta.” (QS. Al Ankabut: 3).

Juga firman Allah Ta’ala :

وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنْتَ عَلَيْهَا إِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلَى عَقِبَيْهِ

“Dan tidaklah Kami jadikan kiblat yang telah ada engkau atasnya, melainkan supaya Kami ketahui siapa yang mengikut Rasul dari siapa yang berpaling atas dua tumitnya.” (QS. Al Baqarah: 143).

Dan ayat-ayat semisalnya. Yaitu adalah ilmu Allah tentang orang yang jujur dan orang yang dusta, juga ilmu Allah tentang orang yang mengikuti Rasul-Nya dan orang yang berpaling di atas dua tumitnya, maksudnya yaitu ilmu yang muhaqqoq fi waqi’ (dibuktikan dengan fakta sebenarnya). Dan sungguh Allah telah mengetahui hal itu sebelumnya, dan Allah mengetahui bahwa hal itu akan terjadi.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala menguji para hamba dengan berbagai jenis cobaan, agar nampak hakikat dari hal ini, sehingga menjadi suatu perkara yang merupakan fakta. Sehingga setelah itu akan diberikan ganjaran dari amalan tesebut sesuai kadarnya. Ini adalah bentuk hikmah Allah Ta’ala. Ia mengaitkan ganjaran dan hukuman kepada hamba sesuai dengan fakta amalan yang ia lakukan. Allah tidak mengaitkan hukuman dengan semata-mata ilmu-Nya. Ini adalah bentuk keadilan Allah dan kesempurnaan hikmah-Nya. Karena Ia adalah Al Hakim dan Al ‘Alim. Baginya seluruh pujian yang diliputi pengagungan dan kecintaan. Wallahu a’lam [1].

Kesimpulannya, ilmu yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah ilmu yang terkait dengan kadar ganjaran dan hukuman terhadap amal seorang hamba. Karena Allah Ta’ala tidak menentukan kadar pahala atau kadar dosa sebelum amalan terjadi, atau hanya semata-mata mengaitkan kadar pahala atau kadar dosa dengan ilmu-Nya. Ini adalah bentuk keadilan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Catatan :

[1] Sumber: http://ar.islamway.net/fatwa/36963

–oOo–

Penulis : Yulian Purnama
Sumber : muslim.or.id
Artikel elmuntaqa.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s